SPI membuka sekolah gratis untuk pemuda tani

BOGOR. Serikat Petani Indonesia (SPI) sebagai salah satu ormas tani terbesar di Indonesia, melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) pertanian berkelanjutan baru-baru ini telah melaksanakan salah satu programnya yang bertajuk “sekolah lapang teknis pertanian berkelanjutan”. Sekolah lapang ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Pusdiklat SPI sebagai salah satu ujung tombak dalam pelatihan dan pengkaderan petani anggota SPI.

Sekolah lapang yang berlangsung selama dua bulan ini diikuti 12 peserta yang datang dari berbagai daerah antara lain, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Peserta telah menempa diri untuk menjadi kader petani yang memiliki pemahaman dan wawasan luas dalam pemahaman ideologis serta memiliki keterampilan dalam hal kemampuan teknis pertanian berkelanjutan.

Selain itu, peserta dibekali dengan pengetahuan dan wawasan mencakup analisis sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang selama ini tengah terancam oleh agenda neoliberalisme yang bergerak untuk kepentingan para pemodal. Di sekolah lapang ini peserta diberakan pemahaman pentingnya perjuangan pembaruan agraria dalam rangka pencapaian kedaulatan pangan yang secara langsung berdampak pada kedaulatan petani, bangsa, dan negara Indonesia.

Melalui sekolah lapang peserta mendapatkan pengetahuan mengenai pertanian berkelanjutan seperti pentingnya pemahaman mengenai ekosistem, pengelolaan hama terpadu, pengelolaan lahan, irigasi serta beberapa contoh budidaya tanaman, seperti hortikultura, padi, dan palawija. Beberapa pengetahuan aplikatif pertanian berkelanjutan juga dikemas dalam bentuk praktikum seperti praktikum dasar ilmu tanah, pembuatan pupuk kompos, bokashi, arang sekam, larutan nabati, efektif mikroorganisme, uji benih, metode penanaman System Rice Intensification (SRI).

Setelah tanaman yang mereka kembangkan di Pusdiklat, pengajar memberikan pemahaman mengenai pengelolaan panen, pasca panen, dan pemasaran dipelajari dengan metode simulasi dan magang di koperasi SPI basis Cibeureum. Selain itu, untuk menambah dan memacu minat peserta dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan, mereka mengunjungi balai benih dan biogenetika, balai penelitian tanaman aromatik, balai penelitian ternak, pusat budidaya jamur, pusat keanekaragaman hayati, pemijahan ikan, dan Bank Benih SPI di Bogor.

Pusdiklat SPI yang terletak di Desa Cibeurem, Bogor ini telah mencetak 33 calon kader teknis pertanian berkelanjutan SPI. Setiap calon kader teknis diharapkan mampu melaksanakan tugasnya selama 4 bulan pasca kelulusan untuk membangun demplot pertanian berkelanjutan di wilayahnya masing-masing dan menjadi contoh di daerahnya, sehingga petani di sekitarnya tertarik untuk mendirikan demplot tersebut. Selain itu, para calon kader teknis diharapkan mampu membantu kerja-kerja pendidikan di wilayah masing-masing.

Untuk mendukung kegiatan sekolah lapang, SPI melalui Pusdiklat pertanian berkelanjutan memberikan fasilitas belajar penuh kepada peserta sekolah lapang. Selama pelaksanaan sekolah lapang berbagai kejadian menarik menambah keakraban diantara para peserta dari berbagai wilayah seperti adanya kegiatan mandi bersama dalam satu kamar mandi, hal tersebut dikarenakan Pusdiklat hanya memiliki satu kamar mandi.

Kesan siswa

Sekolah lapang angkatan kedua ini telah memberikan banyak kesan dan ilmu kepada peserta yang sebagian besar adalah pemuda tani. Di acara wisuda, peserta terlihat bersemangat untuk segera mengimplementasikan ilmu-ilmunya. ”Semoga SPI tetap jaya dalam perjuangannya, dan ilmu yang diperoleh bisa kami kembangkan ketika kami kembali ke kampung halaman,” ungkap Nanang, Ketua Kelas sekolah lapang angkatan II, disela-sela acara wisuda.

”Jauh dari yang saya perkirakan, saya mengira akan ditempatkan di villa, ternyata di saung, akan tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangat kita untuk terus belajar mencari ilmu, selain itu saung memang sudah menjadi tempat tinggal kita seperti di kampung halaman, kalau kita ditempatkan di villa atau gedung ber AC itu bukan habitat kita,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama Abdul Karim, peserta dari Nusa Tenggara Barat, mengatakan awalnya kami semua bingung karena setiap orang berbicara dalam dialek yang berbeda. “Dengan berjalannya waktu akhirnya kami dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia,” tutur Karim.

Hal lain diungkapkan para peserta perempuan, Yonati Jelulut dari NTT, ”Dengan mengikuti sekolah lapang, saya merasa menjadi sesorang perempuan mandiri,” ungkapnya.