Dualisme Ekonomi Bola dan Petani

Babak penyisihan piala dunia baru saja usai.  Tentu saja kebahagiaan bagi tim-tim yang lolos pada babak selanjutnya. Sebaliknya kesedihan yang tiada tara bagi tim-tim yang tidak lolos alias harus pulang kandang. Kesedihan karena usaha perjuangan untuk menembus piala dunia sudah dilakukan sejak babak kualifikasi yang memakan waktu 2- 3 tahun lenyap dalam tiga pertandingan saja. Seperti layaknya seorang siswa SMA yang tidak lulus karena nilai ujian nasionalnya jeblok. Ketekunan belajar selama tiga tahun serasa tidak berarti karena pada saat ujian, pelajar tersebut sedang sakit atau stres akan ikut pemilu untuk pertama kalinya (Jadi setujukah anda dengan ujian nasional mendatang, lho?). Tidak lupa juga betapa kecewanya Ribery dari Perancis, Falcao dari  Kolumbia dan Reus dari Jerman yang tidak bisa main karena cedera.

Namun kenyataan tersisih dan pulang kandang masih tetap saja tidak bisa diterima oleh sebagian publik atau apalagi penjudi yang pasang taruhan tinggi kepada tim-tim unggulan, seperti Spanyol, Italia dan Inggris. Spanyol adalah juara dunia 2010 dan Italia Juara Dunia tahun 2006. Sementara untuk Inggris, liga primernya merupakan liga terbaik dan termahal. Harga hak siar liga Inggris seharga 90 juta USD atau hampir 1000 milyar Rupiah untuk 3 musim. Angka tersebut sama dengan jatah 1000 desa menurut UU Desa. Belum lagi jutaan Dollar yang berputar di liga Inggris, Spanyol dan Italia untuk menggaji para pelatih dan pemain-pemain Wayne Rooney, Ronaldo, Steven Gerrad, Torres, Casilas, Balloteli dan Samuel Eto’o – yang pernah digaji satu milyar sehari saat membela klub Anzhi Rusia. Sementara itu Perancis dan Jerman dengan liga-liganya yang tidak semahal Inggris dan Spanyol berhasil lolos dan maju ke Babak selanjutnya. “ Tidak rela, tidak rela,”layaknya ucapan gadis di iklan shampo jadul alias jaman dahulu, dengan hasil babak penyisihan piala dunia sekarang ini.

Ya begitulah industri sepak bola, yang akhirnya bisa merubah nasib seorang pemain bola menjadi milyader dan kejatuhan pulung karena dikelilingi model-model kodew alias cewek-cewek cantik. Namun dalam industri  – kapitalis – sepak bola, seorang pemain  dituntut untuk memiliki dan terus menumbuhkan  need of achievement – kebutuhan untuk berprestasi – begitu mungkin yang dikatakan fasilitator pelatihan motivasi, agar tidak tersisih atau  disisihkan oleh pemain lainnya, dan gol. Demikian seorang pemain bola profesional  dibakar semangatnya untuk berlatih, berandil tinggi dalam kemenangan timnya dan terakhir bergaji tinggi. Tapi sebaliknya jangan sampai – pesan sang fasilitator – seorang pemain bola mempunyai need of affiliation ( harmonis, tidak berkonflik). Bisa gawat tuhseorang kiper akan mempersilakan penyerang dari pihak lawan untuk menendang masuk bola sambil berucap “silahkan dimasukkan,.monggo”. Lha untungnya si penyerang punya motivasi yang sama dan akhirnya berucap “terima kasih, nanti saja,” – sambil berbalik arah an skor akhir pertandingan adalah kaca mata alias 0-0. Capek deh.

Capek deh – ungkapan rasa kecewa, gemes dan greteten  ini mungkin dan sudah terucap juga oleh penyuluh, fasilitator pendamping petani dan menteri pertanian, ketika bermaksud menumbuhkan jiwa agribisnis, jiwa pengusaha dan berdaya saing untuk mengeluarkan kaum tani dari jerat kemiskinan yang seperti lengket kayak perangko – dengan mereka. Oleh karena jawaban atau tanggapan (apalagi dengan sikap diam) bapak dan ibu tani serasa datar saja. Nrimo ing pandum ( menikmati apa adanya), yang penting masih ada cadangan beras untuk kebutuhan keluarga sendiri dan sisanya untuk jimpitan atau dijual untuk memenuhi kebutuhan pokok lainnya atau bayar hutang di awal musim tanam. Bapak dan ibu tani tersebut tergolong memiliki kebutuhan untuk harmoni (need of affiliation) yang tinggi. Seperti seorang perempuan tua di Pasar Gede Madiun yang hanya menjual sekeranjang jagung dan kacang hasil lahan sempit di pinggir Bengawan Madiun. Berjualan memang tidak mencari untung semata (dan tidak akan untung), tapi untuk beraktifitas, socialita antar pedagang kecil. Waduh, gimana mau maju dan kaya, bila seperti ini – mungkin begitu ungkapan kecewa dan gemes dari motivator agribisnis.

Kegemasan seperti itu juga dirasakan dan diteliti oleh Boeke – seorang peneliti dan pencetus dualisme ekonomi di era penjajahan Belanda tahun 2010. Menurutnya, penduduk desa digambarkan dalam pola ekonomi tradisional, dimana kebutuhan ekonomi, terpisah dari perekonomian modern yang dibawakan oleh unsur modern. Potensi untuk berkembang ditemukan oleh Boeke hanya pada segilintir tokoh di lapisan atas di desa yang telah memasuki perekonomian uang dengan berhasil. “Petani lapisan atas yang paling siap, lebih cenderung bersikap modern daripada petani sempit di lapisan bawah yang jumlahnya  jutaan orang.” ( Sayogyo, 1993). Sementara sampai tahun 2013 ini rumah tangga  petani lapis bawah atau petani gurem sudah mencapai 14 juta jiwa. Kalau pun ‘dipaksa’ atau muncul kebutuhan untuk berprestasi dan beragribisnis, golongan petani kecil akan kesulitan, bila perbankan masih ragu untuk membiayai usaha tani dan pemerintah ragu-ragu untuk menambah luas garapan petani kecil melalui reforma agraria dan juga untuk melindungi pasar dari serbuan pangan impor.

Dengan demikian akan ada kebimbangan bagi petani kecil untuk madep mantep beragribisnis ria dan ‘keluar’ dari tradisi harmoni dengan hambatan seperti di atas. Kondisi ini sebenarnya yang juga dialami oleh kaum tani di era penjajahan. Mereka dituntut dan dipaksa kerja paksa untuk memproduksi kopi atau rempah-rempah karena pasar Eropa menjanjikan. Namun mereka harus membayar upeti dan pajak yang tinggi, sehingga mereka tidak dapat apa-apa ketika sudah pada posisi maju untuk berprestasi dan beragribisnis.Ya lebih baik bertani ‘santai saja’, harmoni dan sosial alias perilaku non ekonomi.

Sementara juga ada petani kopi di era penjajahan berperilaku demikian, ”bahwa orang Jawa di Priangan hanya sedikit saja kebutuhan nya ( kopi), bahwa mereka sudah biasa dengan harga yang ditentukan ..bahwa penaikan harga kopi untuk banyak orang tidak akan membawa pengaruh pada peningkatan tanaman kopi, tetapi sebaliknya kebanyakan akan melihat bila kebutuhan mereka telah tercukupi dengan hasil kopi yang lebih sedikit jumlahnya, maka mereka akan bertahan dengan jumlah hasil yang sedikit dan tidak berupaya menambah hasil mereka,” ( Jan Breman, 2014).

Namun perlu diiingat, hasil penelitian Grain (2014) tentang keluarga petani kecil, menunjukkan petani kecil justru menyumbang 40 % pangan untuk seluruh penduduk dunia. Mungkin mereka tidak mendapatkan profit atau subsisdi dan jaminan sosial yang berarti dari pemerintahnya, tapi begitulah persembahan dari hasil produksi non ekonomi jutaan keluarga petani kecil. FAO mengakui peran keluarga petani kecil ini, tapi entah apa yang akan dipersembahkan ke keluarga petani di Tahun 2014, yakni Tahun Keluarga Petani Internasional saat ini.

Kembali ke Laptop, bola. Para pemain bola profesional memang dengan motivasi atau  need of achievement yang tinggi sudah mendapatkan profit yang tinggi pula, tapi sayangnya mereka tidak begitu greget ketika membela tim sepakbola negaranya, sehingga terbukti Spanyol, Inggris, Italia dan juga Kamerun harus pulang kandang. Dalam hal ini kesebelasan Kamerun hampir diisi seluruhnya oleh pemain bola profesional, seperti Eto’o yang bermain di Chelsea dan Song di Barcelona. Bahkan Kesebelasan Kamerun minta bonus yang tinggi sebelum berangkat. Waduh. Pada posisi ini, para pemain bola profesional nampak malas-malasan atau tidak mempunyai kebutuhan untuk berprestasi demi negaranya alias Nasionalisme wani piro. Keikutsertaan dalam kesebelasan dibawah bendera negara hanya sebatas untuk menjaga harmonis saja, fatsun dan pantes-pantesan. Naah giliran fasilitator atau menteri olah raga yang bilang capek deh.

 

*Penulis saat ini aktif di Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia

ARTIKEL TERKAIT
Refleksi Konsultasi ITPGRFA
Kisah Singkat Beberapa Pejuang Petani Perempuan SPI dari Sum...
SPI gelar Rakernas di Jakarta
UU pangan harus lindungi petani kecil UU pangan harus lindungi petani kecil
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU