Menyambut May Day 2009: Buruh dan tani bersatu melawan neoliberalisme

May day 2009 sebentar lagi akan dirayakan oleh seluruh kaum buruh dari berbagi belahan bumi. May day kali dilaksanakan di saat dunia menghadapi krisis kapitalisme global. Situasi tersebut disebabkan kebijakan ekonomi yang dilasanakan selama ini mengandalkan mekanisme pasar yang liberal, dimana setiap sektor perokomian terkoneksi satu sama lainnya. Krisis yang terjadi pada lembaga keuangan di Amerika Serikat yang berdampak bagi perekonomian secara menyeluruh. Karena sifat dasar kapitalisme adalah predator dan terkoneksi secara global, maka krisis yang terjadi di Amerika dengan cepat merembet dan memakan korban ke daratan Eropa, Australia, Asia dan belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia.

Pemutusan hubungan kerja semakin menyebar ke seluruh dunia disebabkan oleh deindustrialisasi dan turunnya daya serap produk. Jumlah ekspor yang menurun tidak hanya karena turunnya permintaan tetapi juga aksi setiap negara untuk mengetatkan impor untuk menyelamatkan ekonomi negaranya masing-masing. Aliran pelarian modal semakin besar karena investor asing ingin menyelamatkan kebutuhan likuiditas di negara asalnya. Depresiasi mata uang, krisis nilai tukar, dan tekanan inflasi memperbesar efek krisis yang dirasakan negara-negara berkembang.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada bulan oktober 2008 mengeluarkan rilis bahwa jumlah pengganguran akan meningkat setidaknya hingga akhir tahun 2009 akan mencapai 210 juta orang. Artinya dalam dua tahun sejak 2007 akan tercipta penganguran baru sebanyak 20 juta orang, menyusul yang 190 juta yang sebelumnya sudah menganggur. Artinya, akan ada 834.000 penggangguran baru per bulan atau 27.397 orang per hari.

Di Indonesia, per 28 Nopember 2008 ini saja sudah ada 16. 988 orang yang di PHK dan 23.927 orang yang akan di PHK. Sementara itu terdapat 6.597 orang yang sudah dirumahkan dan 19.091 orang yang akan dirumahkan. Kemudian membengkak per maret 2009 menjadi 37.909 orang yang terkena PHK. Data lain menyatakan sampai Maret sudah ada 240.000 orang yang kena PHK. Hal ini terjadi pada sektor-sektor usaha yang penting dan bersifat padat karya, seperti tekstil dan garmen sebanyak 100.000 orang, sepatu (14.000), mobil dan komponen (40.000), konstruksi (30.000), kelapa sawit (50.000), serta pulp and paper (3.500). Belum lagi sudah dipastikan akan ada 100 ribu buruh migran Indonesia akan dipulangkan dari Malaysia akibat bangkrutnya industri manufaktur disana. Sebagian besar buruh migran tersebut berasal dari pedesaan Jawa, Nusa Tenggara dan Sumatra.

Keadaan tersebut diperparah dengan adanya sejumlah peraturan perundangan yang tidak memihak rakyat seperti UU Serikat Pekerja No.21/2000, UU Ketenagakerjaan No.13/2003, UU PPHI No.2/2004, UU Penempatan & Perlindungan TKI No.39/2004, UU Penanaman Modal No.25/2007. Kemudian diterbitkannya Peraturan Bersama 4 Menteri semakin mengukuhkan bahwasanya posisi buruh sebagai salah satu tulang punggung perekonomian bangsa masih selalu saja dikorbankan dan semakin terlihat bahwa parpol, parlemen, pemerintah dan pengadilan memandang tenaga kerja Indonesia bukanlah sumber daya nasional.

Di lapangan pertanian, buruh tani dan buruh perkebunan mengalami nasib yang lebih parah lagi. Perkembangan peningkatan luas perkebunan kelapa sawit yang mencapai 218% untuk tiap tahunnya. Kami menilai bahwa perkebunan tersebut hanya digunakan sebagai mesin penghasil uang bagi segelintir perusahaan saja. Dari total luas lahan sawit yang ditanami sebesar 5,5 juta hektar sebanyak 4 juta hektar (67 persen) dikuasai oleh perusahaan swasta sementara sisanya dikelola oleh perkebunan-perkebunan kecil berbasis keluarga tani. Sejak lama agribisnis sawit telah menggusur perkebunan-perkebunan rakyat dan menjadikan masyarakat petani menjadi buruh tani di perkebunan-perkebunan tersebut. Mereka hidup dengan standar yang sangat minimal. Dengan sistem kontrak harian posisi buruh perkebunan ini sangat lemah berhadapan dengan perusahaan. Kebutuhan hidup akan pangan, perumahan yang layak, kesehatan dan pendidikan bagi para buruh perkebunan ini sangat memprihatinkan.

May Day kali ini harus dijadikan agenda aksi bersama seluruh rakyat pekerja (buruh, tani, nelayan, pekerja hukum, pengangguran, sektor informal dan lain-lain) berserta para mahasiswa dan pengusaha kecil yang nasionalis, demokratik, dan populis sebagai ajang konsolidasi nasional, konsolidasi demokrasi, dan konsolidasi kerakyatan. Untuk memperjuangkan kesejahteraan buruh dan buruh tani tak ada jalan lain kecuali kekuatan rakyat harus bersatu. Sudah saatnya rejim neoliberal kita lawan bersama-sama sehingga kualitas perlawanan kita semakin baik dan massif. Karena itu, dalam Mayday 2009 ini Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama dengan gerakan rakyat lainnya yang tergabung dalan Gerakan Rakyat Melawan NeoKolonialisme dan NeoImperialisme (Gerak – Lawan) menyerukan untuk:

  1. Membangun persatuan gerakan buruh dan tani yang solid untuk melakukan perlawanan terhadap rejim neoliberalisme dan imperealisme

  2. Melaksanakan pembaruan agraria sehingga tercipta ruang kerja yang layak bagi kaum tani sehingga bisa berproduksi dengan baik untuk mengembangkan industri pedesaan.

  3. Cabut seluruh kebijakan dan perundangan ketenagakerjaan yang tidak memihak kaum buruh dan tani

  4. Naikan upah buruh sehingga memenuhi syarat hidup layak bagi buruh dan buruh tani serta keluarganya

  5. Membangun industri pedesaan yang berbasis pengolahan hasil-hasil pertanian yang dihasilkan oleh rakyat tani

Jakarta, 30 April 2009

Contact:
Agus Ruli Ardiansyah (Departemen Politik, Hukum dan Keamanan) 081585138077