Petani Sedunia Menolak Perampasan Lahan

Oleh: Heri Purwanto *)

SELINGUE. Matahari pagi bersinar cerah dari ufuk timur, ratusan petani telah berkumpul ditengah lapangan diatas tanah kering berdebu membentuk lingkaran besar. Berbagai spanduk dan bendera organisasi-organisasi tani anggota La Via Campesina terpasang memenuhi bangunan sederhana di sisi lapangan, yang berbentuk persegi panjang tanpa dinding dan berlantaikan pasir.

Ditengah-tengah lingkaran, belasan petani anggota La Via Campesina dari negara-negara di Afrika tengah menggelar aksi teatrikal. Pertunjukan tersebut menggambarkan bagaimana wajah kehidupan keluarga petani Afrika yang dihadapkan pada tindak kekerasan dan perampasan lahan.

Seremoni tersebut mengawali pembukaan konferensi land grabbing yang dihadiri oleh anggota La Via Campesina dari seluruh negara-negara di kawasan Afrika, serta perwakilan dari regional Amerika Latin, Eropa dan Asia.

Serikat Petani Indonesia (SPI) diutus sebagai salah satu delegasi yang mewakili anggota La via Campesina untuk regional Asia. Selain dihadiri oleh anggota-anggota La via Campesina, konferensi tersebut mengundang berbagai NGO Internasional, Lembaga Riset, Akademisi, perwakilan PBB untuk urusan HAM, dan media internasional.

Konferensi internasional tentang land grabbing (perampasan lahan) tersebut dimulai pada tanggal 14 November dan berlangsung selama sepekan. Seluruh delegasi akan memaparkan pengalaman praktis perjuangan land reform serta bentuk kasus-kasus perampasan lahan yang dihadapi. Dari pemaparan tersebut, diidentifikasi bahwa jumlah perampasan lahan yang terjadi diseluruh dunia semakin meningkat serta dalam bentuk yang beragam. Aktor utama pelaku perampasan lahan dilakukan oleh pemerintah, perusahaan nasional milik negara maupun swasta, perusahaan transnasional, tuan tanah di pedesaan, serta lembaga perbankan atau lembaga permodalan.

Model perampasan dilakukan dalam bentuk secara paksa menggunakan kekerasan, baik secara ilegal maupun dilegalkan melalui perundang-undangan yang sengaja dibuat oleh parlemen maupun pemerintah eksekutif. Model lainnya dilakukan dalam bentuk sertifikasi lahan petani yang diikuti dengan akses kredit perbankan dengan jaminan sertifikat tanah. Dalam kasus ini banyak petani yang gagal mengembalikan pinjaman dengan berbagai sebab, tanahnya disita oleh lembaga pemberi pinjaman.

Kriminalisasi petani yang mempertahankan hak atas tanahnya yang dirampas turut menjadi bahasan dalam konferensi tersebut. Tingkat kriminalisasi petani semakin meningkat, khususnya di Asia dan Amerika Latin. Petani yang berjuang mempertahankan hak atas tanahnya yang dirampas mengalami tindak kekerasan, ditangkap aparat militer atau kepolisian, dipenjarakan, serta sebagian meninggal akibat bentrok dengan aparat militer dan kepolisian.

Dalam satu dekade terakhir, kondisi masyarakat pedesaan dan masyarakat adat diseluruh dunia menghadapi tekanan hidup yang semakin berat. Pemangkasan subsidi terhadap pelayanan publik disektor pendidikan, kesehatan, energi, dll., memicu meningkatnya kebutuhan biaya hidup keluarga petani. Penghapusan subsidi terhadap input pertanian menambah beban biaya produksi keluarga petani, sementara tidak ada jaminan harga jual minimum produksi petani yang layak.

Kondisi tersebut mendorong krisis ekonomi, sosial dan budaya di masyarakat pedesaan semakin dalam. Banyak petani kehilangan tanahnya, ataupun terpaksa meninggalkan lahannya. Dampak yang muncul akibat tekanan di masyarakat pedesaan tersebut, di India banyak terjadi kasus petani bunuh diri yang dilakukan oleh petani. Di Indonesia, Kamboja, Thailand, Philipina dan Nepal, banyak petani beralih menjadi pekerja migran (ke kota atau ke luar negeri), khususnya petani perempuan.

Krisis ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi di pedesaan tersebut semakin berat dengan munculnya ancaman besar land grabbing dimasa mendatang. Perubahan tren ekonomi dunia telah mendorong munculnya tren pengambil alihan lahan-lahan di pedesaan sebagai investasi yang bernilai tinggi maupun untuk kepentingan industri agribisnis disektor pangan yang sangat menjanjikan. Pengambil alihan lahan di Asia, Afrika dan Amerika Latin banyak dilakukan oleh negara bersama perusahaan TNCs untuk industri agribisnis pangan dan biofuell. Sementara peralihan kepemilikan lahan di Eropa banyak didorong oleh semakin tingginya pembelian lahan-lahan pertanian sebagai investasi yang lebih menjanjikan daripada berinvestasi logam mulia.

Meningkatnya tekanan dan ancaman yang dihadapi oleh petani dan masyarakat adat di pedesaan secara global tersebut, akan merubah wajah pertanian dan masyarakat pedesaan dimasa mendatang. Merespon kondisi tersebut, seluruh anggota La via Campesina yang hadir dalam konferensi memperkuat komitmen untuk memperkuat dan mengglobalkanperjuangan reforma agraria.

Satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi krisis yang dihadapi petani dan masyarakat pedesaan diseluruh dunia adalah dengan melaksanakan Reforma Agraria yang sejati. Mendistribusikan tanah kepada petani dan masyarakat adat, membangun sistem pertanian berbasiskan keluarga petani, memberikan jaminan harga terhadap produksi petani, menjamin akses petani terhadap input pertanian dan sumber-sumber air bagi pertanian, serta menjamin keluarga petani untuk memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Komitmen untuk memperkuat dan mengglobalkan perjuangan reforma agraria diawali oleh lahirnya deklarasi yang dirumuskan dan disepakati oleh seluruh peserta konferensi. Deklarasi tersebut menjadi tonggak baru untuk lebih memperkuat perjuangan global Reforma Agraria melawan land grabbing.

Salah satu poin dari daftar aksi yang tercantum dalam deklarasi adalah melakukan mobilisasi massa secara serentak diseluruh negara, pada hari perjuangan tani internasional 17 April mendatang. Mobilisasi massa yang akan dilangsungkan secara global tersebut akan menjadi kampanye global reforma agraria untuk melawan land grabbing.

==============================================================

* Heri Purwanto adalah staf di Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia dan sedang menyelesaikan studinya di Pasca Sarjana Ilmu Politik, Universitas Indonesia