Catatan Perjalanan: Belajar Dari MST, Brazil

Oleh: Syahroni *)

JAKARTA. Serikat Petani Indonesia (SPI) yang merupakan organisasi massa perjuangan petani terbesar di Indonesia diharapkan mampu memimpin dan mendorong terjadinya penguatan oragnisasi di tingkat regional Asia. Oleh karenanya pendidikan dan pembenahan organisasi terus dilakukan, mulai dari tingkat pusat hingga ke tingkat basis. Pendidikan dan pembenahan organisasi tersebut terus didorong dalam rangka meningkatkan kapasitas organisasi dan mempercepat pencapaian tujuan organisasi.

Sesuai dengan fokus kerja dan mandat GBHO SPI tahun 2011, yaitu tahun pendidikan dan kaderisasi, SPI berkomitmen untuk terus mencetak kader organisasi yang militan dan mendorong pembangunan kapasitas bagi petani yang merupakan kader-kadernya. Disamping itu juga, SPI pada tahun ini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian penting dalam proses-proses pendidikan dan pengorganisasian di kawasan Asia. Pembangunan kapasitas kader dilakukan dengan berbagai bentuk, salah satu di antaranya dengan mengadakan program pertukaran dengan organisasi sesama anggota La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) di Brazil, yaitu Movimento dos Trabalhadores sem Terra (MST) pada 21 September – 5 Oktober 2011 lalu.

MST dipilih sebagai tempat pendidikan bagi kader SPI karena berbagai pertimbangan, diantaranya karena keberhasilan MST dalam membangun sistem pendidikan yang tersistematik sebagai alat kaderisasi. MST telah memiliki institusi-institusi pendidikan yang mampu mejadi tempat kegiatan pendidikan dan latihan anggota dan kadernya secara reguler. MST juga telah berhasil mencetak kader-kader yang banyak dan militan dalam berbagai keahlian/kapasitas yang dibutuhkan oleh anggota maupun organisasinya (misalnya: kader politik, kader ketrampilan teknis, guru kader dan kader-kader pengorganisasian).

Selama lebih dari dua minggu terjadilah saling berbagi tentang keorganisasian secara umum dan mempelajari dinamika organisasi tani dan pengorganisasiannya di MST; tukar pengalaman tentang sistem pendidikan dan bagaimana menjalankan pendidikan yang efektif dan sistematik (jenis pendidikan yang ada, kurikulum, metodologi, institusi pendidikan, monitoring kader, dan administrasi pendidikan lainnya); dan menggali pengalaman tentang gerakan petani menjadi/sebagai gerakan sosial dan gerakan politik.

Kunjungan Lapangan (Field Trip)

Kami juga berkesempatan mengunjungi langsung beberapa daerah perjuangan MST di dua negara bagian (state) yakni di Sao Paolo dan Parana. Kunjungan lapangan pertama ke daerah Ittavepa di Sao Paolo. Ittavepa merupakan wilayah yang tertua dari anggota MST. Wilayah seluas 19.000 Ha ini adalah hasil pendudukan anggota MST pada tahun 1983, yang dulunya milik 3 keluarga dari Belanda, yang kemudian diolah oleh 200 Kepala Keluarga (KK). Pada tahap awal setelah okupasi (1984), kelompok gereja banyak memberikan bantuan untuk “bertahan hidup”. Selanjutnya daerah ini dibagi menjadi enam kawasan (agrovilla) yang ditempati oleh 600 Kepala Keluarga (KK), dan hingga kini sudah terdapat 1.000 KK di daerah ini. Yang menariknya dari 19.00 Ha lahan yang dikuasai, 6 Ha diperuntukkan bagi MST dan diolah secara kolektif. Pasca pendudukan lahan di daerah ini, MST melakukan penataan produksi dengan membangun koperasi (koperasi produksi, koperasi distribusi dan koperasi konsumsi). Contohnya adalah CoAPRI (Cooperativa of agriculture agrarian reforms and small production), yang mengembangkan produk-produk agroekologi, agroindustri dan memasarkannya. Produk utamanya adalah gandum, susu dan sayur-sayuran sebagai tambahan. Selain CoAPRI juga ada Copava (Cooperativa De producao Agropecuaria vo Aparecida) dengan usaha pabrik penggilingan padi mini, pabrik minuman cashaca, dan biogas untuk perumahan.

Kawasan MST di Ittarapeva ini juga sudah memiliki sekolah agroekologi (Institute d Agroekologi). Sekolah ini merupakan tempat pendidikan teknis pertanian agroekologi bagi kader MST dan juga masyarakat umum. Sekolah ini membuka kelas-kelas khusus, maupun kelas kursus yang bisa diformalkan atau disertifikati oleh universitas rekanan MST. Pengelolaan dan pemeliharaan sekolah ini dilakukan secara kolektif, mulai dari kerja bakti kebersihan, dapur umum, konsumsi, dan pembiayaan. Penanggung jawab dari sekolah ini adalah seorang lulusan sarjana pertanian. Di samping itu, di daerah pendudukan lama (settlement) ini juga ada sekolah yang sudah diformalkan oleh pemerintah, mulai dari kelas TK sampai SMA, serta kelas khusus untuk mereka yang telah berusia lanjut. Sekolah ini dikelola oleh anggota MST dan beberapa guru serta professor dari pemerintah. Kelompok petani perempuan juga telah mampu mengelola industri rumah tangga seperti parfum dan sabun.

Kunjungan berikutnya ke daerah Londrina di negara bagian Parana. Kawasan ini merupakan lokasi perjuangan MST yang terdekat dengan kawasan perkotaan, dan dilakukan dengan mengorganisir kaum miskin kota dan pribumi pada tahun 1991. Komunitas di kawasan ini juga telah memiliki peternakan susu, sekolah (Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, lengkap dengan alat transportasinya) , klinik, ruang pertemuan, kantor dan radio komunitas, serta koperasi.

Untuk penataan produksi pasca aksi pendudukan lahan -setelah pemerintah menyetujui- diperbantukan apa yang disebut dengan INCRA (Lembaga Pemerintah Federal Brasil untuk Kolonisasi dan Reforma Agraria) yang bertugas melakukan penataan lahan, sistem produksi, dan layanan publik lainnya.

Selanjutnya kami bergerak ke kawasan Porecatu, Parana. Kawasan ini merupakan lahan perjuangan yang termasuk kategori muda karena proses okupasi dimulai pada tahun 2008. Komunitas di daerah ini juga telah memiliki sekolah bagi anak-anak petani mulai dari TK, sampe SD. Para guru berasal dari anak-anak di kawasan tersebut, ataupun pemuda yang ditunjuk oleh MST untuk live in (sebagai penanggung jawab), dan guru dari pemerintah untuk mengajar kelas 5 dan kelas 6. Setiap dua minggu dilakukan evaluasi proses belajar mengajar yang dipandu oleh guru dari pemerintah.

Keesokan harinya, 30 Oktober 2011, kami bergerak ke Parana City, Parana, Brazil. Kawasan ini adalah lahan perjuangan MST yang diproyeksikan sebagai koperasi, karena dulunya lahan seluas luas 250 Ha ini adalah milik perusahaan perkebunan tebu yang bangkrut pada tahun 1993. Selanjutnya MST mendirikan koperasi dengan nama CoPavi. Teman kami dari daerah ini menceritakan bahwa enam tahun pertama merupakan masa-masa sulit koperasi, mulai dari penataan lahan, dan pendirian kemah-kemah tempat tinggal.

“Sejak awal nilai-nilai kolektivitas ditanamkan dalam koperasi ini , contohnya karena produksi belum baik -ada beberapa anggota yang bekerja di luar- mereka harus membagi keuntungannya sama rata dengan orang yang tetap berada, bekerja dan membangun koperasi ini,” tutur teman kami ini.

Di lahan koperasi ini juga sempat terjadi konflik dengan politisi lokal, karena lahan ini hendak dibangun perumahan, namun berkat kerja-kerja politik organisasi, konflik pun berhasil dimenangkan oleh CoPavi-MST. Produksi utama dari koperasi ini sedniri adalah gula dari tebu, sayur-sayuran untuk konsumsi sendiri, susu, yoghurt dan keju.

Keesokan harinya kami berkesempatan mengunjungi Escola Agroecologia “Milton Santos” yang notabene merupakan sekolah formal yang dimiliki oleh MST di daerah Maringa, Negara Bagian Parana. Nama Milton Santos sendiri diambil dari tokoh pergerakan di Brazil. Latar belakang MST mendirkan sekolah formal ini dimulai dari diskusi-diskusi dengan Universitas lokal sejak tahun 1999. Selanjutnya pada Kongres MST kelima, direkomendasikanlah untuk membangun sebuah sekolah, agar perjuangan agroekologi punya bukti ilmiah dan dapat menjadi contoh. Sekolah yang mulai dibangun pada tahun 2002 ini juga bertujuan agar generasi muda tetap mau bertani dengan menggunakan sistem pertanian agroekologis dan berkelanjutan.

Sekolah ini memiliki luas areal 50 Ha yang meliputi bangunan (ruang kelas, kantor, perpustakaan, laboratorium, perawatan bayi, dapur umum, wisma siswa, dll), kebun produksi dan penelitian, peternakan, dan perumahan guru dan pengelola sekolah. Proses belajar mengajar di sekolah ini terdiri dari kelas formal (tiga tahun), kelas khusus (bagi anak-anak yang telah lulus SMA) selama 6 bulan belajar tentang teknik agroekologi, serta dan kursus-kursus bersertifikasi universitas lokal. Hingga saat ini, sudah ada 4 angkatan yang lulus dari sekolah ini.

“Problem mendasar disini adalah walaupun Brazil merupakan negara pertanian, anak-anak mudanya sudah jarang yang memiliki orientasi dan integritas di dunia pertanian,” tutur salah seorang pengajar di Escola Agroecologia Milton Santos.

Pada 3 Oktober 2011, kami kemudian melakukan kunjungan ke komunitas urban MST di Sau Paolo. Ada tiga buah komunitas yang dibangun MST di daerah perkotaan Sao Paolo.  Ketiga komunitas ini pada umumnya adalah masyarakat kota miskin yang tidak memiliki pekerjaan dan diajak untuk bertani dan berproduksi. Luas lahan yang diduduki dan dikuasai juga terbilang sempit.

Sekilas Sejarah MST

Corak gerakan MST secara tidak langsung dipengaruhi oleh sejarah kolonialisasi di Brazil. Hal ini dimulai tahun 1535 ditandai dengan datangnya orang-orang portugis—sebagai konsekuensi dari revolusi industri di Eropa, selain orang portugis juga orang-orang Italia, Rusia, Belanda dan bahkan Jepang, yang sebenarnya juga mereka adalah petani yang kalah bersaing, sehingga seketika tiba di Brazil sudah mampu menerapkan sistem pertanian dan konsep perkebunan.  Akhirnya sistem pertanian dan perkebunan dibawah kontrol tuan tanah mulai berkembang pesat dan penduduk asli yang terdesak di wilayah pedesaan pindah ke perkotaan menjadi buruh pabrik industri dan menjadi kaum miskin di perkotaan. Pada akhirnya kelompok inilah yang menjadi sasaran pengorganisasian MST dan berpengaruh pada model gerakan MST.  Melalui grup-grup informal inilah MST bergerak untuk menumbuhkan kesadaran, inisiatif dan motivasi serta bagaimana membangun kolektifitas tatanan masyarakat baru

Secara struktur MST mirip dengan SPI. Keanggotaan adalah keluarga—baik sendiri maupun lebih dari dua orang. Semua program diawali dengan isu reforma agraria dan dimuarakan pada reforma agraria, yang artinya isu turuanan dan kegiatan praktis selalu dalam kerangka reforma agraria.

MST menempatkan kegiatan pendidikan dan sekolah menjadi hal yang sangat penting dalam organisasinya, baik pendidikan yang bersifat mencetak kader-kader organisasi yang militan maupun pendidikan formal yang bisa diakses oleh anak-anak dari keluarga MST.

 

*Penulis adalah Ketua Departemen Pendidikan, Kesenian, Pemuda dan Budaya SPI