
BENGKULU. Serikat Petani Indonesia (SPI) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Regional Meeting La Via Campesina (LVC) Asia Tenggara dan Asia Timur yang berlangsung di Bengkulu, 7 – 12 Desember 2025. Pertemuan regional tahunan ini mempertemukan organisasi petani dari berbagai negara untuk memperkuat solidaritas, bertukar pengalaman perjuangan agraria, serta merumuskan agenda kolektif gerakan petani di tingkat kawasan.

Regional Meeting La Via Campesina Asia Tenggara dan Asia Timur ini diikuti oleh 12 organisasi petani dari 10 negara di kawasan. Organisasi yang terlibat antara lain Serikat Petani Indonesia (SPI) sebagai tuan rumah, Korean Peasant League (KPL), Korean Women Peasant Association (KWPA), Nouminren dari Jepang, Assembly of the Poor (AOP) dari Thailand, Australian Food Sovereignty Alliance (AFSA), Northern Peasant Federation (NPF) dari Thailand, Panggau dari Malaysia, Mokatil dari Timor Leste, FNN dari Kamboja, Paragos dari Filipina, serta peninjau dari Myanmar yang turut mengikuti rangkaian pertemuan.
Sebagai tuan rumah, Serikat Petani Indonesia (SPI) menegaskan pentingnya pertemuan regional ini sebagai ruang konsolidasi bersama untuk menghadapi krisis agraria, pangan, dan iklim yang semakin menekan kehidupan petani di berbagai negara. Ketua Umum SPI, Henry Saragih, dalam sambutan pembukaan pertemuan regional tersebut menyoroti dampak nyata krisis ekologis yang terus berulang akibat cara pengelolaan alam yang keliru, mulai dari Sumatra hingga berbagai wilayah lain di dunia.
“Kita seharusnya hari ini merayakan kemenangan dalam menyelamatkan planet ini, tetapi kenyataannya kita belum berhasil. Pada 26 November lalu, hujan yang berlangsung lama telah meluluhlantakkan beberapa daerah di Sumatra, dan ini adalah akibat dari cara kita yang salah dalam mengelola alam. Sebelumnya hal serupa juga terjadi di Kalimantan, Papua, bahkan Brasil, di mana jutaan hektare ruang hidup petani rusak akibat penghancuran hutan hujan,” ujar Henry Saragih.
Berangkat dari kenyataan tersebut, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menegaskan bahwa pertemuan regional ini bukan sekadar diskusi di atas meja, melainkan ruang perjuangan nyata bagi petani yang kehidupannya bergantung langsung pada alam.
Pertemuan regional ini diawali dengan penyampaian laporan kegiatan baik regional maupun internasional, terutama dari pemuda dan perempuan dalam gerakan tani terkait situasi yang dihadapi, tantangan organisasi, serta upaya penguatan gerakan di tengah dinamika sosial yang berkembang. Laporan tersebut mencakup pertemuan perempuan Asia tentang benih lokal, pertemuan perempuan Asia Tenggara dan Asia Timur, pertemuan perempuan internasional, pertemuan pemuda internasional, Forum Global Nyéléni ke-3, hingga agenda COP30–People Summit.
Seluruh laporan yang disampaikan menjadi fondasi penting bagi pertemuan regional, sekaligus menegaskan komitmen La Via Campesina dalam memperkuat gerakan tani yang berkeadilan.
Berbagi Situasi dan Tantangan Perjuangan Agraria di Kawasan

Delegasi dari organisasi anggota LVC Asia Tenggara dan Asia Timur kemudian menyampaikan laporan situasi dari negara masing-masing. Laporan tersebut menggambarkan kondisi konflik agraria, kebijakan pangan, hingga dampak korporasi dan liberalisasi perdagangan terhadap petani.
Diskusi ini memperkaya pemahaman bersama mengenai pola tantangan yang dihadapi di kawasan, sekaligus memperkuat solidaritas lintas negara sebagai kekuatan utama gerakan petani internasional.
Reforma Agraria dan UNDROP sebagai Agenda Bersama

Isu reforma agraria menjadi salah satu pembahasan utama dalam pertemuan ini. Melalui seminar reforma agraria pada Rabu (10/12/2025), peserta mendiskusikan berbagai perspektif dan pengalaman pelaksanaan reforma agraria di masing-masing negara.
Seminar menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi hukum agraria, petani, serta pimpinan organisasi petani dari Filipina. Diskusi menekankan pentingnya reforma agraria yang berpihak pada petani kecil serta implementasi UNDROP sebagai instrumen hak asasi petani di tingkat nasional, regional, bahkan global.
Sebagai tindak lanjut dari berbagai diskusi, para peserta secara kolektif menyusun action plan/rencana aksi untuk satu tahun ke depan. Rencana aksi ini mencakup tematik perjuangan mulai dari reforma agraria, pekerja pedesaan, perdagangan bebas, hingga kedaulatan pangan.
Belajar dari Basis Perjuangan SPI di Bengkulu
Pertemuan regional ditutup dengan kunjungan lapangan ke basis perjuangan SPI di Provinsi Bengkulu. Delegasi mengunjungi Desa Mojorejo, Kabupaten Rejang Lebong, dan Desa Bandung Jaya, Kabupaten Kepahiang.

Di Desa Mojorejo, peserta mengunjungi kegiatan Pendidikan UNDROP SPI untuk Regional II Sumatra yang sedang berlangsung. Pada kesempatan ini, delegasi dari berbagai negara berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan dan tantangan implementasi UNDROP di negara masing-masing.

Sementara itu, di Desa Bandung Jaya, peserta berdiskusi langsung dengan petani mengenai pelaksanaan reforma agraria di tingkat basis. SPI membagikan cerita keberhasilan perjuangan merebut kembali sekitar 14 ribu hektare lahan, sebuah capaian penting yang hingga kini masih terus diperjuangkan dan dipertahankan oleh petani SPI.
Melalui penyelenggaraan Regional Meeting ini, SPI menegaskan perannya sebagai bagian dari gerakan petani internasional yang berkomitmen pada perjuangan reforma agraria dan kedaulatan pangan. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas dan kerja kolektif organisasi petani di Asia Tenggara dan Asia Timur dalam menghadapi tantangan bersama.