NTP di Desember: Petani Perkebunan Rakyat Semakin Terseok, Petani Tanaman Pangan Tersenyum Tipis

JAKARTA. Berdasarkan laporan bulanan Badan Pusat Statistika (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan pada bulan ini naik dari 98,41 ke 98,79. Panen padi, jagung dan ubi kayu mendatangkan rezeki bagi petani tanaman pangan selama Bulan November. Terkhusus gabah dan beras, tercatat kenaikan harga gabah dan beras (penggilingan) mencapai Rp 4.535,02/kg dan Rp 4.611,82. Kedua harga tersebut berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Demikian pula upah buruh tani yang juga mengalami kenaikan pada November mempengaruhi kenaikan NTP pangan bulan ini.

Menurut Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih, meski NTP pangan naik namun inflasi pedesaan sebesar 1,49%, terkhusus dari komponen bahan makanan, dan transportasi-komunikasi mengurangi daya beli petani. Komponen bahan makanan yang menjadi sumber inflasi dalam hal ini adalah cabe merah, cabe rawit, beras, serta sayur-sayuran.

“Kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) pada bulan November sepertinya menghambat kenaikan NTP Tanaman Pangan untuk melewati batas kesejahteraan terbawah, yakni 100,” kata Henry di Jakarta pagi ini (03/12).

NTP_pangan_hortikultura_November_2014

Berbeda dengan NTP pangan, NTP hortikultura Desember 2014 mengalami penurunan dari 103,99 ke 103,81. Sebenarnya terdapat kenaikan harga sayur-sayuran yang cukup tinggi, khususnya cabe merah dan cabe rawit hingga di atas Rp 50.000/kg, namun kenaikan kebutuhan konsumsi rumah tangga (KRT) dan biaya produksi dan penambahan modal (BPPM) yang cukup tinggi juga menyebabkan turunnya NTP hortikultura.

Sementara itu, NTP perkebunan rakyat untuk Desember 2014 masih mengalami penurunan, dari 100,92 menjadi 100,05, dan nilai ini adalah yang paling rendah selama tahun ini.

“NTP perkebunan rakyat turun, padahal harga tandan buah segar (TBS) naik. Ini karena kebutuhan sehari-hari petani juga ikut naik apalagi sejak BBM dinaikkan. Selain itu gejolak penurunan harga CPO di tingkat Internasional masih terus berpengaruh kuat terhadap kesejahteraan petani sawit. Ini adalah PR yang harus diselesaikan oleh Jokowi-JK,” kata Henry.

Hal senada diungkapkan Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Sumatera Utara (sumut) Zubaidah. Ia menyampaikan harga TBS (Tandan Buah Segar) per November 2014 di desanya di Asahan, Sumut mengalami kenaikan menjadi Rp 1.420 dari yang bulan sebelumnya pernah menyentuh harga Rp 1.285.

NTP_perkebunan rakyat_November_2014

“Dari harga Rp 1.420 dibebankan lagi kepada kami petani Rp 20 untuk biaya transportasi karena kenaikan BBM, jadi harga TBS yang didapat petani itu Rp 1.400. Walau harga TBS naik, BBM juga ikut naik, akibatnya harga kebutuhan hidup kami sehari-hari juga ikut naik,” ungkap Zubaidah.

Oleh karena itu Henry Saragih menambahkan, kenaikan BBM memang  pasti akan mempengaruhi daya beli dan sekaligus biaya produksi pertanian petani. Namun bila pemerintah berani menjamin adanya perlindungan harga dan sekaligus pasarnya, petani tidak akan gusar dengan kenaikan harga BBM.

“Sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden Jokowi, dana negara yang didapat dari penghematan dana subsidi BBM akan digunakan untuk subsidi 15 juta petani miskin, perbaikan irigasi tiga juta hektar sawah dan program kepemilikan lahan petani. Kita lihat saja realisasi Jokowi dan kabinet kerjanya untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat pangan,” tambah Henry.

 

Kontak selanjutnya:

Henry Saragih – Ketua Umum SPI – 0811 655 668

ARTIKEL TERKAIT
Kedaulatan Pangan Sebagai Gerakan Sosial: Refleksi Mempering...
Galeri Foto: Pembukaan Konferensi Internasional La Via Campesina ke-6 Galeri Foto: Pembukaan Konferensi Internasional La Via Campe...
Hari Tani Nasional 2017: Indonesia Darurat Agraria, Segera L...
2015: Nawa Cita Belum Bisa Redakan Pelanggaran Hak Asasi Petani 2015: Nawa Cita Belum Bisa Redakan Pelanggaran Hak Asasi Pet...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU