NTP Bulan Puasa 2014: Petani Tanaman Pangan dan Hortikultura Masih Suram di Tengah Meningkatnya Konsumsi Pangan

JAKARTA. Bulan puasa tahun ini rupanya belum menjadi berkah bagi petani tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini ditegaskan dalam laporan bulanan Nilai Tukar Petani (NTP) bulanan dari Badan Pusat Statistik (04/08/2014). Setelah mengalami kenaikan pada bulan Juni (98,22), NTP tanaman pangan mengalami penurunan selama bulan Juli (98,04). Kedua nilai NTP itu – masih stabil di bawah 100 – menunjukkan rendahnya kesejahteraan petani tanaman pangan. Nasib yang sama juga dialami oleh petani hortikultura (lihat grafik).

ntp pangan

Sementara itu, tingkat kenaikan harga atau inflasi pedesaan pada bulan Juni hingga Juli masing-masing adalah sebesar 0,72 dan 0,82. Di samping itu, harga penjualan gabah kering petani (GKP) dan gabah kering giling (GKG) pada bulan Juli juga mengalami penurunan. Rata-rata harga GKP sebesar Rp.4097,92 per kg dan harga GKG sebesar Rp. 4171,76. Peningkatan konsumsi dua subsektor pertanian memang meningkat terkhusus di bulan puasa Ramadhan, namun sayangnya kenaikan konsumsi tersebut dibarengi dengan peningkatan harga kebutuhan hidup, khususnya di pedesaan.

Menurut Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih, tren tersebut menjadi bukti kehidupan petani tanaman pangan dan hortikulura masih cukup suram. Oleh karena itu, Henry menyampaikan, merupakan suatu kewajaran jika selama 10 tahun terakhir (2003-2013) rumah tangga pertanian menurun sebanyak 5,04 juta keluarga tani dari 31,17 juta keluarga per tahun 2003 menjadi 26,13 juta keluarga per tahun 2013.

“Kondisi ini menjadi PR berat bagi presiden pemenang Pilpres 2014 untuk mencerahkan masa depan petani tanaman pangan melalui penerapan UU No.41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan dan Program Pembaruan Agraria Nasional yang akan membagi 9,2 juta hektar lahan kepada petani kecil,” kata Henry di Medan pagi ini (05/08).

Sementara itu, penurunan NTP tanaman hortikultura lebih disebabkan oleh turunnya harga sayur-sayuran, khususnya harga cabe yang turun harganya hingga Rp.2000 – 4000 di tingkat petani pada awal-awal bulan Juli.

“Hal ini juga jadi PR berat bagi presiden pemenang Pilpres 2014 untuk menciptakan iklim usaha pertanian dan perdagangan hasil pertanian  yang kondusif dan memberi keuntungan bagi petani. Tidak saja dari sisi pengendalian harga baik karena pada saat panen atau gagal panen maupun pada saat godaan impor pangan. Karena itu menjadi hal yang sangat baik bila pemerintah mengambil pelajaran dari India yang dengan gigih mempertahankan subsidi pangan dan membuat perundingan menjadi gagal pada sidang WTO 31 Juli kemarin,” papar Henry.

NTP Perkebunan

Berbeda dengan NTP Pangan dan Hortikultura, NTP tanaman perkebunan mengalami kenaikan pada bulan Juli 2014 dari 102,29 ke 102,45. Dari Laporan BPS, peningkatan NTP ini terutama disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima dari tanaman Kelapa dan Kakao. Mungkin kelapa juga menjadi salah satu primadona komoditas konsumsi bulan puasa, sementara kakao tetap menjadi komoditas untuk industri coklat yang pasarnya senantiasa cenderung stabil.

“Meski demikian tentu menjadi hal yang positif, bila petani kakao juga mendapat nilai tambah dari rantai nilai tanaman coklat melalui pengembangan industri coklat milik petani,” tambah Henry.