Sesuap Nasi Perjuangan Dari Jampang Tengah

Pernahkah kita mendengar narasi berbunyi “di mana ada kapitalisme, di situ pasti ada kemiskinan. Dan di mana ada kemiskinan seharusnya di situ ada perlawanan..”.  Narasi itu bukan sepenggal kalimat akhir yang ditutup oleh titik. Bagi petani itu adalah paragraf awal meraih satu kemerdekaan sejati, “Merdeka 100%” begitu revolusioner termahsyur, Tan Malaka menyebutnya.

Indonesia yang belum sepenuhnya terbebas dari praktek-praktek imprealisme dan kolonialisme masa penjajahan menyisakan ketidakadilan yang mengakar bagi kehidupan pertanian kita. Akar itu telah merayap kemana-mana sejak peristiwa kontroversial Supersemar dikeluarkan sebagai lonceng tampuk kekuasaan dimenangkan rezim orde baru. Hari demi hari petani dikriminalisasi, tahun demi tahun lahan pertanian di sulap menjadi beton-beton tinggi, kasus demi kasus lahan petani dirampas perusahaan, dan satu demi satu rakyat jatuh kedalam jurang kemiskinan.

Di Sumatera Utara rakyat dirampas tanahnya oleh perkebunan; di Jambi petani di penjara; di Banten petani kehilangan nyawa; di Jawa tanah petani dikepung kekutan modal; petani tersingkirkan dan akhirnya petani hanya penonton menggunungnya akumulasi modal kapitalisme yang diserap dari tanah-tanah mereka sendiri. Pengusaha semakin kaya, rakyat semakin miskin.

Semboyan Tanah Untuk Petani adalah senjata perjuangan kita meraih kembali hak-hak kita petani; jatuh bangun yang kita alami tak mengundurkan perjuangan kita, pagi ini rumah kita dihancurkan, nanti malam kita bangun kembali. Hari ini tanah kita mereka rampas, besok pagi-pagi sekali sebelum ayam berkokok kita tanami padi, singkong, pisang untuk mengusir mereka. Sebab itulah sesunggunya watak rakyat Indonesia. Watak pantang menyerah! Tidak takut!.

Dua hari yang lalu saya bertemu dengan saudara-saudara kita petani yang sama seperti kita semua, di Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi. Tak berbeda sedikitpun dari kita. Mereka bersatu dalam kekuakatan organsiasi Serikat Petani Indonesia (SPI) berjuang sejak tahun 1989 melawan kekuatan perusahaan PT. Bumiloka Swakarya yang telah sewenang-wenang merampas 1.684 ha tanah mereka.

Dasar PT. Bumiloka Swakarya kapitalisme terkutuk!

Lantas bagaimanakah saudara-saudara semua kapitalisme terkutuk ini bisa begitu kuasa di tengah-tengah rakyat? Baiklah mari kita mendengar sepenggal sejarah tanah ini, siapakah yang berhak atasnya. Supaya kita tidak dituduh kaum perampas tanah pula. Supaya mereka-mereka di luar sana tahu bahwa petani, organisasi kita ini “SPI” bukan perampas tanah. Kita hanya sekumpulan orang-orang yang menuntut hak, menuntut keadilan.

Sejarah ini dimulai tahun 1947-1948. Semangat kemerdekaan mendorong sekelompok manusia membuka sebuah kawasan hutan untuk lahan pertanian, kawasan itu sekarang menjadi Kecamatan Jampang Tengah. Hari ke hari, tahun berganti tahun petani terus bekerja tanpa henti untuk memproduksi makanan di lahan sekitar Jampang Tengah. Bahkan semangat petani semakin terbakar setelah mendengar seruan Sang Proklamotor Kemerdekaan Indonesia Presiden Soekarno di lapangan Merdeka Sukabumi tahun 1957 “Setiap Tanah harus dimanfaatkan oleh Rakyat”. Petani Jampang Tengah yang sekarang ini terbagi menjadi 5 desa (Desa Panumbang, Desa Jampang Tengah, Desa Sindangresmi, Desa Bojongjengkol dan Desa Cijulang) seperti menemukan suluh dalam gelap.

Tetapi, di saat kemenangan petani belum sempurna. Di saat petani belum sempat terbebas dari jeratan kemiskinan, datanglah makhluk kapitalisme terkutuk itu kedalam kehidupan mereka. Harap-harap petani “habis gelap terbitlah terang” seperti kumpulan tulisan pahlawan nasional Indonesia sang pelopor kebangkitan perempuan pribumi, R.A Kartini. Tahun 1989 si kapitalisme PT. Bumiloka Swakarya mengubah kenyataan manis petani menjadi kenyataan pahit. Petani diintimidasi, diancam dan digusur! Dan tanggal 6 Februari 1992 kenyataan pahit itu dilegalkan oleh negara melalui Surat Keputusan Kepala BPN No. 3/HGU/BPN/1992 tentang Pemberian HGU atas nama PT. Bumiloka Swakarya. “Habis terang terbitlah gelap”

Bertahun-tahun perusahaan terkutuk itu mengakumulasi kekayaan dari tanah milik petani. Pemilik perusahaan semakin kaya dan pemilik perusahaan bahagia goyang kaki. Sedangkan petani di sekitaran kebun perusahaan hidup dalam kelaparan, miskin, dan mereka hanya bisa menonton hasil-hasil karunia Tuhan di lahan mereka di ambil perusahaan.

