20 Tahun SPI: Memperkuat Organisasi Petani Menjadi Kekuatan Terdepan dalam Memperjuangkan Kedaulatan Rakyat untuk Keadilan Agraria dan Kedaulatan Pangan

LOGO 20 TAHUN SPI_resize web

JAKARTA. Serikat Petani Indonesia (SPI) didirikan pada tanggal 8 Juli 1998 di Kampung Dolok Maraja, Desa Lobu Ropa, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Ketika dideklarasikan bernama Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI). Kelahiran SPI merupakan salah satu hasil dan tahapan dari perjalanan panjang perjuangan petani Indonesia untuk memperoleh kebebasan berkumpul, berorganisasi, menyuarakan pendapat dan kemandirian ekonomi petani.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Serikat Petani Indonesia (SPI) ke-20 yang jatuh pada tanggal 8 Juli 2018, Dewan Pengurus Pusat (DPP) SPI menggelar beberapa rangkaian kegiatan dengan tema “memperkuat organisasi petani menjadi kekuatan terdepan dalam memperjuangkan kedaulatan rakyat untuk keadilan agraria dan kedaulatan pangan” yang akan dilaksanakan mulai tanggal 08 – 30 Juli 2018.Henry Saragih, Ketua Umum SPI memaparkan, ada pun rangkaian kegiatan dimulai dengan acara syukuran 20 Tahun SPI pada tanggal 8 juli 2018 bertempat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT) SPI Kabupaten Bogor. Selanjutnya diikuti dengan “Pencanangan Desa Berdaulat Benih SPI dan peluncuran benih SPI”.  Kegiatan ini akan dihadiri oleh perwakilan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan organisasi petani internasional diselenggarakan pada tanggal 12 Juli 2018 bertempat di Lapangan Desa Klanderan Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur, dengan tema “Menegakkan Hak atas Benih untuk Kedaulatan Pangan”.

“Kita selanjutnya akan melaksanakan konsultasi benih tingkat Asia yang diselenggarakan oleh SPI Bersama International Planning Committee (IPC) untuk Kedaulatan Pangan yang didukung oleh Food and Agriculture Organization (FAO) United Nations,  pada tanggal 10-13 Juli 2018 bertempat di Bukit Daun Hotel and Resort, Jl Argo Wilis No. 777 Semen, Puhsarang Kabupaten Kediri, Jawa Timur,” paparnya.

Henry melanjutkan, kegiatan selanjutnya adalah diskusi publik tentang hak asasi petani dan reforma agraria sepanjang Juli 2018.

“Selanjutnya melakukan berbagai pertemuan massa untuk menyatakan pentingnya reforma agraria dilaksanakan di Indonesia, serta melakukan berbagai kegiatan menunjukkan hasil-hasil perjuangan reforma agraria yang sudah dilakukan SPI sejak berdiri sampai sekarang, seperti keberhasilan SPI membangun desa-desa reforma agraria di tanah air. Kegiatan ini dilaksanakan di semua wilayah anggota SPI,” sambungnya.

Henry menjelaskan, pada usia yang ke-20 pada tanggal 8 Juli 2018 ini, perjuangan SPI telah  berhasil dalam berbagai hal; SPI bersama dengan gerakan rakyat lainnya berhasil menjaga dan mempertahankan Undang-undang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) No. 5 tahun 1960 sebagai payung dari reforma agraria di Indonesia. SPI bersama dengan gerakan rakyat lainnya telah mendorong perjuangan reforma agrarian dan kedaulatan pangan menjadi program prioritas pemerintah Indonesia. SPI telah berhasil memperjuangkan, mendistribusikan dan mempertahankan tanah pertanian kepada para anggotanya. SPI berhasil mencetak kader-kader agroekologi dan mempraktekkan pertanian agroekologi diberbagai wilayah anggota SPI. SPI telah berhasil membangun pusat perbenihan di tiap wilayah kerja SPI sebagai upaya untuk melakukan pemuliaan dan produksi benih bagi petani petani anggota SPI dan petani lainnya. SPI berhasil membangun koperasi petani Indonesia di basis-basis petani yang bergerak di bidang produksi, distribusi produksi, dan kebutuhan-kebutuhan kehidupan petani lainnya.

SPI LAMPUNG PRINGSEWU PANEN BUPATI

SPI bersama dengan gerakan rakyat lainnya berhasil mendorong pengesahan UU 41 tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, pengesahan UU No. 18 tahun 2012 tentang pangan, dan UU no 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani. SPI juga melakukan judicial Riview diantaranya, UU no 25 tahun2007 tentang Penanaman modal, UU No 12 tentang Sistem Budidaya Tanaman, UU No 18 tahun 2009 tentang peternakan, dan UU No. 39 tahun 2014 tentang Perkebunan.

“Di tingkat internasional SPI bersama dengan La Via Campesina mengusulkan ke PBB untuk menjadikan hak asasi petani menjadi sebuah deklarasi PBB. Usaha ini tinggal pengesahan lagi, direncanakan di bulan September 2018 ini akan disahkan,” imbuhnya

“SPI telah dipercaya sebagai sekretariat regional La Via Campesina (organisasi petani Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara dan Timur berturut-turut sejak tahun 2000 sampai dengan sekarang. Kemudian telah menjadi sekretariat internasional La Via Campesina selama priode 2004 sampai dengan 2008, dan 2008 sampai dengan 2013,” lanjutnya.

Lebih lanjut Henry menjelaskan bahwa selama 20 tahun ini SPI menjadi organisasi perjuangan yang terdepan dalam melawan neoliberalisme. SPI menentang kehadiran REZIM perdagangan bebas di bawah World Trade Organization (WTO) dan perjanjian-perjanjian regional lainnya (Free Trade Agreement) yang memaksakan perdagangan bebas di dunia, yang membuat sistem perdagangan dunia semakin timpang, semakin tidak adil. Demikian juga rezim keuangan internasional di bawah World Bank dan IMF yang mendorong negara-negara di dunia menjadi tergantung pada permodalan yang dikuasai oleh negara-begara industry barat.

“Karena itu, pada kesempatan ini juga SPI  menegaskan bahwa pertemuan tahunan World Bank di Bali pada tanggal 10 – 12 Oktober 2018 akan datang  ini lebih baik tidak usah dilaksanakan karena akan  membuat Indonesia semakin terjerat ke dalam belenggu genggaman World Bank dan IMF,” imbuhnya.

dieng

Terakhir, Henry menutup bahwa belum berhasilnya Indonesia menjalankan reforma agraria, dan kedaulatan pangan sesuai dengan  janji yang telah dicanangkan pemerintah saat ini disebabkan oleh karena tekanan dari negara-negara industry yang tergabung kedalam OECD, dan juga lembaga-lembaga keungan internasional, serta persekongkolan korporasi-korporasi dunia (transnational coorporations).  Demikian juga tak terselesaikannya konflik-konflik agraria, dan terjadinya perampasan-perampasan tanah rakyat dan kriminilisasi pejuang petani akhir-akhir ini.

“Seperti penangkapan saudara Azhari, ketua SPI DPC Merangin, Jambi yang sekarang sedang diadili di pengadilan Negeri jambi. Dengan tuduhan tak beralasan sebagai dalang perambahan hutan,” tuturnya.

“Di ulang tahun ke 20 ini, SPI bertekad untuk terus memperkuat organisasi menjadi terdepan dalam  SPI  dalam memperjuangkan kedaulatan rakyat untuk tegaknya keadilan agraria, dan kedaulatan pangan di Indonesia, serta memberikan sumbangsih bagi kebaikan petani di tingkat dunia,” tutupnya.

Kontak Selanjutnya:
Henry Saragih – Ketua Umum SPI – 0811 655 668