Sukardi Bendang: “Bacalah, dan kita akan cerdas”

Buku adalah jendela dunia. Setidaknya ungkapan itulah yang selalu dipegang oleh Sukardi Bendang, Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Barat. Pria yang akrab dipanggil “Cak Kardi” ini lahir di Tanjung Pati pada 24 September 1970 lalu. Ketertarikan pria ini terhadap buku dipicu oleh ibunya yang juga cukup gemar membaca.

Ibu Sukardi menikah dua kali, suami pertamanya adalah seorang pria berpangkat letnan yang gemar membaca dan punya koleksi buku yang cukup lengkap. Namun karena tidak dikaruniai keturunan, beliau kemudian bercerai dan menikah dengan seorang pria; Sukardi adalah anak pertama mereka.

Ibu Sukardi juga suka meminjam buku dari taman bacaan untuk kemudian dibaca oleh anak-anaknya. Sukardi bercerita bahwa sejak sekolah dasar, dia sudah diajari untuk membaca dan mencari buku-buku apa pun yang isinya bermanfaat.

“Buku yang hingga saat ini sangat berkesan bagi saya adalah buku tentang seorang perempuan yang gigih berjuang membela pemikiran dan masyarakatnya, sayangnya saya lupa judulnya” kata Sukardi.

Namun kegemaran membaca buku Sukardi justru semakin meresahkan ibunya. Pria yang memiliki tiga orang saudara laki-laki ini pun kemudian menceritakan masa dimana ibunya membakar semua buku miliknya. Sukardi menuturkan bahwa pada waktu itu dia sedang duduk di bangku SMA. Suatu hari ketika dia pulang dari sekolah, Sukardi cukup terkejut ketika setibanya di rumah ternyata sang ibu telah membakar buku-buku koleksinya. Hal ini cukup kontras mengingat ibunyalah yang menjadi motor pendorong bagi Sukardi untuk terus membaca dan membaca.

“Zaman orde baru yang mengharamkan bacaan-bacaan tentang pergerakanlah yang mengakibatkan itu semua, ibu takut saya menjadi yang tidak-tidak,  padahal setelah reformasi pada 98 yang lalu, buku-buku yang dibakar ibu saya itu justru menjadi buku yang wajib dibaca oleh setiap orang yang ingin mendalami bidang politik ” ungkap Sukardi.

Selepas SMA sekitar tahun 1989, Sukardi ingin melanjutkannya ke perguruan tinggi. Namun karena faktor biaya, Sukardi terpaksa mengurungkan niatnya. Pria yang cukup hobi membaca buku tentang sejarah ini juga hampir saja bergabung ke dalam kesatuan polisi. Adalah pamannya yang begitu ingin agar Sukardi menjadi aparat polisi yang siap membela rakyat, namun suami dari Yuliatati ini justru punya keinginan yang berbeda. Sukardi mencoba mengikuti khittah asli masyarakat Minang yang lihai dalam berdagang, walaupun kedua orang tuanya adalah perantau yang berasal dari Jawa. Sukardi pun memutuskan untuk berjualan cabai dari pasar ke pasar.

Selama kurang lebih setahun berdagang, Putra dari Marsinah dan Rahman ini masih belum menemukan jiwanya dari berdagang. Dia merasa jenuh. Sukardi kemudian merasa mendapatkan ilham untuk mengolah lahan milik orang tuanya. Kedua orang tua Sukardi adalah petani tulen yang dalam kesehariannya menanam padi dan sayuran. Sukardi bersaudara juga tumbuh dari hasil lahan pertanian orang tuanya tersebut.

Sukardi juga pernah bekerja di perusahaan sawit swasta di daerahnya, di Kabupaten Payakumbuh. Dia bertanggung jawab tehadap urusan teknis pembangunan.

”Saya hanya sebentar kerja disitu, saya keluar karena miris melihat ketidakadilan dan kesewenangan disana, perusahaan membakar kebun karet milik masyarakat yang tidak mau digusur dan diganti rugi pada malam hari. Ini sangat bertentangan dengan hati nurani saya” ungkap Sukardi dengan tegas.

Organisasi

Pada sekitar tahun 1995 terjadi  pemindahan dam PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) di Koto Panjang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Proses pemindahan dam ini justru banyak membawa kerugian pada masyarakat sekitar. Sukardi cukup geram  melihat ketidakadilan di daerah itu, misalnya proses ganti rugi dan pembebasan lahan yang sama sekali merugikan rakyat kecil. Dengan rasa empati yang cukup tinggi, Sukardi pun ikut berkumpul dengan pemuda-pemuda yang berasal dari daerah sekitar.

“Elite yang tidak punya apa-apa bisa dapat ganti rugi tapi rakyat kecil tidak, dapat sama sekali, ini khan sangat tidak adil” ucap Sukardi sambil mengenang masa lalunya tersebut.

Dari sinilah Sukardi mulai mengenal Serikat Petani Sumatera Barat (SPSB) yang tergabung dalam Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI-saat ini SPI). Pada Tahun 2002-2007, Sukardi dipercaya menjadi Ketua Dewan Perwakilan Petani, wilayah Payakumbuh di SPSB, dan hingga kini menjadi ketua BPW SPI Sumbar.

Kiprah Sukardi di dunia organisasi massa perjuangan ini juga didukung oleh istri dan ibunya. “Orang tua  saya pernah mengatakan bahwa apabila saya ingin serius membangun organisasi perjuangan petani (baca:SPI) saya terlebih dahulu harus berdiskusi dengan istri dan menyiapkan ekonomi keluarga, kalau tidak akan bermasalah di kemudian hari” ungkapnya.

Di antara waktunya yang padat untuk mengurus organisasi sekaligus bertani, Sukardi masih menyempatkan untuk membaca buku ataupun dokumen-dokumen internal organisasi.

“Dengan membaca kita akan menjadi jauh lebih cerdas, pengetahuan kita pun akan semakin luas, perkembangan media komunikasi seperti internet seharusnya bisa kita maksimalkan untuk meningkatkan pengetahuan kita” ungkap pria yang memiliki sawah sekitar satu hektar ini.

ARTIKEL TERKAIT
Pemerintahan Baru dan Pembaruan Agraria Pemerintahan Baru dan Pembaruan Agraria
SPI Resmi Berdiri di Bener Meriah, Aceh
SPI Banten gelar aksi tuntut penyelesaian kasus tanah
Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani;  Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati Setengah Abad UUPA 1960: Tahun Emas Perjuangan Rakyat Tani; ...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU