Pada World Food Summit (WFS) Food and Agriculture Organization (FAO) bulan November 1996 di Roma, para pemimpin negara/pemerintah telah mengikrarkan kemauan politik dan komitmentnya untuk mencapai ketahanan pangan serta melanjutkan upaya menghapuskan kelaparan di semua negara anggota dengan mengurangi separuhnya jumlah penderita kekurangan pangan pada tahun 2015. Menurut FAO pada tahun 1996 terdapat 800 juta dari 5,67 milyar penduduk dunia yang menderita kurang pangan, diantaranya 200 juta balita menderita kurang gizi terutama energi dan protein. Laporan PBB juga mencatat bahwa 3 – 5 ribu orang mati setiap hari akibat kelaparan dan dampaknya. Angka ini lebih besar lagi terjadi di negara – negara Sub Sahara – Afrika, negara – negara miskin dan didaerah yang terlibat konflik perang.
Di Indonesia ancaman kelaparan dan kekurangan gizi pada bayi dan balita telah menjadi persoalan yang sampai hari ini belum bisa terselesaikan oleh negara. Contoh kasus, data Dinas Kesehatan Kota Bogor menunjukkan 317 balita (bayi dibawah tiga tahun) di Bogor kekurangan gizi, hal ini akibat tidak mempunyai orang tua anak tersebut memenuhi kebutuhan pangan akibat kemiskinan, karena penghasilan yang tidak menentu seringkali anak – anak tersebut hanya makan 1 hari sekali (kompas, 17 April 2002). Kasus lain, di Kab. Kutai, Kalimantan Timur, yang dikenal dengan kabupaten kaya raya, ternyata banyak memiliki warga yang miskin, terutama didaerah pedalaman yang hanya menggantungkan hidupnya dengan makan 1 hari sekali (Kompas, 16 April 2002)
Walaupun saat ini ancaman kelaparan itu belum begitu meluas, akan tetapi untuk kasus Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil, karena pada saat inipun Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat besar tergantung pangannya dari luar negri (Food Trap). Saat ini Indonesia berada dalam status rawan pangan, bukan karena tidak adanya pangan tetapi lebih karena pangannya tergantung dari pihak lain. Jika kita menilik angka impor pangan dari tahun ketahun selalu melonjak, akibat pertambahan penduduk, semakin rendahnya produktifitas lahan pertanian serta menurunnya minat petani untuk berproduksi akibat tidak adanya kebijakan dalam meningkatkan kesejahteraan petani penghasil pangan. Pada tahun 2001, data import bahan pangan yaitu gandum mencapai 3,5 juta ton, jagung 1,2 juta ton, beras 2 juta ton, kedelai 1,2 juta ton, gula pasir 1,7 juta ton, yang keseluruhan devisa yang dihabiskan Rp. 16,62 triliyun, ditambah import buah – buahan sebanyak Rp. 900 milyar (Kompas, 16 Oktober 2001). Hal ini menunjukkan fakta yang sangat ironis, dimana Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agraris dan berlahan subur ternyata kebutuhan pangannya sangat tergantung dari luar negeri.
Dalam upaya mengatasi kelaparan, World Food Summiot (WFS) 1996 mengeluarkan berbagai pandangan dan rencana kerja yang harus di implementasikan seluruh negara – negara yang menjadi anggotanya. Diantara program tersebut adalah dikeluarkannya resolusi nomor 176 tahun 1996 yang isinya menjadikan hari kelahiran PBB FAO pada tanggal 16 Oktober sebagai HARI PANGAN SEDUNIA, dan dijalankannya suatu konsep Keamanan Pangan (Food Security) sebagai suatu upaya untuk mengatasi bahaya kelaparan yang menimpa dunia. Adapun prinsip – prinsip yang terkandung dalam konsep tersebut adalah sebagai berikut :
Kini lima tahun setelah WFS dilaksanakan, fakta menunjukkan bahwa produksi jumlah makanan di tingkat dunia (Stock pangan) sebenarnya sangat berkecukupan. Namun muncul pertanyaan mengapa dengan jumlah produksi makanan yang berlimpah tersebut, angka kelaparan ditingkat dunia masih tinggi seperti yang telah digambarkan diatas. Dari fakta – fakta itu menunjukkan bahwa konsep Keamanan Pangan (Food Security) telah gagal dalam mengatasi kekurangan pangan bagi ummat manusia di tingkat dunia. Adapun penyebab ketidak sanggupan konsep Keamanan Pangan (Food Security) dalam mengatasi kekeurangan pangan bagi sebagian ummat manusia adalah sebagai berikut :
(1) Keyakinan dari FAO bahwa Bio teknologi dapat memenuhi kebutuhan pangan dunia menjadi isapan jempol semata. Karena kenyataannya dengan rekayasa genetika tidak dapat memecahkan problem kelaparan. Sebab pihak – pihak yang sanggup menerapkan system pertanian dengan menggunakan bibit hasil rekayasa genetika adalah hanyalah peaatani pemilik modal yang kuat atau perusahaan – perusahaan pertanian. Dengan diterapkannya Rekayasa Genetika telah mendorong tidak terlestarikannya keaneka ragaman hayati sebagai sumber kekayaan alam yang dimiliki oleh rakyat selama ini.
Akibatnya seluruh teknologi pertanian dibidang pangan dunia hanya dikontrol oleh segelintir perusahaan – perusahaan berskala internasional. Saat ini ada 5 perusahaan yang mengontrol 100 persen perdagangan teknologi pertanian. Kontrol perusahaan – perusahaan tersebut menjadi kuat karena didukung oleh Intelectual Property Rights (IPRs). Sebenarnya sebelum kehadiran Rekayasa Genetika, FAO turut mendukung pelaksanaan dari Gerakan Revolusi Hijau yang dijalankan di negara – negara berkembang dan Indonesia dijalankan sejak rejim Orde Baru berkuasa. Gerakan Revolusi Hijau sebagaimana telah umum diketahui di Indonesia tidak mampu untuk menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara yang berswasembada pangan secara tetap, tetapi hanya mampu dalam waktu lima tahun, yakni antara tahun 1984 – 1989. Disamping itu, Revolusi Hijau juga telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial pedesaan.
Karena ternyata Revolusi hijau hanyalah menguntungkan petani yang memiliki tanah lebih dari setengah hektar, dan petani kaya di pedesaan, serta penyelenggara negara di tingkat pedesaan. Sebab sebelum revolusi hijau dilaksanakan, keadaan penguasaan dan pemilikan tanah di Indonesia sudah timpang, akibat dari gagalnya pelaksanaan Pembaruan Agraria yang telah mulai dilaksanakan pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1965.
(2) Keyakinan FAO bahwa kesepakatan – kesepakatan yang ada di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization) perdagangan pangan akan dapat menjamin keamanan pangan (Food Security) di tingkat dunia. Khusus dibidang pertanian diatur dalam kesepakatan yang disebut dengan Agrement Of Agriculture (AoA). Di dalam AoA ini diatur mengenai tidak bolehnya suatu negara melakukan proteksi perdagangan pertanian, penghapusan tentang pembatasan tariff, dan dihapuskannya kebijakan subsidi eksport dan produksi pertanian. Selain diatur melalui AoA, kebijakan pertanian di dunia juga terikat dengan kesepakatan – kesepakatan lainnya yang ada di bawah WTO, yakni tentang Trade Related Intelectual Proverty Rights (TRIPs) yaitu mengenai pematenan terhadap teknologi hasil rekayasa genetika, termasuk juga keaneka ragaman hayati yang diakui sebagai penemuan oleh pihak – pihak tertentu. Selain itu, pertanian juga terikat dengan kesepakatan Sanitary and Phytosanitary (SPS). Secara khusus negara – negara yang mengalami krisis moneter juga terikat dengan kesepakatan – kesepakatan yang dibuat dengan institusi – institusi internasional dalam Program Structural Adjusment Program (SAP) yang dibuat oleh IMF. Bagi negara – negara penerima dana dari Bank Dunia (World Bank), dan lembaga – lembaga keuangan internasional lainnya, juga terikat dengan beberapa kesepakatan lainnya dalam upaya menjalankan program – program yang berasal dari pinjaman.
Kenyataannya setelah kesepakatan – kesepakatan WTO itu dilaksanakan sejak tahun – tahun 1995 telah menyebabkan terjadinya perubahan yang mendasar dalam bidang kehidupan perekonomian dunia, termasuk dibidang pertanian. WTO akhirnya telah menyebabkan terjadinya monopoli perdagangan, bukannya liberalisasi perdagangan. Dibawah WTO negara – negara industri mampu meningkatkan eksport pertaniannya menjadi lebih kuat akibat masih diterapkannya praktek – praktek dumping secara terselubung.
Ketidakadilan dan ketergantungan pangan atau ketidakmerdekaan dalam bidang pangan yang terjadi saat ini dapat dilihat dari kecenderungan kebijakan dan praktek pembangunan pertanian yang terjadi di beberapa negara.
Melanjutkan fakta – fakta yang sebelumnya di sampaikan diatas, di Indonesia dengan mudah kita bisa menyajikan fakta – fakta yang menunjukkan kondisi pangan di Indonesia semakin buruk, yang telah menyebabkan hilangnya kedaulatan peatani Indonesia terhadap produksi pangan, dan kedaulatan konsumen terhadap pangan yang dikonsumsinya.
Dari fakta – fakta yang digambarkan di atas, kondisi pangan yang terjadi saat ini di dunia, dan di Indonesia menunjukkan terjadinya posisi “ketergantungan pangan” pada segelintir perusahaan Internasional. La Via Campesina (organisasi Perjuangan Petani Internasional) sebagai organisasi payung SPI di tingkat Internasional telah memperkenalkan konsep kedaulatan pangan (Food Sovereignty) bagi ummat manusia di dunia ini pada World Food Summit WFS) yang dilaksanakan pada bulan November 1996 di Roma – Italy. Pada saat itu, La Via Campesina melakukan mobilisasi massa untuk mengecam konsep kedaulatan pangan (Food Security) yang dipromosikan oleh FAO dan lembaga – lembaga Internasional lainnya. Sampai hari ini konsep yang diajukan oleh La Via Campesina tidak mendapat respon positif dari FAO, dan negara – negara anggotanya. Meskipun demikian, kini konsep yang diinisiatifi oleh La Via Campesina tersebut telah diakui dan turut di perjuangkan oleh gerakan social di seluruh dunia.
Kedaulatan Pangan adalah suatu hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk memiliki kemampuan guna memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri. Kedaulatan pangan adalah merupakan prasyarat dari sebuah ketahanan pangan (food Security), maksudnya adalah suatu hal yang mustahil, Ketahanan pangan tercipta kalau kedaulatan pangan tidak dimiliki oleh rakyat. Oleh karena itu merupakan suatu keharusan bagi setiap bangsa dan rakyat untuk dapat mempunyai hak dalam menentukan makanan yang dipilihnya dan kebijakan pertanian yang dijalankannya, kapasitas produksi makanan lokal di tingkat lokal dan perdagangan di tingkat wilayah.
Dalam upaya menciptakan kedaulatan pangan menuju kepada keamanan pangan yang sejati, pemerintah – pemerintah haruslah melaksanakan kebijakan – kebijakan yang mempromosikan keberlanjutan, berlandaskan pada produksi pertanian keluarga, menggantikan peran industri yang berorientasi pertanian eksport. Dengan demikian, kedaulatan pangan berarti menyangkut hal – hal sebagai berikut :
Persoalan pangan bagi bangsa indonesia, dan juga bangsa – bangsa lainnya di dunia ini adalah merupakan persoalan yang sangat mendasar, dan sangat menentukan nasib dari suatu bangsa, karena ketergantungan pangan dapat berarti terjadinya terbelenggunya kemerdekaan bangsa dan rakyat terhadap suatu kelompok, baik neagara lain maupun kekuatan – kekuatan ekonomi lainnya. Bagi bangsa Indonesia, ketergantungan pangan akan menyebabkan persoalan – persoalan mendasar sebagai berikut :
Beranjak dari pandangan tersebut, maka SPI dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut :
Ditetapkan di:
Malang, Jawa Timur (28 Februari 2003)
saya adalah seorang petani. beraneka hasil kebun yang ada di ladang kami.ada jagung, ubi, padi, dll. tapi kami sangat kecewa mendengar berita di tv, kita mengimport bahan pokok dari luar spt ubi dll, dg alasan di indonesia tidak mencukupi. sedangkan hasil kebun kami dijual dengan harga sangat murah dan kadang tidak laku, dg alasan sudah terlalu banyak di pasaran. kami jadi bingung, apakah pemerintah memang mau menekan kami rakyat kecil?? dengan mengambil barang luar negri agar hasil bumi indonesia tidak lalu lagi. dan smua kebutuhan rakyat kecil harga dilangit. INILAH PENINDASAN PEMERINTAH TERHADAP RAKYAT, KALAU BUKAN PENINDASAN, BERARTI KEBODOHAN PEMERINTAH….