Tiga petani Korea ditahan imigrasi Swiss

GENEVA. Tiga petani asal Korea yang akan mengikuti aksi damai melawan WTO ditahan imigrasi Swiss (28/11). Pemerintah Swiss beralasan pengusiran tersebut untuk menghindari kekacauan saat aksi terkait rekam jejak mereka pada pertemuan WTO Hong Kong. Namun terbukti alasan tersebut hanya dibuat-buat saja. Pada akhirnya aksi di Geneva rusuh tanpa kehadiran mereka. Sekelompok penyusup tak dikenal membuat kekacauan di mana-mana.

“Tindakan pemerintah Swiss sangat tidak beralasan, ini suatu tindakan anti demokrasi. Seharusnya siapapun yang ingin melakukan aksi damai tidak dihalang-halangi,” ujar Cecep Risnandar, Ketua Departemen Komunikasi SPI.

Lebih lanjut Cecep menengarai tindakan pemerintah Swiss tersebut disebabkan oleh tekanan dari WTO karena mereka tidak ingin ada gerakan yang massif menentang perdagangan bebas. Hal ini merupakan tindakan melawan demokrasi oleh WTO.

WTO tidak menerima perbedaan pendapat, meskipun itu didukung rakyat banyak. WTO hanya menerima pesanan dari perusahaan-perusahaan multinasional untuk kepentingan bisnis saja.

Sejauh ini, La Via Campesina masih memperjuangkan hak-hak 3 orang petani anggota Liga Petani Korea (KPL) tersebut. Upaya hukum sedang dilakukan untuk membebaskan para petani Korea agar bisa bergabung dengan gerakan massa lainnnya dalam protes melawan WTO di Geneva.