Kekeringan, Petani di Lima Kabupaten di Sumatera Barat Terancam Gagal Panen

PADANG. Dampak dari musim kemarau yang melanda provinsi Sumatera Barat (Sumbar) telah mulai dirasakan oleh petani di provinsi ini. Hampir di semua kabupaten mulai terjadi kekeringan yang menyebabkan penurunan produksi hasil pertanian bahkan ancaman gagal panen.

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumbar mencatat, berdasarkan laporan dari pengurus SPI telah terjadi kekeringan di lima kabupaten.

Antosmet, petani SPI di Kabupaten Lima Puluh Kota menjelaskan, lebih dari 350 hektare padi terancam gagal panen di daerahnya.

“Kekeringan dan ancaman gagal panen telah terjadi di tiga jorong di Nagari Sungai Kamuyang. Jorong tersebut adalah Jorong Sibaladuang, Jorong Rageh dan Jorong Madang Kadok. Selain itu, di beberapa titik di Kecamatan Lareh Sago Halaban juga mengalami kekeringan dan ancaman gagal panen,” kata Antosmet (30/07).

Di Kabupaten Agam,  petani sayur mengalami kerugian yang besar akibat terdampak musim kemarau ini.

Zulazmi Khatib, Ketua SPI Basis Cingkariang memaparkan, kekeringan telah menyebabkan hasil panen petani sayur menurun 40% di Kecamatan Banuhampuah.

“Ada tiga nagari yang terkena dampak di kecamatan ini yakni, Nagari Cingkariang, Nagari Sungai Tanang dan Nagari Pakan Sinayan. Selain itu di Kecamatan Sungai Puar juga terjadi penurunan hasil panen petani sayur sebanyak 30-35 %,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, saat ini petani belum bisa mengolah tanah mereka untuk musim tanam berikutnya karena kekeringan tersebut. Selain itu kekeringan juga mengancam petani yang ada di tempat lain seperti di Kamang Mudiak, Pasanehan dan sebahagian Baso.

Di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Palupuah, seperti yang disampaikan oleh Azmi Dt. Naro petani SPI, 25 hektare sawah terancam gagal panen. Bahkan untuk mengairi sawah, petani terpaksa menggunakan mesin pompa air.

Di Kabupaten Pasaman, tiga nagari terancam mengalami kekeringan yaitu Nagari Alahan Mati, Nagari Simpang, dan sebahagian Nagari Cubadak.

Defri, pengurus SPI Kabupaten menjelaskan, nagari-nagari yang berada di dua kecamatan yakni Kecamatan Simpati dan Kecamatan Dou Koto sangat rentan terkena kekeringan karena belum adanya irigasi yang memadai di dua kecamatan tersebut.

Di Kabupaten Solok Selatan, Solok dan Pasaman Barat juga mengalami hal yang sama terutama di daerah yang pertaniannya hanya mengandalkan curah hujan ( sawah tadah hujan).

Menanggapi hal ini, Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Sumbar Irwan Piliang meminta pemerintah daerah agar memberi perhatian khusus kepada petani yang mengalami kerugian dan gagal panen akibat kekeringan yang disebabkan oleh musim kemarau.

“Untuk saat ini pemerintah agar dapat memberikan bantuan pompa air bagi petani yang membutuhkan untuk mengurangi resiko kerugian petani yang semakin besar,” kata Irwan.

Irwan menambahkan, untuk jangka panjang,  di beberapa tempat di setiap kabupaten, SPI Sumbar meminta Pemerintah membangun irigasi atau embung terutama di sentra-sentra pertanian yang belum memiliki irigasi atau di daerah pertanian tadah hujan.

“Pemerintah seharusnya menjamin dan membantu petani yang mengalami gagal panen untuk pengadaan benih, pupuk dan permodalan untuk di musim tanam berikutnya. Pemerintah daerah harus segera mengimplementasikan Undang-Undang No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani terutama dalam kondisi saat ini,” tambahnya.

ARTIKEL TERKAIT
SPI berikan studium general tentang bahaya WTO di UI SPI berikan studium general tentang bahaya WTO di UI
Cabut Perpres Benih GMO, SBY Jangan Wariskan  Kebijakan yang Sengsarakan Petani Cabut Perpres Benih GMO, SBY Jangan Wariskan Kebijakan yang...
Eskavator Perkebunan Kembali Rusak Lahan Warga
Galeri Foto: Pembukaan Kongres IV Serikat Petani Indonesia Galeri Foto: Pembukaan Kongres IV Serikat Petani Indonesia
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU