
TUBAN. Fenomena El Niño yang memicu kemarau panjang dan krisis air tidak selalu berujung pada kegagalan panen. Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, petani Serikat Petani Indonesia (SPI) justru berhasil mengubah tantangan tersebut menjadi peluang ekonomi melalui budidaya blewah berbasis agroekologi.
Bertempat di Kawasan Daulat Pangan (KDP) Desa Senori, Kecamatan Merakurak, para petani memanfaatkan lahan kering seluas 30 hektar yang sulit ditanami padi akibat keterbatasan air. Alih-alih memaksakan pola tanam konvensional, para petani beradaptasi dengan memilih komoditas yang lebih sesuai dengan kondisi iklim ekstrem.

Proses tanam blewah dimulai pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026 lalu. Dengan masa tanam yang relatif singkat, petani sudah dapat memulai panen pada pertengahan Agustus 2026 ini.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Dalam waktu sekitar 45 hari, blewah sudah dapat dipanen dengan harga jual mencapai Rp12.000 per kilogram di tingkat petani, angka yang sebanding dengan harga melon di pasaran, namun dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah.

“Harga blewah saat ini sangat memuaskan. Biaya produksi dan perawatannya lebih efisien, serta lebih mudah disesuaikan dengan kondisi lahan kering,” ujar Sujono, salah seorang petani SPI Tuban.
Menurut Kusnan, Kepala Departemen Agroekologi dan KDP SPI, pilihan budidaya blewah ini bukan langkah spontan, melainkan bagian dari strategi adaptasi agroekologi dalam menghadapi krisis iklim.
“Salah satu pertimbangan utama adalah efisiensi penggunaan air. Tanaman blewah yang termasuk dalam famili Cucurbitaceae dikenal lebih tahan terhadap kondisi kering dan membutuhkan air jauh lebih sedikit dibandingkan padi. Di tengah mahalnya biaya irigasi akibat penggunaan pompa air secara intensif, komoditas ini menjadi pilihan yang rasional sekaligus strategis,” ujar Kusnan.

Kusnan juga menilai bahwa rendahnya biaya operasional menjadi faktor penting. “Dengan berkurangnya kebutuhan air dan input eksternal, petani dapat menekan pengeluaran produksi secara signifikan. Ditambah lagi, siklus tanam yang cepat memungkinkan petani meminimalkan risiko kerugian di tengah ketidakpastian musim,” ujarnya.
Lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, praktik budidaya blewah ini tetap dijalankan dalam kerangka agroekologi yang menjaga kelestarian lingkungan. Kusnan menegaskan bahwa pendekatan ini tetap memperhatikan kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem.
“Budidaya blewah secara agroekologi meminimalkan pembongkaran struktur tanah dan menekan penggunaan input kimia sintetis. Penggunaan mulsa organik dari jerami sisa padi membantu menjaga kelembapan tanah, sementara sisa biomassa blewah dikembalikan ke tanah untuk mempercepat pembentukan humus dan menjaga mikroorganisme tanah tetap aktif di masa kemarau,” jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, tanah tidak hanya tetap produktif di tengah musim kemarau, tetapi juga terus mengalami pemulihan secara alami. Hal ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap krisis iklim tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan.
Keberhasilan petani SPI Tuban ini menjadi bukti bahwa keterbatasan air tidak selalu menjadi hambatan, melainkan dapat diatasi melalui strategi pemilihan komoditas yang tepat dan pengelolaan lahan yang bijak. Agroekologi, dalam hal ini, tidak hanya menjadi metode bertani, tetapi juga menjadi jalan bagi petani untuk tetap berdaulat di tengah krisis.