
Bulan September segera tiba, dan pada 10 September, kita kembali memperingati Hari Aksi Internasional Melawan Perjanjian Perdagangan Bebas dan WTO.
Setiap tahun, pada bulan ini, La Via Campesina mengingatkan dunia akan pengorbanan petani Korea, Lee Kyung Hae, yang mengakhiri hidupnya di Cancun pada tahun 2003 di depan lokasi Konferensi Tingkat Menteri WTO. Tindakannya saat itu menjadi salah satu ekspresi paling keras dari keputusasaan, kemarahan, dan perlawanan kaum tani terhadap tatanan global neoliberal, sebuah sistem yang sejak saat itu telah menghancurkan sistem pangan pedesaan, merampas wilayah dan benih kita, serta memiskinkan keluarga petani.
SISTEM NEOLIBERAL: MEMAHAMI MUSUH KITA
Secara sederhana, neoliberalisme adalah upaya melindungi kapitalisme dari rakyat. Ini merupakan proyek lintas negara abad ke-20 yang bertujuan membentuk ulang negara dan institusi global agar melindungi “pasar” dari keputusan demokratis dan tuntutan keadilan sosial.
Salah satu ciri utamanya adalah pembentukan institusi internasional seperti Bank Dunia, IMF, dan WTO, yang menyediakan kerangka hukum bagi globalisasi kapital yang merusak.
Perjanjian Perdagangan Bebas, bantuan bersyarat, pinjaman, dan program penyesuaian struktural menjadi alat untuk menekan negara agar membuka pasar dan mengikuti aturan kompetisi global. Hal ini memaksa negara-negara di Global Selatan mengekstraksi dan mengekspor bahan mentah ke negara-negara Global Utara, lalu mengimpor kembali produk jadi dengan harga lebih mahal.
Akibatnya, negara kaya dan korporasi semakin diuntungkan, sementara buruh dan petani di seluruh dunia semakin dimiskinkan.
Dari Argentina hingga Sri Lanka, Kenya hingga Ekuador, Burkina Faso hingga Bolivia, negara dipaksa beralih ke model ekonomi berbasis ekspor, memangkas kesejahteraan publik, memprivatisasi layanan, dan membuka pasar demi “integrasi” ke ekonomi global.
Melalui Perjanjian Perdagangan Bebas dan bentuk-bentuk paksaan ekonomi lainnya, pemerintah dipaksa untuk melonggarkan regulasi dan memprivatisasi pasar pertanian, membubarkan cadangan pangan publik, serta menghapus bantuan pendapatan bagi petani; langkah-langkah yang memperburuk ketidakpastian di kalangan produsen pangan skala kecil dan pekerja di sektor pangan, memperlebar ketimpangan global, serta menciptakan ketergantungan impor yang sangat besar di banyak negara.
Hal ini juga membuat keluarga pedesaan dan pekerja perkotaan semakin rentan terhadap guncangan global.
Laporan “Kondisi Pasar Komoditas Pertanian 2026” menunjukkan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah semakin rentan terhadap berbagai guncangan, seperti peristiwa cuaca ekstrem, konflik, pandemi, tekanan makroekonomi, dan krisis keuangan. Gangguan-gangguan ini sering kali mengakibatkan kenaikan biaya hidup, kenaikan biaya produksi pangan, penurunan daya beli, serta meningkatnya kerawanan pangan di kalangan petani dan kelas pekerja.
Semua hal ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap para produsen pangan skala kecil di seluruh dunia, terutama perempuan dan kaum muda. Kebijakan nasional serta perjanjian perdagangan internasional sering kali merugikan kepentingan petani perempuan, yang secara langsung menghadapi kesulitan besar di banyak negara untuk memasuki perdagangan pertanian, diakui sebagai petani, dan secara tidak proporsional terkena dampak racun pertanian serta eksploitasi tenaga kerja dalam sistem pertanian industri. Hal ini mengabaikan dan meminggirkan ekonomi solidaritas serta ekonomi feminis, dan memaksakan pada kita ‘ekonomi pasar bebas’ yang lebih banyak mengucilkan daripada merangkul.
Bagi pemuda tani, semua hal ini, ditambah dengan harga lahan pertanian yang sangat mahal akibat spekulasi, serta kebijakan yang memaksakan digitalisasi dalam pertanian, sering kali menjadi hambatan bagi pemuda tani untuk terus bercocok tanam, sehingga memicu eksodus kaum muda dari daerah pedesaan di seluruh dunia, dengan implikasi yang sangat mendalam bagi kedaulatan pangan masyarakat kita.
Aksi protes besar-besaran yang dilakukan para petani di India, Jepang, Korea Selatan, dan sebagian besar Eropa selama beberapa tahun terakhir menjadi bukti kemarahan masyarakat dan rasa frustrasi para petani terhadap sistem yang terus-menerus merugikan petani.
Ini bukan sekadar kawasan bisnis biasa. Kawasan-kawasan ini merupakan “ruang hukum” yang dipisahkan dari wilayah nasional (dengan meratakan lahan pertanian, hutan, dan kawasan pesisir), namun diatur oleh aturan yang berbeda, sehingga menawarkan kepada investor asing pajak yang rendah, regulasi yang lebih longgar, serta pengecualian dari undang-undang ketenagakerjaan dan lingkungan hidup yang berlaku umum.
Prospera di Honduras merupakan salah satu contoh paling mencolok dari hal tersebut, dan masih banyak lagi yang akan bermunculan di seluruh dunia. Kawasan-kawasan ini secara efektif menciptakan celah dalam negara-bangsa, sehingga memungkinkan kapitalisme beroperasi di luar pertanggungjawaban demokratis.
MOBILISASI MELAWAN NEOLIBERALISME! BANGUN ALTERNATIF!
Oleh karena itu, jelaslah bahwa kita tidak hanya berhadapan dengan lembaga-lembaga global seperti WTO, Bank Dunia, dan IMF. Kita juga berhadapan dengan proyek neoliberalisme yang lebih luas dan sedang berlangsung ini, serta hubungan yang meragukan antara negara-negara, korporasi transnasional, dan elit nasional yang memfasilitasi hal tersebut.
Dan kita tidak bisa mengubah “sistem neoliberal” ini hanya dengan berjuang sendirian di wilayah kita masing-masing. Hal ini membutuhkan respons global dan globalisasi perjuangan kita untuk melawan globalisasi kekuasaan korporasi ini.
Di saat yang sama, kita juga harus menunjukkan alternatif. Perjuangan Kedaulatan Pangan adalah visi dunia yang ingin kita bangun, untuk generasi sekarang dan mendatang.
Dengan semangat inilah, di sela-sela Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-13 di Kamerun, La Via Campesina merilis kerangka kerja perdagangan global alternatif, yang merumuskan kembali sistem perdagangan berdasarkan prinsip-prinsip kedaulatan pangan. Dokumen ini merupakan seruan untuk menata ulang perdagangan global demi kepentingan para produsen pangan skala kecil di seluruh dunia.
Pada bulan September ini, kami menyerukan kepada semua organisasi anggota dan jaringan untuk bergerak bersama melawan WTO, Bank Dunia, dan IMF, serta melawan visi-visi distopia yang sedang berkembang dari para penguasa teknologi, sambil menyampaikan visi-visi alternatif kita kepada komunitas-komunitas kita di mana pun.