Jhon: “Sebagai lulusan terbaik, saya punya tugas yang cukup berat”

JAKARTA. Dengan sedikit terharu, Jhon menerima piala dari panitia sekolah lapang Serikat Petani Indonesia (SPI). Jhon terpilih sebagai lulusan terbaik sekolah lapang pertanian berkelanjutan angkatan III. Jhon yang memiliki nama lengkap Jhontra Putra Effendi adalah kader SPI wilayah Sumatera Barat yang mengikuti sekolah lapang pertanian berkelanjutan di Pusdiklat SPI di Bogor selama lebih kurang dua bulan sejak April 2010 lalu.

Ketua Departemen Pendidikan Pemuda Budaya dan Kesenian SPI,  Syahroni menyatakan bahwa Jhon terpilih berdasarkan keaktifannya dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di Pusdiklat baik yang berupa materi teknis langsung di lapangan ataupun materi yang berupa dokumen-dokumen tertulis.

“Jhon, beserta para lulusan yang lainnya, diharapkan mampu menerapkan semua keterampilan yang telah diajarkan selama sekolah lapang ini. Setidaknya mereka mampu membangun demplot-demplot pertanian organik di wilayah mereka masing-masing, karena dengan semakin banyak demplot tersebut merupakan usaha untuk menekan perkembangan korporatisasi pangan dan pertanian yang semakin hari semakin menjadi ini” ungkap Syahroni pada saat acara wisuda sekolah lapang pertanian berkelanjutan SPI angkatan III di Bogor kemarin (15/06).

Jhon yang merupakan anak seorang petani tulen ini merasa bangga sekaligus bertanggung jawab untuk mempraktekkan semua ilmu yang telah didapatnya tersebut. Pria yang lahir 27 tahun yang lalu ini juga memberikan kredit yang cukup besar bagi program sekolah lapang SPI ini.

“Program ini bagus sekali karena memberikan kebutuhan instan kepada para petani untuk langsung terjun ke lapangan dan langsung mempraktekkan pertanian organik, yang ternyata cukup mudah, murah, serta mampu menghasilkan produksi panen yang tidak kalah dengan pertanian yang menggunakan bahan-bahan kimia” ungkap Jhon.

Jhon juga mengungkapkan bahwa selama mengikuti pendidikan ini dia mendapatkan begitu banyak pengalaman yang tak ternilai, mulai dari keramahan para pengurus SPI Bogor dan masyarakat sekitar Pusdiklat, hingga pengalaman dalam melakukan teknik-teknik pertanian organik.

“Cukup banyak kenangan dan pengalaman selama dua bulan di Pusdiklat ini, semua orang disini telah kami anggap keluarga, mulai dari teman-teman di Pusdiklat Bogor ini, para pengurus dan anggota SPI Bogor, hingga masyarakat sekitar pun sudah cukup dekat dengan kami semua, sehingga cukup berat untuk kembali ke kampung kami” kata Jhon.

Jhon menambahkan bahwa sebagai organisasi berbasis massa petani, SPI telah berhasil mengemban amanah untuk terus memperjuangkan para petani kecil dan mengembangkan keterampilan dan wawasan para anggotanya.

“Begitu saya sampai di kampung, saya akan mengelola lahan dan membuat demplot pertanian organik dan menerapkan sistem pemasaran produk hasil pertanian seperti yang diajarkan selama sekolah lapang yang lalu” tambah Jhon.

ARTIKEL TERKAIT
Petani Sedunia Tolak Pertemuan IMF - Bank Dunia di Bali, Okt...
Selamat Jalan, Pak Rujianto
SPI berikan studium general tentang bahaya WTO di UI SPI berikan studium general tentang bahaya WTO di UI
Kasus Kematian Petani Tebo: Negara Harus Hadir Kasus Kematian Petani Tebo: Negara Harus Hadir
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU