Kisah Singkat Beberapa Pejuang Petani Perempuan SPI dari Sumatera Utara

oleh: Andriana Tarigan*)

MEDAN. Perempuan memainkan peranan penting dalam pertanian. Perempuan berperan besar dalam proses produksi pertanian. Hampir 90 % kegiatan budi daya padi dipegang oleh perempuan. Petani perempuan juga bertanggung jawab untuk tanaman sekunder seperti kacang-kacangan dan sayuran lainnya.

Di bidang agraria, perempuan juga berperan dalam perjuangan mempertahankan hak atas tanah. Bagi perempuan, tanah tidak hanya memiliki nilai ekonomis namun juga mempunyai nilai filosofis dan sosial sebagai sesuatu yang diwariskan secara turun temurun untuk kelangsungan generasi selanjutnya. Perempuan hampir selalu berada di barisan terdepan untuk mempertahankan tanah mereka yang merupakan sumber penghidupan.

Serikat Petani Indonesia (SPI) sebagai organisasi massa petani memberikan ruang yang luas bagi petani perempuan untuk dapat tampil ke ranah publik. Petani perempuan dianggap sebagai ibu kedaulatan pangan karena perannya yang cukup besar dalam mengelola lahan pertanian, merawat tanaman sampai kepada tanggung jawab untuk ketersediaan pangan keluarga.

Di wilayah Sumatera Utara sendiri, SPI mempunya kader-kader petani perempuan yang tangguh dan konsisten dalam perjuangannya. Mulai dari mewujudkan pembaruan agraria sejati, pengembangan pertanian berkelanjutan, sampai kepada mengelola perekonomian keluarga tani. SPI Sumut berbangga hati memiliki kader-kader petani perempuan yang cukup tangguh ini tanpa menafikan kader-kader petani perempuan lainnya. Berikut ini beberapa dari mereka.

Zubaidah

Perempuan paruh baya yang sudah mengenal SPI sejak tahun 1998, yang waktu itu masih bernama Serikat Petani Sumatera Utara (SPSU). Dengan menjabat sebagai Ketua Cabang SPI Kabupaten Asahan (periode 2008 – 2013), Zubaidah banyak bersentuhan dengan permasalahan yang dihadapi petani terutama yang berhubungan dengan sengketa agraria. Berbekal dari segala pelatihan yang pernah diikutinya, ibu satu anak ini tidak pernah gentar untuk berada di garis terdepan perjuangan agraria.

Sebagai seorang pemimpin, Zubaidah juga selalu dituntut untuk menguasai banyak hal yang berhubungan dengan kepentingan petani. Adakalanya beliau harus berdiri di depan untuk bernegosiasi dengan pihak pemerintahan, namun tidak jarang juga beliau harus berada di tengah-tengah basis petani untuk mensosialisasikan program-program organisasi kepada petani anggota SPI.

“Terkadang timbul perasaan lelah, namun perasaan itu sirna ketika kita berada di tengah-tengah lahan perjuangan milik petani anggota SPI dengan deretan tanaman yang telah tertata rapi. Dan yang paling membuat semua beban hilang manakala saya bersama dengan para petani menyantap hidangan hasil panen mereka, walau sederhana namun terasa nikmat” ungkap perempuan yang hampir berusia 50 tahun ini.

Maulina Br. Sitorus

Maulina Br. Sitorus mengenal SPI mulai tahun 1996. Saat itu, Moulina Br. Sitorus beserta puluhan petani perempuan lainnya mulai memberanikan diri membentuk kelompok dan bergabung dengan SPI untuk berjuang merebut lahan mereka yang diambil paksa oleh PT. Jaya Baru Pertama. Sampai saat ini, beliau bersama puluhan petani perempuan yang tergabung dalam Dewan Pengurus Basis (DPB) SPI Simpang Kopas Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan masih tetap terus berjuang untuk merebut kembali lahan mereka.

Intimidasi dan tindak kekerasan sering dihadapinya. Tahun 2007 merupakan masa yang paling sulit hilang dari ingatannya. “Saat itu kami (baca: petani) dipaksa keluar dan meninggalkan lahan perjuangan. Lima orang petani perempuan ditangkap polisi. Puluhan petani perempuan lainnya mengalami kekerasan fisik” kenang perempuan ini

“Ini tanah kami, tanah orang tua kami, masa depan anak cucu kami” ungkapan inilah yang selalu menjadi semangat beliau beserta petani perempuan lainnya untuk terus berjuang agar tanah mereka dapat kembali.

Devina

Di awali dengan ketertarikannya pada tanaman obat-obatan, Devina, petani perempuan dari Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang ini mulai mengembangkan pertanian berkelanjutan. Berbekal pengetahuannya pasca mengikuti pendidikan kader pertanian berkelanjutan di Pusdiklat Nasional SPI di Bogor. Dia mengajak petani perempuan lainnya yang ada di lingkungannya untuk mengolah sistem pertanian mereka dengan sistem pertanian berkelanjutan.

Dengan memanfaatkan halaman sekitar rumah, Devi, sapaan perempuan ini, menerapkan ilmu yang telah diperolehnya. Tidak segan-segan, Devi juga selalu memberi masukan bahkan menularkan pengetahuannya kepada anggota petani perempuan lainnya mengenai pertanian yang selaras alam ini.

“Keinginan saya, agar semua petani bisa kembali lagi menerapkan sistem pertanian berkelanjutan. Selain dapat menekan biaya produksi, sistem pertanian ini juga menghasilkan makanan sehat bagi masyarakat” ungkapnya.

Supriati

Perempuan bertubuh mungil ini memang belum lama bergabung dengan SPI, namun dedikasinya kepada organisasi harus mendapat ajungan jempol. Di awali dengan keprihatinannya terhadap masyarakat di sekitar rumahnya yang terjerat hutang kepada rentenir, menginspirasinya untuk mendirikan dan mengelola program keuangan alternatif. Lembaga Keuangan Petani (LKP) yang merupakan rintisan program Koperasi SPI dikembangkannya di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Medan Marelan Kodya Medan.

Ibu satu orang anak ini terus mengajak masyarakat sekitarnya berkumpul dan ikut ke dalam Lembaga Keuangan Petani (LKP). Saat ini LKP yang dikelolanya sudah berkembang menjadi koperasi yang berbadan hukum dengan asset yang sudah mencapai lebih dari 80 juta rupiah. Saat ini, koperasi yang dikelola oleh Supriati beranggotakan lebih dari 80 orang dan mempunyai unit usaha penjualan alat rumah tangga, usaha jual beli sembako serta usaha pembuatan bakso.

“Untuk ke depannya, saya dan pengurus koperasi lainnya berencana untuk memberikan ruang bagi anak-anak berpartisipasi dalam koperasi agar menumbuhkan gemar menabung sejak dini” ungkapnya penuh harap.

Selain nama-nama di atas, masih banyak petani-petani perempuan lainnya di Sumatera Utara yang giat berjuang bersama SPI untuk mewujudkan pembaruan agraria sejati. Selamat hari perempuan sedunia, (petani) perempuan adalah ibu kedaulatan pangan.

* Penulis adalah petani perempuan sekaligus Ketua Biro Komunikasi, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Sumatera Utara.