SPI dan IPB University Jalin Kerja Sama, Dorong Riset Pertanian yang Berdampak Langsung bagi Petani

TANGERANG. Serikat Petani Indonesia (SPI) dan IPB University menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dalam kegiatan IPB Stakeholder Forum 2026 yang berlangsung di Tangerang, Banten, pada Rabu (4/11/2026).

Penandatanganan dilakukan oleh Ketua Umum SPI, Henry Saragih, bersama Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, S.TP., M.Si. Kerja sama ini mencakup pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutannya pada IPB Stakeholder Forum 2026, Rektor IPB University menyampaikan harapan agar forum tersebut dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dan substantif dengan berbagai pemangku kepentingan. Ia juga mengajak para mitra untuk menyampaikan kebutuhan dan tantangan yang dapat dicari solusinya bersama.

“Melalui IPB Stakeholder Forum 2026 ini kami berharap dapat membangun kolaborasi yang lebih terbuka dan lebih substantif. Kami ingin memastikan bahwa bekerja sama dengan IPB bukan hanya mudah dimulai, tapi juga jelas untuk dijalankan, produktif untuk dikembangkan, dan bermanfaat untuk seluruh pihak,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Umum SPI, Henry Saragih, menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, MoU tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi SPI dan IPB University dalam menghasilkan penelitian, kajian, serta praktik-praktik pertanian yang dapat mendukung terwujudnya kedaulatan pangan di Indonesia.

Henry menjelaskan bahwa SPI dan IPB University selama ini telah menjalin berbagai bentuk kerja sama, khususnya dalam pelaksanaan kajian dan kegiatan tertentu. Namun, kolaborasi tersebut masih bersifat parsial. Melalui MoU ini, kerja sama diharapkan dapat dibangun secara lebih luas dan berkelanjutan.

“Dengan adanya MoU ini, kerja sama dalam melakukan penelitian, pengkajian, dan praktik-praktik kegiatan pertanian untuk membangun kedaulatan pangan serta menyelamatkan alam Indonesia bisa kita lakukan,” ujar Henry.

Ia menilai tantangan di bidang pangan, pertanian, dan agraria saat ini semakin besar sehingga membutuhkan terobosan yang lahir dari kolaborasi antara organisasi petani dan perguruan tinggi. Menurutnya, kerja sama SPI dan IPB University memiliki keunikan karena membuka ruang bagi para peneliti untuk terlibat langsung dalam praktik pertanian bersama petani.

Henry menjelaskan, hasil penelitian dan kajian dari IPB University dapat diuji dan diterapkan secara langsung di berbagai wilayah perjuangan petani, termasuk di lahan-lahan petani, Kawasan Daulat Pangan (KDP), serta kampung-kampung reforma agraria yang dikembangkan SPI.

Ia juga menyoroti pentingnya menjembatani kesenjangan antara hasil penelitian di lingkungan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Selama ini, tidak sedikit hasil kajian perguruan tinggi yang berakhir sebagai dokumen atau tersimpan di perpustakaan tanpa penerapan yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Karenanya, dengan kerja sama ini, bagaimana hasil-hasil riset dan kajian itu bisa dipraktikkan di tengah-tengah petani dan masyarakat,” tegasnya.

Melalui kerja sama ini, SPI berharap kolaborasi dengan IPB University tidak hanya menghasilkan pengembangan pengetahuan dan riset di bidang pertanian, tetapi juga menghadirkan praktik-praktik yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh petani. Sinergi antara gerakan petani dan dunia akademik ini diharapkan turut memperkuat perjuangan mewujudkan reforma agraria sejati dan kedaulatan pangan di Indonesia.

ARTIKEL TERKAIT
SPI Dorong Penguatan Agroekologi dan Kawasan Daulat Pangan B...
DPW SPI Yogyakarta Gelar Pendidikan Pengurus dan Konsolidasi...
SPI Dorong Penguatan Reforma Agraria dan Implementasi Indeks...
Catatan Akhir Tahun Pertanian Indonesia 2015: “Kedaulatan Pangan dan Reforma Agraria Telah Dibajak Oleh Kekuatan Pasar” Catatan Akhir Tahun Pertanian Indonesia 2015: “Kedaulatan ...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU