Pidato Ketua Umum SPI pada Konferensi La Via Campesina ke-8

Bogota. Pada tanggal 1-8 Desember lalu, La Via Campesina telah menyelenggarakan Konferensi ke-8 nya di Bogota, Kolombia. Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum SPI sekaligus mantan Koordinator Umum La Via Campesina, Henry Saragih, diminta untuk berpidato untuk memberikan refleksi dan arahan untuk gerakan La Via Campesina sejak didirikan 30 tahun lalu. Adapun transkrip pidato beliau dapat dilihat di bawah ini.

Viva La Via Campesina, Hidup Petani,
Saya Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Koordinator La Via Campesina 2004-2013. Hari ini, saya tidak hadir di Kolombia, di tengah-tengah Konferensi La Via Campesina ke-8 ini,
Namun, hati dan pikiran saya ada bersama kalian, kawan-kawan, di dalam Konferensi La Via Campesina, di mana LVC kini telah memasuki tahun ke-30 sejak kita deklarasikan di Mons, Belgia tahun 1993. La Via Campesina sebagai sebuah organisasi petani, saya telah terlibat secara dekat sejak tahun 1996.

Saya telah melihat LVC memiliki posisi yang bagus, kita memiliki kontribusi yang besar dalam mencari alternatif bagaimana masalah pangan global dapat diatasi. Bagaimana kelaparan menimpa jutaan umat manusia, mereka kehilangan pekerjaan, rumah, dan tempat tinggal, yang menimpa orang-orang di pedesaan. Pada KTT Pangan 1996, kita mendeklarasikan bahwa kita harus menegakkan Kedaulatan Pangan. Kita tidak percaya dengan konsep yang dipromosikan oleh para Pemimpin Global di bawah Organisasi Pertanian Pangan yang menyelenggarakan konferensi tersebut, di mana pangan harus diserahkan kepada pasar, pangan harus diserahkan kepada kekuatan korporasi, dan pangan dirampas dari kita, sebagai petani. Dan memang hal ini sejalan dengan sikap global yang mempromosikan bahwa masalah pangan harus ditangani oleh pasar melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta kebijakan liberalisasi dan privatisasi yang didukung oleh Bank Dunia dan IMF.

Oleh karena itu La Via Campesina, kami memainkan peran sebagai garda terdepan, melakukan aksi mobilisasi dalam pertemuan-pertemuan tingkat menteri WTO di Seattle, Cancun pada tahun 2003, di Hongkong tahun 2005, di Jenewa. Dan hampir di semua pertemuan WTO kita selalu berdiri paling depan, dan berteriak “turunkan, turunkan WTO!” “WTO keluar dari pertanian!” Karena lembaga-lembaga ini adalah lembaga-lembaga yang mendorong liberalisasi dan privatisasi produksi pangan.

Dan juga La Via Campesina, kita adalah pihak yang menjadi garda terdepan ketika krisis pangan tahun 2008 melanda, dan Alhamdulillah berkat perjuangan kita, kita dapat mendorong kedaulatan pangan menjadi solusi alternatif dalam mengatasi krisis pangan dan kelaparan yang terjadi secara global.
Lebih jauh lagi, kita juga telah berhasil mendorong hak-hak petani menjadi sebuah deklarasi PBB, maka kita bisa melihat pada tahun 2018 lalu, terbitlah Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dan Orang-Orang yang Bekerja di Pedesaan.

Saudara-saudari tercinta, La Via Campesina telah menjadi garda terdepan dalam melaksanakan aksi massa. Ada jutaan hektar tanah di Brasil, di Indonesia, di Thailand, di Filipina, di Afrika, kita telah berhasil merebut kembali tanah-tanah tersebut. Kita memperjuangkan agar tanah-tanah tersebut dikembalikan kepada para petani, sembari terus mendorong agar reforma agraria dilaksanakan. Selain itu, salah satu aksi massa yang berhasil kita lakukan adalah mengembangkan pertanian agroekologi. Ratusan ribu hektar lahan telah diubah menjadi pertanian agroekologi, meninggalkan pertanian konvensional. Selain itu, selain melakukan aksi-aksi massa tersebut, mobilisasi yang kita lakukan juga mampu membuat demoralisasi dari kekuatan-kekuatan pasar, WTO, Bank Dunia, IMF, dan korporasi-korporasi lainnya.
Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kita juga berhasil melakukan advokasi kebijakan. Kebijakan Reforma Agraria telah menjadi salah satu kebijakan di PBB dan juga di banyak negara, termasuk di Indonesia, Brasil, Filipina, dan beberapa negara Afrika. Seperti yang kita ketahui juga, agroekologi juga telah menjadi kebijakan publik di beberapa negara. Dan kita juga telah berhasil mendorong peran pemuda dan perempuan dalam perjuangan La Via Campesina, karena masa depan kita digerakkan oleh kekuatan kaum muda, dan kita sebagai La Via Campesina telah berhasil melakukan regenerasi dalam melanjutkan perjuangan kita dan tentunya perjuangan perempuan tani di La Via Campesina untuk mendapatkan penghidupan yang setara.

Saudara-saudara sekalian, ke depan tantangan kita masih sangat besar. Kekuatan WTO, Bank Dunia, IMF, dan kekuatan neoliberalisme lainnya, mereka terus memperbaharui diri dengan berbagai kebijakan yang mengatasnamakan penyelamatan alam, seperti ekonomi hijau. Mereka terus melakukan berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaannya, sehingga mereka terus berusaha merampas tanah-tanah yang kita cintai ini. Oleh karena itu, kita harus melanjutkan perjuangan kita, selain yang telah kita lakukan selama beberapa tahun terakhir, kita harus memikirkan alternatif lain. Selain itu, tantangan kita yang terbaru adalah saudara-saudara kita di Palestina, mereka masih berada di bawah penjajahan, di mana mereka terusir dari lahan pertanian dan mata pencaharian mereka. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan solidaritas saya kepada saudara-saudara kita di Palestina. Karena saudara-saudara kita di Palestina terus memperjuangkan lahan pertanian mereka untuk menghasilkan bahan pangan bagi rakyatnya.

Saudara-saudari yang terkasih, dalam Konferensi ke-8 ini, mari kita putuskan agenda kita untuk berjuang dan berjuang untuk masa depan di tengah tantangan baru di abad ke-21 ini. Hati dan pikiran saya bersama Anda semua di sini. Mari terus berjuang! Hidup Petani! Viva La Via Campesina!

ARTIKEL TERKAIT
Saatnya Untuk Pengakuan & Perlindungan Hak Asasi Petani & Ma...
Peringati Hari Hak Asasi Petani, BAMUSTANI Selenggarakan Dis...
Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2017 Naik, Namun Kemiskinan M...
Henry Saragih buka Klimaforum 2009 di Kopenhagen Henry Saragih buka Klimaforum 2009 di Kopenhagen
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU