Petani Perempuan SPI Bengkulu Bentuk Tim Konsolidasi, Perkuat Koperasi untuk Kesejahteraan dan Kedaulatan Pangan

Serikat Petani Indonesia (SPI) menggelar Sarasehan Petani Perempuan bertema “Koperasi sebagai Pilar Mewujudkan Kesejahteraan Petani dan Kedaulatan Pangan” di Desa Sumber Sari, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, Kamis (23/7/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Peresmian Koperasi Perkebunan Kopi dalam rangka HUT SPI ke-28 dan Hari Koperasi Nasional ke-79 ini menghasilkan pembentukan Tim Konsolidasi Petani Perempuan (TKPP) Bengkulu sebagai wadah memperkuat organisasi dan peran petani perempuan dalam perjuangan reforma agraria, koperasi, dan kedaulatan pangan.

Ketua DPW SPI Bengkulu Junaidi dalam sambutannya menyatakan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan keluarga. Karena itu, menurutnya, perempuan perlu didorong untuk semakin mandiri melalui koperasi. “Perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam keluarga. Karena itu SPI menghadirkan koperasi agar perempuan menjadi semakin kuat dan tidak hanya bergantung pada pendapatan suami. Perempuan harus semakin maju dan bisa membangun kesejahteraan melalui koperasi,” ujarnya.

SPI sendiri telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Koperasi untuk memperkuat pengembangan koperasi petani. Junaidi berharap kolaborasi tersebut dapat membuka akses pembinaan, pelatihan, hingga penguatan kapasitas petani perempuan. “Selain permodalan, perempuan juga membutuhkan ilmu pengetahuan. Sumber daya manusianya harus terus dilatih agar koperasi dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi anggotanya,” katanya.

Yarni Herianti dari Komisi Petani Perempuan Majelis Nasional Petani (MNP) SPI menegaskan bahwa petani perempuan sesungguhnya memiliki kekuatan besar. Namun, kekuatan tersebut hanya akan berkembang apabila dibangun melalui organisasi, pendidikan, dan kerja sama. “Ibu-ibu sebenarnya sudah kuat, tetapi banyak yang masih merasa lemah. Karena itu kita berkumpul untuk menggalang kekuatan. Kalau ingin kuat, maka kita harus bersatu. Petani perempuan harus saling mengenal, membangun komunikasi, dan bekerja sama,” ujarnya.

Yarni menjelaskan bahwa perempuan memikul beban ganda. Selain bekerja di lahan pertanian, petani perempuan juga bertanggung jawab mengurus rumah tangga dan memenuhi kebutuhan keluarga. Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan koperasi sebagai wadah penting untuk membangun kekuatan ekonomi perempuan secara kolektif.

“Kita memiliki koperasi, maka koperasi itu harus dibangun bersama. Ke depan kita juga akan menyelenggarakan pendidikan bagi petani perempuan, mulai dari pendidikan koperasi hingga pertanian agroekologi agar petani mampu mengurangi biaya produksi dan semakin mandiri,” jelasnya.

Tidak sampai di situ, Yarni juga menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mewujudkan kedaulatan pangan karena menjadi pihak yang mengelola pangan di tingkat rumah tangga. “Benih dan bibit harus kita tentukan sendiri. Itulah kedaulatan pangan. Perempuan menjadi bagian penting dalam mewujudkannya karena perempuan yang mengatur pangan di dapur keluarga,” katanya.

Dalam sesi diskusi, para petani perempuan menyampaikan berbagai aspirasi, salah satunya mengenai pentingnya pendidikan koperasi. Sri, petani perempuan SPI dari Kepahiang, berharap adanya pelatihan yang berkelanjutan agar koperasi dapat berkembang dan dikelola secara baik. “Harapan kami ada pelatihan tentang koperasi. Pengetahuan kami masih terbatas, sehingga pendidikan sangat penting agar koperasi tidak hanya berdiri, tetapi juga mampu berjalan dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Lena, petani perempuan SPI dari Rejang Lebong, menilai keberhasilan koperasi bergantung pada kesadaran dan keaktifan anggotanya. “Perempuan harus memiliki kesadaran untuk aktif dan mandiri. Kita harus membangun usaha sendiri agar perempuan bisa maju dan semakin baik ke depannya,” katanya.

Pada akhir kegiatan, peserta secara musyawarah membentuk Tim Konsolidasi Petani Perempuan (TKPP) Bengkulu sebagai wadah memperkuat organisasi, komunikasi, dan kerja sama petani perempuan di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong. Musyawarah menetapkan Lena sebagai Ketua dan Jumini sebagai Sekretaris, yang akan mengoordinasikan konsolidasi petani perempuan sekaligus mendorong pengembangan koperasi di tingkat basis.

Melalui pembentukan TKPP ini, petani perempuan SPI diharapkan semakin berperan aktif dalam perjuangan reforma agraria, koperasi, dan kedaulatan pangan. Ke depan, TKPP akan menjadi ruang bersama bagi petani perempuan untuk saling belajar, memperkuat kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan, serta membangun kekuatan kolektif agar perempuan tidak hanya menjadi pelaku pertanian, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di perdesaan menuju kesejahteraan petani dan kedaulatan pangan.

ARTIKEL TERKAIT
SPI Dorong Penguatan Agroekologi dan Kedaulatan Pangan Berba...
Konsolidasi SPI Kampar: Petani Tolak Penyitaan Lahan dan Ske...
Dari Desa, Pesisir hingga Kota: Pemuda Lintas Sektor Dorong ...
SPI Dorong Penguatan Agroekologi dan Kawasan Daulat Pangan B...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU