Ketua Umum SPI: Laksanakan reforma agraria untuk mewujudkan kedaulatan pangan

Pesan perjuangan Ketua Umum (SPI) dalam peringatan Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2008

Saudara-saudari seperjuangan,
Hari pangan sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2008 tak pelak akan diperingati dengan suram di antara krisis pangan dan finansial yang sedang menghantam dunia. Hari ini, seharusnya merupakan hari yang dibangga-banggakan setelah World Food Summit 1996 menyatakan bahwa ketahanan pangan (food security) akan memecahkan masalah kelaparan dan malnutrisi di seluruh dunia. Tujuan ini diafirmasi ulang oleh Millenium Development Goals (MDGs), untuk mengurangi angka kelaparan hingga setengahnya pada tahun 2015.

Objektif dengan niat baik ini ternyata tidak tercapai. Hal ini disebabkan tiadanya perubahan fundamental pada mode produksi pertanian dan industrinya. Hal ini membuat pemerintah-pemerintah neoliberal dan lembaga-lembaga internasional yang mempromosikan objektif ini seharusnya malu. Gerakan petani internasional, La Via Campesina, telah menyatakan dengan tegas bahwa melalui sistem saat ini yang berasaskan pertanian masif, monokultur, berorientasi ekspor, dan padat modal—yang merupakan pengejawantahan ketahanan pangan—tidak akan berhasil mengatasi  masalah kelaparan dan malnutrisi di dunia. Sebaliknya, pertanian kecil berbasis keluarga, polikultur, berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan pangan lokal, dan padat karya—demi kedaulatan pangan (food sovereignty)—akan memecahkan masalah mendasar pertanian dan pangan. Selanjutnya, dengan mode produksi ini dan diikuti pelaksanaan reforma agraria sejati, pasti akan membantu menyelesaikan masalah pengangguran dan kemiskinan dengan cepat di daerah pedesaan-di seantero dunia.

Kepada seluruh rakyat Indonesia yang berjuang mempertahankan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya,

Serikat Petani Indonesia (SPI) akan selalu menjadi yang terdepan dalam reforma agraria sejati—yang dalam kerangka pertanian dan pangan menurut kami adalah redistribusi lahan-lahan produktif untuk petani kecil berbasis keluarga. Dalam kurun waktu 10 tahun sejak berdirinya SPI di tahun 1998, kami telah mengubah tanah absentee, perkebunan besar, dan lahan subur yang tidak digarap menjadi tanah rakyat, dikuasai secara adil dan berusaha dalam pemenuhan kebutuhan pangan lokal anggota organisasi kami. Di atas lahan itu, kami berproduksi secara giat untuk mempertahankan hidup dan menyejahterakan anggota keluarga dan masyarakat. Dalam kurun waktu 2007-2012, kami berencana untuk melaksanakan reforma agraria sejati dan mewujudkan 200,000 hektar lahan produktif untuk petani kecil berbasis keluarga di seluruh Indonesia.

Inilah hal-hal praktis sekaligus politis yang kami lakukan sebagai organisasi massa perjuangan petani. Dari ujung pantai Nanggro Aceh Darussalam hingga pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur, kami terus mengorganisasikan anggota kami dan aktif menuntut hak-hak asasi petani. Walaupun kebijakan pemerintah Indonesia belum berpihak kepada petani kecil hingga saat ini, kami yakin secara mandiri dan terorganisasi mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal melalui reforma agraria. Di tengah-tengah krisis pangan, petani-petani anggota kami yang sudah berproduksi di atas perjuangan reforma agraria bisa lepas dari pengaruh krisis pangan global. Kami yakin bahwa tidak hanya mengatasi krisis, apa yang kami perbuat adalah jalan baru, menuju masyarakat baru, yang adil dan sejahtera.

Saudara-saudari pemersatu bangsa, massa aksi yang terus menggelorakan aksi  massa,

Pada situasi yang suram ini, kami bersuara lantang kepada pemerintah Indonesia untuk segera mengejawantahkan tuntutan dan praktek-praktek reforma agraria sejati kami menjadi kebijakan yang berpihak kepada rakyat. SPI bersama elemen petani lain dari seluruh Indonesia akan melakukan aksi nasional dengan jumlah 15,000 petani di ibukota Jakarta, bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2008. ini memperlihatkan bahwa petani kecil dari seluruh Indonesia akan tetap bersatu di tengah cerai-berainya pemerintah neo-liberal dan perusahaan transnasional serakah yang hancur lebur karena krisis  pangan dan krisis finansial global.

Bersamaan dengan Hari Pangan Sedunia tahun 2008, di tingkat internasional SPI juga berkumpul bersama 600 delegasi lain dari seluruh dunia dalam Konferensi Kelima La Via Campesina. La Via Campesina telah aktif menyuarakan reforma agraria sejati, kedaulatan pangan dan hak asasi petani di tingkat global. Konferensi Kelima yang mengambil tempat di Maputo, Mozambik, Afrika, akan menjadi tindak lanjut persatuan yang sangat masif dari seluruh petani di dunia dalam usaha mengatasi krisis multidimensi yang meremukkan dunia saat ini. Pertemuan kami ini menjadi sangat penting, karena alternatif-alternatif yang kami usulkan dan sudah praktekkan adalah nyata-nyata langsung dari rakyat dan demi kemaslahatan banyak orang.

Untuk itu kami berseru kepada pemerintah Indonesia, dan seluruh elemen rakyat, untuk bergabung bersama kami dalam rangka mengatasi krisis multidimensi ini. Karena kami yakin bahwa kebenaran yang terorganisasi secara masif, kebenaran dari rakyat, akan mengalahkan kemungkaran yang terorganisasi secara masif, kemungkaran pemerintah negara-negara dan perusahaan-perusahaan transnasional yang serakah. Karena kita mampu, bila kita bersatu—bersatu dalam perjuangan bersama!

Maputo, 15 Oktober 2008

Henry Saragih
Ketua Umum SPI

ARTIKEL TERKAIT
3 petani Ujung Kulon kembali dikriminalisasikan 3 petani Ujung Kulon kembali dikriminalisasikan
Petani Bawang Tak Nikmati Kenaikan Harga
Aksi Petani SPI Peringati Hari Tani ke-58 di Berbagai Daerah
Rekayasa Genetika Tidak Bisa Meningkatkan Produksi Pangan
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU