Pemuda Kota Dukung Penegakan Kedaulatan Pangan Melalui Pertanian Organik

sintesa-SPI-medan berkebun

MEDAN. Pertanian organik dalam pelaksanaannya identik dengan pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara bertani yang mengintegrasikan secara komprehensif aspek lingkungan hingga sosial ekonomi masyarakat pertanian. Suatu mekanisme bertani yang dapat memenuhi kriteria keuntungan ekonomi; keuntungan sosial bagi keluarga tani dan masyarakat; dan konservasi lingkungan secara berkelanjutan.

Tidak hanya oleh petani, pertanian organik sendiri sudah cukup menjadi primadona bagi banyak kalangan, salah satunya adalah bagi Komunitas Medan Berkebun. Untuk mengetahui pertanian organik secara lebih detail, komunitas yang berisikan kaum muda perkotaan ini melakukan kunjungan ke demplot pertanian berkelanjutan Serikat Petani Indonesia (SPI)dan Yayasan Sintesa di kawasan Medan Johor,  Medan, Sumatera Utara (04/02). Di demplot seluas 3000 meter persegi, sekitar 20-an anggota komunitas ini belajar mulai dari menyiapkan bedengan tanah, menanam, pupuk organik, hingga panen langsung dari lahan.

sintesa-mdnberkebun-SPI

Koordinator Medan Berkebun Hajar Suswantoro menyampaikan komunitasnya ini merupakan kumpulan anak muda yang ingin melakukan hal-hal positif dan berguna bagi masyarakat banyak.

“Biasanya khan anak-anak muda ngumpulnya di mall, di cafe, nah kenapa gak di ruang terbuka seperti di ladang, bersama-sama belajar pertanian perkotaan, dan saling menambah wawasan,” tuturnya.

Hajar pun menyampaikan komunitasnya dalam menjalankan pertanian perkotaan lebih konsen ke pertanian organik karena lebih sehat, juga lebih ramah lingkungan.

“Pertanian organik ini selain lebih sehat juga menghilangkan ketergantungan atas input-input pertanian kimia yang sering dimonopoli oleh golongan tertentu, juga lebih ramah dari sisi lingkungan, karena pertanian organik ini semuanya berasal dari alam, jadi tidak ada yang disia-siakan,” ungkap pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara ini.

Di demplot tersebut, Komunitas Medan Berkebun belajar langsung dari Pak Darno. Pak Darno adalah seorang petani organik SPI yang bersama anak dan istrinya berhasil “menyulap” lahan terlantar di dekat rumahnya menjadi lahan pertanian organik produktif yang ditanaminya kangkung, bayam, sawi, timun, buncis, tomat, cabe, paria, kailan, pepaya, hingga jagung.

sintesa-medan berkebun-SPI-03

“Setelah beberapa kali bertukar pendapat dengan para kader pertanian berkelanjutan dari SPI dan Sintesa, kami cukup terbantu untuk menerapkan metode pertanian yang berkelanjutan dalam bertani sehari-hari. Alhamdulillah, kebutuhan sayuran organik masyarakat di sekitar sini bisa terpenuhi dari ladang kami ini, hasil bertani ini juga mampu menutupi kebutuhan rumah tangga,” ungkapnya.

Sementara itu menurut Direktur Sintesa Lisdayani, peranan kaum muda perkotaan dalam mendukung pertanian organik berbasiskan keluarga petani perlu digalakkan untuk menegakkan kedaulatan pangan.

“Jika semakin banyak anak muda yang menyadari pentingnya pertanian (organik) akan semakin bagus, mereka akan semakin menghargai petani yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan di negara ini, selain itu di masa depan bangsa ini terletak pundak pemuda-pemudi ini,” tutur Lisdayani.

Lisdayani menambahkan, Sintesa mendukung penuh pertanian organik berbasiskan keluarga petani kecil yang memiliki kontribusi terhadap kedaulatan pangan.

sintesa-medanberkebun-SPI4

Senada dengan Lisdayani, menurut Zubaidah, Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) SPI Sumatera Utara, pertanian berkelanjutan bertujuan untuk memutus ketergantungan petani terhadap input eksternal dan penguasa pasar yang mendominasi sumber daya agraria. Pertanian berkelanjutan merupakan tahapan penting dalam menata ulang struktur agraria dan membangun sistem ekonomi pertanian yang sinergis antara produksi dan distribusi dalam kerangka pembaruan agraria.

“Pelaksanaan pertanian berkelanjutan bersumber dari tradisi pertanian keluarga yang menghargai, menjamin dan melindungi keberlanjutan alam untuk mewujudkan kembali budaya pertanian sebagai kehidupan. Oleh karena itu, SPI mengistilahkannya sebagai pertanian berkelanjutan berbasis keluarga petani, untuk membedakannya dengan konsep pertanian organik berhaluan agribisnis. Pertanian berkelanjutan merupakan tulang punggung bagi terwujudnya kedaulatan pangan,” paparnya.

 

ARTIKEL TERKAIT
Tolak “Terminator” Bangkit Kembali
SPI Ponorogo lakukan aksi, anggota DPRD malah kabur
Tawaran La Via Campesina keluar dari krisis susu Tawaran La Via Campesina keluar dari krisis susu
SPI hadiri workshop pertanian berkelanjutan regional Asia di...
1 KOMENTAR
  1. Nama... berkata:

    Memang sudah saatnya pemuda turun tangan untuk memberi model/contoh dalam bertani secara alami. Sedikit sekali pemuda atau anak muda yang mau bertani/menjadi petani. Kami di Surabaya juga sudah dan sedang mengajak warga untuk mandiri dalam memenuhi sayur dengan bertanam sendiri di lahan yg sangat sempit karena banyak tempat kos dan hal tsb dapat diakali dg bertanam secara vertikultur (www.pusdakota.org)

BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU