Lebih dari 100 ribu orang protes UNFCCC di Kopenhagen

CIMG1597KOPENHAGEN. Lebih dari 100 ribu orang tumpah ruah ke jalanan untuk menyatakan protes terhadap pertemuan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang ditengarai telah mengkomersialisasikan upaya penyelamatan iklim (12/12). Demonstran menuntut penegakkan keadilan iklim dalam upaya penyelamatan krisis iklim. Mereka meminta penyelamatan krisis iklim tidak diserahkan kepada mekanisme pasar yang terlihat dari adanya upaya penciptaan pasar karbon seperti tercermin dalam program Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries (REDD).

“Our climate is not your bussines, climate justice now!” demikian tuntutan para demonstran yang melakukan longmarch dari depan gedung parlemen Kopenhagen ke tempat pertemuan UNFCCC di Bella Center.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) yang juga merupakan Koordinator Umum La Via Campesina, sebuah gerakan petani internasional, Henry Saragih menilai pertemuan UNFCCC telah salah arah dan mustahil bisa menyelematkan krisis iklim. Pendapat yang mengemuka di forum UNFCCC tidak mencerminkan upaya serius untuk menangani krisis iklim yang terjadi saat ini.

Sebagai contoh, Henry melihat program REDD yang saat ini diperbincangkan di forum UNFCCC hanyalah salah satu cara negara-negara maju untuk berkelit dari tanggung jawab terhadap upaya pengurangan emisi. Pada hakikatnya industri di negara-negara maju hanya membayar sejumlah kompensasi kepada pemilik hutan di negara-negara berkembang agar melestarikan hutan-hutannya. Hal ini dimungkinkan dengan adanya mekanisme tukar guling karbon seperti yang tertera dalam REDD. Sedangkan, emisi global yang dihasilkan industri itu sendiri tetap tak berkurang. Alhasil, pengurangan emisi global yang ditargetkan UNFCCC tidak akan pernah tercapai.

Untuk keluar dari krisis iklim ini, Henry menilai harus ada perubahan sistem. Corak kapitalistik yang tercermin dari upaya penciptaan pasar karbon tidak bisa diandalkan untuk menjawab permasalahan ini. Dalam bidang pertanian misalnya, harus ada perubahan sistem dari pertanian industrial yang membutuhkan input luar tinggi menjadi pertanian berwawasan agroekologi.

Hingga saat ini, sektor pangan dan pertanian menyumbangkan emisi gas rumah kaca dunia yang sangat signifikan. Sistem pertanian industrial yang membutuhkan input tinggi dan penurunan kemampuan ekologi tanah akibat metode bertani yang eksploitatif telah meningkatkan emisi gas rumah kaca dalam kegiatan pertanian. Corak pertanian industrial yang berorientasi pada ekspor dan pemenuhan pasar global telah memboroskan emisi lewat sistem transportasi jutaan ton bahan pangan yang dipindahkan dari satu belahan bumi ke belahan bumi lainnya.

La Via Campesina sebagai organisasi gerakan petani internasional mengajukan proposal pertanian berkelanjutan berbasis keluarga petani. Hanya dengan metode pertanian berkelanjutan emisi yang dihasilkan sektor pertanian dan pangan bisa dikurangi. Selain itu, konsep kedaulatan pangan harus benar-benar ditegakkan. Produksi pangan harus ditujukan pada pemenuhan pasar domestik terlebih dahulu dan bukan berorientasi ekspor dan pemenuhan pasar global. Oleh karena itu, pertanian tidak bisa diserahkan pada sistem kapitalisme global lewat perusahaan-perusahaan agribisnis transnasional. Tetapi harus dijalankan oleh sistem pertanian keluarga yang lebih ramah lingkungan.

La Via Campesina memobilisasi 150 petani anggotanya untuk menyatakan protes di pertemuan UNFCCC di Kopenhagen. Beberapa diantaranya datang dari kawasan asia tenggara, termasuk Indonesia, dimana dampak pemanasan global sangat terasa sangat signifikan.

Penangkapan aktivis
Dalam demonstrasi ini, polisi setempat sempat menangkap 900 aktivis yang diduga melakukan vandalisme saat berdemonstrasi. Atas kejadian tersebut perwakilan dari para pengunjuk rasa menyatakan solidaritasnya, karena banyak dari aktivis yang ditangkap tidak melakukan tindak vandalisme. Polisi dinilai terlalu paranoid menghadapi para demonstran sehingga tidak bisa memilah-milah pihak yang melakukan vandalisme dan aksi damai.

Hal ini sangat disayangkan mengingat reputasi baik Denmark sebagai salah satu anggota Uni Eropa yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Namun pada kesempatan kali ini, polisi Denmark bertindak serampangan dan tanpa perhitungan.

La Via Campesina menghimbau agar para pemrotes tidak terpropokasi oleh reaksi aparat setempat. Demonstrasi harus tetap difokuskan pada isu utama yakni pembahasan perubahan iklim di forum UNFCCC.


Catatan:

La Via Campesina adalah gerakan petani internasional yang beranggotakan 70 negara. Organisasi ini merupakan wadah bagi organisasi petani kecil dan buruh tani. Serikat Petani Indonesia (SPI) merupakan anggota dari La Via Campesina.

Narasumber:
Henry Saragih
Koordinator Umum La Via Campesina dan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia

====
SERIKAT PETANI INDONESIA
Jl. Mampang Prapatan XIV No.5, Jakarta Selatan 12790
Telp. +62 21 7991890  Fax. +62 21 7993426
www.spi.or.id