Pemuda tani adalah masa depan kehidupan

Roma (16/11). Pembukaan pertemuan pangan dunia (World Food Summit) FAO dihadiri lebih dari 60 kepala negara, bertempat di Gedung FAO kota Roma. Para kepala negara yang berkumpul menyadari keadaan pangan secara global dan nasional mengalami kemunduran terkait dengan akses atas pangan. Dalam pertemuan pangan dunia ini, Paus Benedict XVI menyampaikan pesannya dihadapan para delegasi, ”Kelaparan adalah hal yang paling kejam dan nyata dalam kemiskinan.” Paus berharap adanya kesadaran agar dipenuhinya berbagai kebutuhan di pedesaan. Terakhir Paus menyatakan, semoga para pemerintahan yang menjamin akses atas pangan selalu dilindungi oleh Tuhan.

Sementara itu, Jacques Diouf, Direktur Jenderal FAO, pada pidato pembukaan resmi World Food Summit menyampaikan keadaan dunia modern yang mengalami kemunduran terkait pengentasan kemiskinan dan penanggulangan kelaparan. ”Dibeberapa negara kaya, 2 atau 4 persen dari populasi mampu memproduksi pangan untuk kebutuhan nasional bahkan diekspor, sementara banyak negara miskin dalam kesulitan.” Hal ini dikarenakan begitu banyak dana yang tersedia bagi negara-negara kaya tersebut (OECD). Tambah Jacques Diouf.

Padahal untuk mengakhiri kelaparan di dunia hanya dibutuhkan 44 milliar US dollar per tahun, dana tersebut digunakan untuk pembangunan dan assistensi pada infrastruktur, teknologi, dan modern input. “Ini dana yang kecil dibandingkan subsidi dan support dari negara kaya bagi pertaninnya yang mencapai 365 milliar dollar pada tahun 2007.” Ungkap Jacques Diouf disela-sela aksi solidaritas  bagi orang yang kelaparan, ia bersama beberapa orang lainnya melakukan mogok makan  di depan gedung FAO.

Selain itu, Achmad Ya’kub, Ketua Depertemen Kajian Strategi Serikat Petani Indonesia (SPI), sekaligus wakil komisi pemuda Via Campesina Asia Tenggara dan Asia Timur di depan gedung FAO Roma, mengatakan, ”Forum pangan dunia ini hanya mengedepankan dan menyoal mengenai investasi besar, padahal masalah kelaparan lebih dari itu. Diantaranya berbagai kebijakan neoliberal secara sistematis meminggirkan kaum tani, termasuk pemuda. Oleh karena itu, banyak pemuda pedesaan dipaksa keluar desa, berbagai sumber-sumber alam, infrastruktur umum, dan fasilitas bagi anak muda dinihilkan. Jadi seakan-akan desa tidak ada lagi harapan, padahal pemuda memiliki keinginan kuat untuk memproduksi pangan, beternak, dan hidup di pedesaan”. Ungkap Ya’kub.

Dalam acara tersebut Ya’kub menyampaikan hasil kaukus pemuda kepada FAO antara lain, pentingnya pemuda dilibatkan dalam berbagai mekanisme PBB/FAO yang berkaitan dengan pertanian, pendidikan, teknologi, dan pembangunan. Karena selama ini pemuda dipinggirkan, hal ini terlihat dari tiadanya lagi departemen di FAO yang khusus mengurusi pemuda, bahkan agenda KTT pangan ini tidak sedikitpun membahas mengenai peran pemuda. Padahal pemuda tani adalah masa depan bagi keberlangsungan kehidupan. “Jadi dapat dipastikan kedepan selalu akan ada “World hunger summit”, bila sejak dini kaum muda tidak dilibatkan dan pastikan jaminan atas akses dan kontrol bagi alat produksi pertanian” tegas Achmad Ya’kub.