Petani karet tetap jadi buruh di negara sendiri

PALEMBANG. Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan bahwa kenaikan harga karet yang mencapai US$ 3 per kg sangat menguntungkan petani, karena biaya produksi petani karet berkisar antara US$ 1 –  US$ 1,2 per kg karet. “Makanya kebijakan untuk kontrol pasokan ke pasar dan ekspor akan dilanjutkan,” kata Bayu seperti dikutip Antara News (19/1) saat menghadiri pertemuan tiga negara produsen karet terbesar yang dinamakan ITRC (International Tripartite Rubber Council) yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia di Kuala Lumpur.

Namun pernyataan tersebut ditanggapi berbeda oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Selatan. Ketua Majelis Wilayah Petani (MWP) SPI Sumsel, Basori menyebutkan bahwa walaupun harga karet dunia sudah mencapai US$ 3, tetapi harga di tingkat petani masih sama, yakni Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per kg . Hal ini sama dengan biaya produksi US$ 1 –  US$ 1,2  seperti yang diungkapkan Bayu tersebut. Itu artinya petani tidak mendapatkan nilai tambah dari kenaikan harga tersebut, yang menikmati hanya pedagang dan pengusaha remiling. “Petani masih menjadi buruh di lahannya sendiri” tegas Basori.

Kepala Biro Pengorganisasian SPI Sumsel, Amar Rusdi menambahkan bahwa petani sebaiknya tidak tergantung pada tanaman ekspor ini, tetapi tetap mengembangkan pola diversifikasi, khususnya pangan. “Ini semua agar petani tetap berdaulat” tuturnya.