Martin: “SPI memperluas pengetahuan dan wawasan saya”

JAKARTA. Sebagai Ketua  Badan Pelaksana Wilayah (BPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Nusa Tenggara Timur (NTT), Martin cukup mampu membagi waktu untuk bertani, untuk keluarga dan juga untuk kerja-kerja organisasi. Martin mulai aktif di dunia keorganisasian petani sejak tahun 2002. Pria dengan enam orang anak ini menjelaskan bahwa dia tertarik untuk bergabung ke organisasi massa petani karena pada saat itu (tahun 2002) dia terlibat dalam konflik lahan dengan Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) setempat. “ Saat itu tanaman kopi saya dan teman-teman dibabat habis oleh Pemkab Manggarai” ungkap Martin. Martin merasa bahwa sebagai seorang petani kecil dia tidak akan sanggup melawan kesewenangan yang dilakukan terhadapnya, sehingga dia pun tertarik bergabung ke organisasi petani yang mampu memperjuangkan hak-hak petani kecil seperti dirinya.

Pria yang lahir pada 19 Januari 1970 ini bergabung ke Serikat Petani Manggarai (SPM) pada tahun 2002. Selanjutnya Martin dipercaya menjadi seorang CO (Community Organizer) di SPM selama tiga tahun (2002-2004). Kemudian rekan-rekannya mempercayakan posisi Ketua SPM kepada Martin pada tahun 2005 yang lalu.

Perkenalan suami dari Ferdiana Nihel ini dengan SPI (dulu FSPI-Federasi Serikat Petani Indonesia) dimulai pada tahun 2006 di Maumere. Pada saat itu Martin berjumpa dengan Ali Fahmi (saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Penguatan, Pengawasan dan Konsolidasi Organisasi Nasional SPI), dan langsung merasa tertarik dengan visi dan misi perjuangannya FSPI. “Kata Bang Ali, kalau ada niat dan kemauan bersama untuk berjuang, maka FSPI akan sangat senang menerima SPM” sebut Martin.

Selanjutnya, pria tamatan SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) ini semakin intens menjalin komunikasi dengan FSPI. Martin, mewakili SPM (pada saat itu belum menjadi anggota FSPI) juga diajak oleh FSPI dan La Via Campesina (Organisasi Petani Internasional) untuk ikut serta dalam World Social Forum pada Februari 2007 yang lalu di Nairobi, Kenya. “Saya sangat senang dan bangga bisa ikut hadir di acara tersebut, pengetahuan dan wawasan saya juga semakin bertambah, saya juga sangat senang karena ternyata sebagai petani kecil saya memiliki sangat banyak teman seperjuangan” ungkap ayah enam orang anak ini.

”Saya dan SPM juga diajak pada Kongres FSPI di Wonosobo pada 2007 kemarin sebagai peninjau” tambah Martin. Kongres tersebut memutuskan perubahan bentuk dari federatif menjadi unitaris, dari FSPI menjadi SPI.

Martin menerangkan bahwa SPM akhirnya melebur menjadi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI NTT yang pada Desember 2009 lalu melaksanakan Musyawarah Wilayah pertamanya. Pria yang juga memiliki lahan hasil reklaiming seluas empat hektar ini mengatakan bahwa SPI merupakan organisasi perjuangan yang cukup ideal karena didukung oleh sistem pendidikan kader yang mumpuni dan didukung oleh jaringan organisasi petani internasional. Selain itu Martin mengungkapkan bahwa SPI benar-benar berkomitmen untuk melaksanakan pembaruan agraria demi terciptanya kedaulatan pangan, serta membela hak-hak petani kecil yang sering ditindas dan dikriminalisasi oleh para pemodal dan kaum neoliberal.

Aktivitas Martin di SPI ini juga sangat didukung oleh keluarganya. Pria yang mengatakan bahwa bakatnya memang menjadi petani ini, menjelaskan bahwa sang istri dan anak-anaknya sangat mendukung aktivitasnya. Dari usaha bertaninya Martin mampu menyekolahkan semua anaknya. “Istri saya pernah berkata bahwa apabila memang untuk kemajuan petani, dia akan mendukung 100 persen” ungkap Martin dengan bangga.

ARTIKEL TERKAIT
Naskah Deklarasi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Naskah Deklarasi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
SPI lantik kader pertanian berkelanjutan angkatan kedua
Halal bi Halal Serba Organik di Kediaman Ketua Umum SPI
NTP Turun, Petani Pangan Kian Tertekan
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU