Kebijakan ketahanan pangan tidak dapat menjawab permasalahan krisis pangan dunia

Roma (15/11) Paralel dengan pertemuan pangan dunia (World Food Summit) FAO yang dihadiri lebih dari 60 kepala negara, sebanyak 600 orang dari seluruh dunia yang terdiri dari petani, masyarakat adat, nelayan, peternak, pemuda dan perempuan pedesaan berkumpul di Città dell’ Altra Economia (Kota Ekonomi Alternatif) di kota Roma untuk menyuarakan pendapat mereka yang akan dibawa dalam perundingan resmi FAO.

Pembukaan forum ini dihadiri oleh Walikota Roma dan Gianni Alemanno, Direktur Jendral FAO Jacques Diouf. Dalam pidato pembukaannya walikota Roma dengan tegas menyatakan bahwa pangan bukan merupakan komoditi dan bahwa kita harus memastikan sumber daya alam terdistribusikan merata untuk menjamin terpenuhinya pangan bagi seluruh penduduk dunia. Alemanno yang juga pernah menjabat sebagai menteri pertanian Italia menyatakan bahwa pertanian berkelanjutan merupakan jalan keluar dari krisis pangan dan iklim yang dihadapi penduduk dunia saat ini.

Sementara itu Direktur Jenderal FAO, Jacques Diouf menyatakan keresahannya terhadap krisis pangan yang terjadi saat ini. “Di tengah dunia dimana manusia mampu berjalan-jalan ke bulan, 1 dari 6 orang di dunia menderita kelaparan dan setiap 6 detik 1 bayi meninggal karena kurang gizi.” Diouf, menyatakan bahwa kebijakan pangan yang ada saat ini telah membuat petani-petani saling berperang satu sama lain, petani negara maju dengan petani di negara-negara berkembang demi keuntungan perusahaan-perusahaan agribisnis. FAO bukan penyebab dari krisis pangan yang terjadi saat ini menurut Diouf. Ia menyatakan bahwa FAO hanya menjadi kambing hitam dalam proses tersebut. Diouf juga menyinggung mengenai kecilnya pendanaan global yang ada saat ini untuk pangan dan pertanian. Saat ini dana yang tersedia menurutnya hanya 0,5 US$ per tahun bagi semua orang yang menderita kelaparan di dunia saat ini, hal ini jauh lebih kecil dari kriteria kemiskinan yang  2 US$ per hari. “Kalian lah, organisasi petani, gerakan masyarakat yang mampu membuat perubahan,” ujar Diouf yang mengundang semua orang untuk ambil bagian dalam aksi mogok makan yang dia lakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap orang-orang yang menderita kelaparan di seluruh dunia.

Henry Saragih, ketua umum SPI dan koordinator umum La Via Campesina mengingatkan bahwa sudah sejak awal Via Campesina menyatakan bahwa kebijakan ketahanan pangan tidak dapat menjawab permasalahan krisis pangan dunia. Sejak World Food Summite pertama pada tahun 1996 di Roma para petani telah menyampaikan bahwa hanya dengan diwujudkannya kedaulatan pangan lah dunia mampu untuk menghapuskan kelaparan sekaligus menghapuskan kemiskinan di pedesaan. Dan hal ini telah berulang kali disampaikan dalam berbagai forum sejak itu. Henry menyesalkan pidato Diouf yang terlalu menekankan hanya pada soal finansial saja, menurutnya permasalahan krisis pangan ini terkait dengan pengusaan sumber-sumber agraria dan model pertanian yang terlalu berpihak pada industri pertanian dan sistem agribisnis.

Pernyataan Henry ditegaskan kembali oleh Antonio Onoroti dari Komisi Persiapan untuk Kedaulatan Pangan (IPC) yang telah bekerja bertahun-tahun untuk memasukan kedaulatan pangan di dalam kebijakan pangan dunia. Antonio menyampaikan bahwa penyelesaian krisis pangan akan tercapai jika negara-negara melakukan perubahan mendasar dalam kebijakan pertanian mereka. Dan perlu bagi kita untuk medesakan ini dalam World Summit kali ini.

Narasumber

Henry Saragih (Ketua Umum SPI)
======
SERIKAT PETANI INDONESIA
Jl. Mampang Prapatan XIV No.5, Jakarta 12790
Telp. +62 21 7991890    Fax. +62 21 7993426
http://spi.or.id