Wahai kapitalisme terkutuk! Kau lupa bahwa penindasan yang terus menerus hanya akan menimbulkan amarah perlawanan dari rakyat!

Petani tidak pernah menyerah, semakin kita ditindas maka semakin pula kita melawan. Bahkan PT. Bumiloka Swakarya yang hanya bisa mengusik kehidupan petani dengan berlindung di balik baju “310”, tidak sadar ada waktu jua petani kehilangan rasa takutnya. Sekitar tahun 1999-2003, petani Jampang Tengah kembali mengolah tanah mereka yang dirampas menjadi sawah, menghasilkan butiran beras untuk dimakan rakyat Indonesia.

Sebuah siklus perjuangan, tahun 2005 seluruh tanaman petani kembali digusur oleh pihak kapitalisme terkutuk itu. Namun kekalahan tidak membuat surut jiwa juang petani. Kembali, Tahun 2009-2010 masyarakat petani Jampang Tengah berjuang atas tanah mereka, mengganti tanaman kakau milik PT. Bumiloka Swakarya dengan menanam padi huma dan tanaman pangan lain. Ini adalah perlawanan tanpa henti dari petani. Perjuangan petani Jampang Tengah layaknya perjuangan melawan penjajahan.

Mari kita resapi sepenggal kalimat Soekarno, seorang pemimpin besar kemerdekaan bangsa Indonesia, dalam tulisan Indonesia Menggunggat, begini bunyinya:

“Imprealisme itu sudah menyinggung dan membangkitkan musuh-musuhnya sendiri. Raksasa Indonesia yang tadinya pingsan seolah-olah tak bernyawa, raksasa Indonesia itu sekarang sudah berdiri tegak dan sudah memasang tenaga! Saban kali ia mendapat hantaman, saban kali ia rebah, tetapi saban kali pula ia tegak kembali! Sebagai mempunyai kekuatan rahasia, sebagai mempunyai kekuatan penghidup, sebagai mempunyai aji-pancasona dan aji-candrabirawa, ia tidak bisa dibunuh dan malah makin lama makin tak terbilang pengikutnya!”

Kemenangan petani Jampang telah di depan mata. Tanggal 5 Juni 2012 Badan Pertanahan Nasional Jawa Barat melalui surat No. 99/KEP-32.16/IV/2012 menetapkan tanah dalam HGU yang di kelola PT. Bumiloka Swakarya sebagai lokasi tanah terlantar. Tertanggal 14 April 2015 rakyat Jampang Tengah segera membuat surat permohonan pembebasan HGU PT. Bumiloka Swakarya kepada kepala BPN Sukabumi, yang ditandatangani oleh lima kepala desa serta mengetahui dengan tanda tangan Camat Jampang Tengah. Namun hingga saat ini belum sampai pada puncak kememangan karena permohonan petani tidak juga terlaksana bahkan perusahaan tersebut masih sering menunjukkan kuasanya di atas lahan petani.  Dan walau kapitalisme itu masih ada batang hidungnya, tapi petani sudah tidak takut lagi. Sekarang ribuan petani yang tersebar di lima desa mengelola lahan tersebut secara produktif untuk tanaman pangan.

Akhirnya, dua hari lalu saat bertemu dengan saudara-saudara kita petani Jampang Tengah, nampak di raut wajah mereka keyakinan besar. Dengan waktu hampir lima jam itu mereka kembali mengenang satu demi satu perjuangan pahit-manis yang di lalui. Hampir-hampir hati ini tak kuasa mendengar cerita pahit yang dilalui, namun di sisi lain hati ini begitu bangga, begitu bahagia mendengar kisah-kisah heroik para pahlawan ini. Terutama pak Unang salah satu pemimpin yang pernah ditahan aparat 17 tahun lalu.

Mendukung Jokowi – Amin

Saat kami semua sedang menikmati sesuap nasi perjuangan dari Jampang Tengah, Pak Unang sang pemberani itu dengan raut wajah yakin berkata “Petani sudah bukan penonton lagi, petani pasti bisa memerdekakan dirinya”. Sungguh luar biasa!!! Dalam kegaguman sejenak aku mengingat kembali kata-kata pemimpin petani dunia, Henry Saragih, bahwa “Perlawanan petani tidak bisa dimusnahkan, semakin kita ditindas oleh kapitalisme semakin pula banyak orang bersama kita melawan mereka”.