Naskah deklarasi petani perempuan Asia Selatan, La Via Campesina

Deklarasi Petani Perempuan Asia Selatan La Via Campesina

Hari Perempuan Sedunia, Nepal 8 Maret 2010

Kami, para perempuan Asia Selatan dari gerakan petani La Via Campesina, dari Bangladesh, India, Sri Lanka, Nepal dan Indonesia dan Korea, berkumpul di hari perempuan sedunia di Kathmandu, Nepal untuk meminta pengakuan dan menuntut hak-hak kami serta penolakan terhadap sistem patriarki.

Kami dengan tegas sangat menolak sistem kapitalis neoliberal yang didasarkan pada kekerasan dan marjinalisasi dari sebagian orang yang mendapatkan keuntungan. Sistem ini menyebabkan masyarakat tergusur dari tanah miliknya, privatisasi benih lokal, air, dan pendidikan, hal tersebut mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati dan militerisasi tanah kami. Perlawanan kami untuk memperjuangkan hak-hak  dan keadilan  sedang ditekan oleh pemerintah sebagai pelayan dari kekuatan neoliberal dengan menggunakan pasukan keamanan negara (militer). Sistem ini menyebabkan kelaparan ekstrim, kemiskinan, dan migrasi. Efek dari sistem ini mengarah pada eksploitasi dan perdagangan perempuan. Perempuan menghadapi beban besar untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan dan. Perempuan semakin terpinggirkan di keluarganya, kurangnya pengakuan hak-hak dan diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Kami menyadari  bahwa kekerasan terhadap perempuan masih tetap ada di beberapa sektor. Masih terdapat kekerasan yang diakibatkan oleh ketergantungan ekonomi dan kurangnya hak-hak perempuan dalam masyarakat. Kekerasan fisik dan psikologis juga tertanam dalam budaya dan agama, seperti perkawinan di bawah umur, sistem dowry (pembayaran mahar oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki dalam melangsungkan perkawinan yang lazim terjadi di India dan Bangladesh), pembunuhan karakter perempuan, pengasingan, beberapa makanan yang dilarang dan lain sebagainya. Perempuan juga tidak maksimal berpartisipasi dalam pengambilan keputusan baik di rumah atau dalam kehidupan publik serta di dalam pemerintahan dan gerakan sosial. Untuk mencapai masyarakat yang sama, ketidakadilan tersebut tidak dapat diterima.

Oleh karena itu pada kesempatan hari perempuan ini, kami telah memutuskan menyatukan usaha untuk memperjuangkan masyarakat yang didasarkan pada perdamaian dan bermartabat bagi semua.

Kami petani perempuan Asia Selatan menegaskan komitmen kami sebagai berikut:

  1. Melanjutkan perjuangan melawan patriarki dan neoliberalisme
  2. Mengutuk semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan berkomitmen untuk memecahkan budaya keheningan yang melingkupi kekerasan terhadap perempuan.
  3. Meningkatkan pendidikan dan kesadaran di antara perempuan dan laki-laki tentang penyebab kekerasan dan mencari solusi bersama untuk memecahkannya.
  4. Menekan pemerintah untuk melaksanakan hukum yang efektif, untuk mencapai kesetaraan gender.
  5. Menekan pemerintah untuk menghukum pelaku pemerkosaan, pembunuhan akibat sistem dowry, dan pembunuhan bayi perempuan.
  6. Menghormati hak-hak reproduksi perempuan.
  7. Kekuasaan dalam pengambilan keputusan yang sama pada perempuan di semua tingkat, mulai dari rumah hingga ke tingkat nasional terutama dalam gerakan dan organisasi.
  8. Persamaan hak atas properti dan akses terhadap sumber daya produktif seperti tanah, air dan benih.
  9. Mempromosikan petani berbasis agroekologis yang dengan metode pertanian berkelanjutan dan larangan penggunaan teknologi revolusi hijau seperti GMO (Genetically Modified Organism-bibit rekayasa genetik). Sistem pertanian tersebut adalah satu-satunya solusi untuk perubahan iklim dan pengakuan peran petani sebagai penjaga benih, air, tanah dan keanekaragaman.
  10. Menunjukkan solidaritas dengan saudara kita di daerah konflik. Perempuan lebih rentan terhadap kekerasan dan menanggung beban dan risiko yang tidak semestinya. Program perlindungan khusus harus dibuat untuk menangani isu-isu perempuan di daerah konflik.
  11. Memberikan kesempatan bagi pemuda untuk melanjutkan kehidupan yang bermartabat didasarkan pada pertanian dan memiliki kebanggaan dalam budaya petani. Pertanian adalah budaya dan mata pencaharian mayoritas orang Asia Selatan, tetapi kami dipaksa untuk pindah ke kota-kota dan meninggalkan pertanian kami dan masyarakat kami.
  12. Upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. Hal ini tidak dapat diterima bahwa perempuan yang dibayar lebih rendah ketika mereka bekerja setara dengan laki-laki. Perempuan memiliki lebih banyak tanggung jawab untuk kesejahteraan keluarga mereka dan rumah tangga.
  13. Memberikan dukungan (dan tidak memberikan kutukan) terhadap perempuan  yang dipaksa menjadi pekerja seks baik secara budaya dan ekonomi untuk mencari keamanan, dan bermartabat untuk mendapatkan alternatif kesempatan kerja.
  14. Kedaulatan pangan, hak asasi petani dan akses yang sama untuk tanah. Hal Ini mutlak diperlukan untuk petani dan budaya masyarakat berdasarkan keadilan,  kedamaian dan memiliki martabat.

Globalize Hope! Globalize Struggle! Globalisasikan Harapan! Globalisasikan Perjuangan!