Langkah Kecil Menjadi Petani Berdaulat

Wisnu di KompasKampung Lio, Desa Sirnajaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, bisa dibilang sebagai desa yang mencoba beralih. Sebagian warganya, terutama yang berusia muda, bekerja sebagai penyedia jasa wisata arung jeram. Namun, Wisnu Hermawan (31) dan sekelompok kecil warga tetap memilih jalan hidup sebagai petani.

Pada suatu siang, Wisnu sedang berkumpul bersama tiga petani di sebuah gubuk terbuka yang sebagian berdinding kayu. Mereka meminum teh dari cangkir bambu dan mengudap buah pepaya, getuk, serta penganan ringan lainnya dari singkong.

Di sekeliling gubuk itu tertanam kangkung dan sawi. Tidak jauh dari petak-petak sayuran itu, terdapat seonggok kompos dari kotoran hewan dan jerami yang terbungkus plastik. Tumpukan pupuk alami setinggi hampir 1 meter itu adalah bakal pupuk sebagai nutrisi tanaman mereka.

Wisnu dan kawan-kawan biasa berbincang soal pertanian dan tentu saja hal remeh-temeh lainnya di gubuk yang teduh itu. Di dindingnya terpasang papan tulis yang menunjukkan perkembangan tanaman, seperti usia tanam bayam dan padi. Ada pula tata cara pertanian alami dalam bahasa Inggris. Di salah satu sudut gubuk tersebut tampak pula poster yang menyerukan pemberdayaan perempuan petani.

Lahan yang mereka tempati itu sebelumnya adalah milik Perhutani yang digunakan oleh perkebunan karet PT Sugih Mukti Perkebunan Halimun. Namun, sejak 1998, hak guna usaha (HGU) lahan seluas lebih kurang 731 hektar itu telah usai.

Warga sekitar lalu memanfaatkan 380 hektar lahan tersebut, di antaranya untuk bertani dan bercocok tanam berbagai jenis tanaman. Sisa lahan dipakai pemerintah untuk membangun beberapa fasilitas, seperti penjara, sekolah, dan pasar.

”Pola pertaniannya masih menggunakan penyubur kimiawi. Sepanjang tahun, tanah ini ditanami terus-menerus tanpa ada masa rehat,” kata Wisnu.

Akibat pola pertanian seperti itu selama 10 tahun, tanah di kawasan tersebut seolah kelelahan. Kesuburannya berkurang sehingga hasil panen tidak maksimal. Pada 2008, Serikat Petani Indonesia (SPI) mendatangi petani Kampung Lio untuk menjaga kelestarian tanah dan menjadi petani yang berdaulat. Wisnu adalah salah seorang petani muda yang bergabung di serikat itu.

Saat itu, Wisnu baru coba-coba menjadi petani. ”Sebelumnya, ya, cuma nongkrong sana-sini. Akhirnya saya mencoba bertani,” kataWisnu yang tidak menamatkan pendidikan di STM Teknika Cisaat, Sukabumi. Sebelum mencoba menjadi petani, ia pernah bekerja dengan membengkel, tetapi merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu. ”Bengkel bukan bidang saya,” katanya berdalih.

Pertukaran petani

Bergabung bersama serikat petani, Wisnu dapat kesempatan ikut pelatihan pertanian di sejumlah kota. Namun, pelatihan yang paling membanggakannya adalah ikut pertukaran petani ke Karnataka, Bangalore, India, akhir tahun 2011. ”Wisnu cepat memahami materi yang ia dapat di India karena sehari-harinya memang bertani,” kata Rahmat Hidayat, anggota staf Departemen Penguatan Organisasi DPP SPI, yang mendampingi Wisnu ke India.

Wisnu-Karnataka

Dua pekan mengikuti program pertukaran petani itu membuat Wisnu semakin fasih dengan pola pertanian alami. Ia makin memahami praktik pertanian alami minim biaya (zero budgeting agriculture). Model bertani tersebut mengandalkan bahan-bahan alami yang umum ditemui di sekitar ladang, misalnya kotoran sapi dan kambing, untuk pupuk.

”Kalau kehabisan bahan baku kompos, kami berkeliling mendatangi pemilik ternak, sampai ke kampung tetangga, untuk meminta kotoran ternak. Setelah terkumpul, baru diproses menjadi kompos di sini,” katanya.

Bahan itu dicampur dengan jerami dan dedaunan kering, ditumpuk selama dua bulan, dan diaduk setiap dua minggu sekali.

Untuk menyuburkan padi, para petani mencampur pepaya atau pisang dengan air cucian beras, lalu disemprotkan ke bulir padi. Selain itu, juga menanam pohon ki hujan (Samanea saman) di tepi Kali Cilandak yang bersebelahan dengan sawah sebagai tanaman pagar. Pohon itu menghasilkan nitrogen untuk menyuburkan tanah.

Pemakaian bahan alami itu membuat petani tak perlu bergantung pada mekanisme harga pupuk produksi pabrik. Itu adalah salah satu bentuk kedaulatan mereka. Wujud lain, petani menanam sayur-mayur dan buah-buahan di sekitar rumah dan sawah mereka.

Masa tanam hingga panen dengan pola pertanian alami itu sedikit lebih lama dibandingkan dengan cara bertani yang mengandalkan pupuk kimiawi. Padi, misalnya, baru bisa dipanen setelah berusia 40 hari atau 10 hari lebih lama daripada biasanya. Tanaman palawija juga baru bisa dipanen lima hingga sepuluh hari lebih lama.

Pola pertanian yang ia ajarkan memicu kontroversi juga. Banyak petani yang seolah sudah ”dimanjakan” produk pabrik. Mereka seperti enggan kembali ke cara bertani kuno.

Dari 731 hektar sisa HGU, petani berusaha mengambil klaim 380 hektar untuk ditanami. Ada sekitar 1.040 keluarga yang menyandarkan hidup mereka pada pertanian di lahan itu. Seluas 80 hektar di antaranya ditanami padi, 200 hektar untuk tanaman singkong, serta sisanya berupa tanaman palawija dan kacang-kacangan.

Kunjungan La Via Campesina ke petani SPI di Warung Kiara Sukabumi

Dari 380 hektar yang ditanami itu, memang baru sekitar 1,8 hektar yang menerapkan pola pertanian alami. Namun, selalu ada langkah kecil sebelum berlari. Langkah itu sudah dimulai oleh Wisnu dan kawan-kawan di Kampung Lio. Pertengahan Mei lalu, organisasi petani internasional La Via Campesina menghargai langkah itu dengan membawa seratusan petani dari seluruh dunia ke Kampung Lio, Sukabumi.

 

*Disadur dari artikel dengan judul dan isi yang sama yang diterbitkan di Harian Kompas, Jumat 26 Juli 2013 dengan perubahan seperlunya

ARTIKEL TERKAIT
Eskavator Perkebunan Kembali Rusak Lahan Warga
Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai cabut tanaman kopi rakyat Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai cabut tanaman kopi rakya...
Pengukuhan Doktor Honoraris Causa Gunawan Wiradi Pengukuhan Doktor Honoraris Causa Gunawan Wiradi
CEPA Indonesia-Uni Eropa: Mengulang Kesalahan ACFTA?
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU