Pangan 2012: Tersandung Impor Kedelai, Singkong dan Gandum

PP-SPI

Berbagai target produksi pangan untuk beberapa komoditas direvisi pun tidak sanggup terpenuhi ditahun 2012 ini. Seperti kedelai misalnya, target yang buata dalah 1,9 juta ton , kemudian direvisi menjadi 1,1 juta ton dalam realisasinya hanya 780 ribu ton. Beberapa produk pangan yang tercapai target produksinya melalui revisi adalah padi target awalnya adalah 71 juta ton, direvisi menjadi 67,83 juta ton realisasinya terjadi surplus yakni 67,96 juta ton. Demikian juga dengan jagung optimis ditargetkan mencapai 24 juta ton, direvisi menjadi 18,86 juta ton, tercapai surplus dari revisi yakni 18,96 juta ton. Untuk beberapa komoditas dapat dilihat dari pandangan SPI berikut ini:

Penyakit Menahun Kedelai Impor

Bahan pangan merupakan salah satu penyebab utama inflasi di Indonesia, menurut data BPS November 2012 angka inflasi sebesar 0,07 persen dipengaruhi terbesar oleh kelompok  makanan, minuman dan rokok. Tak heran ketika harga kedelai kembali melonjak tajam di pertengahan tahun ini memukul bukan saja para pengrajin tahu dan tempe namun konsumen pada umumnya. Pemerintah pun segera menurunkan bea masuk kedelai menjadi 0 persen.

Langkah penurunan bea masuk diambil karena 70 persen kebutuhan kedelai di Indonesia saat ini didapat dari impor. Penyelesaian jangka pendek yang tak mampu memecahkan persoalan panjang, penurunan bea masuk kedelai hingga 0 persen itulah justru yang menjadi penyebab awal tingginya ketergantungan pada kedelai impor. Tahun 1999, pemerintah dengan kebijakan pasar bebasnya mulai membuka keran impor kedelai dan menurunkan bea masuk hingga nol persen seperti tahun ini. Langkah tersebut menyebabkan pasar nasional dibanjiri kedelai impor, akibatnya harga kedelai di tingkat petani tertekan, petani banyak yang merugi dan memilih untuk beralih ke tanaman lain atau terpaksa mencari pekerjaan di sektor lain.

Penghapusan bea masuk kedelai impor mempengaruhi turunnya produksi kedelai dalam negeri, bahkan selama 10 tahun terakhir produksi kedelai nasional tak pernah lebih dari satu juta ton. Sejak 2002 hingga 2011, produksi kedelai nasional tertinggi hanya sebesar 974.512 ton pada tahun 2010, sementara kebutuhan nasional sudah mencapai tiga juta ton per tahun. Data BPS menunjukkan impor kedelai pernah ‘hanya’ sebesar 541 ton pada tahun 1990. Angka ini melonjak menjadi 2,088,616 ton dengan nilai Rp 5,9 triliun pada tahun 2011 dan di triwulan I tahun 2012 sebesar 374,870 ton dengan nilai 202,421,000 US dollar atau setara dengan Rp 1,8 triliun.

volume impor kedelai

Langkah strategis yang perlu segera dilakukan ialah menggenjot peningkatan produksi lokal.  Gairah berproduksi kedelai harus ditingkatkan kembali dengan memastikan insentif bagi petani yang menanam kedelai. Meningkatkan luas lahan produksi dan memberikan pelatihan serta dukungan input bagi para petani kedelai. Jika Menteri Pertanian belum lama ini mengumumkan terdapat 2,1 juta hektar lahan produktif dari 7 juta lahan terlantar yang ada hari ini mengapa lahan-lahan tersebut tidak didistribusikan kepada para petani kedelai maupun tanaman pangan lainnya untuk sungguh-sungguh kembali mencapai swasembada pangan di Indonesia dan melepaskan ketergantungan dari pangan impor.

Mandeknya Diversifikasi Pangan Lokal : Impor Singkong dan Gandum

Dengan mencuatnya informasi terkait impor tepung dan pati singkong, ini cermin dari inkonsistensi kebijakan dan keberpihakannya kepada rakyat tani. Betapa tidak Indonesia sebagai produsen singkong terbesar di Asia yakni mencapai 28 jutan ton  melebihi Thailand 26,6 juta ton, namun kita tetap impor dengan berbagai dalih. Sisi lain dengan mandeknya industri perdesaan yang terkait singkong atau ubi kayu ini makin jauh perjuangan kita untuk mengurangi importasi gandum dan terigu. Harapannya ubi kayu, sagu dan karbohidrat lainnya mampu mengurangi ketergantungan 100% Indonesia dari produk olahan gandum dan terigu impor. Artinya juga ini tanda mandeknya diversifikasi pangan produk lokal. Demikian juga jauhnya kesejahteraan petani singkong, singkong kami di Sukabumi hanya mampu dijual seharga maksimal Rp. 600/kg.

Tabel 3. Indonesia importir terbesar tepung dan pati singkong di  dunia tahun 2012

impor singkong

Gandum/terigu sebagai bahan pangan telah memasuki segala aspek kehidupan setiap lapisan masyarakat di Indonesia dalam kurang lebih empat dekade terakhir. Ketika program diversifikasi pangan berbasis produk lokal mandek, pangan berbasis terigu terus meningkat. Saat ini Konsumsi gandum Indonesia per tahun 21 kg/kapita, terbesar kedua setelah beras. Seluruh kebutuhan gandum di Indonesia masih 100 persen diimpor, sebanyak 1.382.187 ton dan tepung terigu sebanyak 151.514 ton hanya pada triwulan I tahun 2012 saja, tahun 2011 total impor gandum Indonesia mencapai 5.648.065 ton dengan nilai 2,2 milyar US Dollar membuat Indonesia menjadi  importir gandum terbesar kedua di dunia setelah Mesir. Sementara pangsa pasar tepung terigu mencapai sekitar 4,8 juta ton dimana dari total tersebut tepung terigu hasil olahan dalam negari sekitar 86 persen dan 14 persen sisanya impor langsung.

(diambil dari catatan akhir tahun SPI, versi lengkapnya bisa diunduh disini)

 

Ada 1 komentar

  1. Bahtiar berkata:

    SPI harus terus berjuang agar pemerintah tidak hanya doyan mengemukakan pro dan memihak kepetani, tetapi harus dibuktikan dengan program dan aksi nyata bahwa pemerintah memihak dan berusaha meningkatkan kesejahteraan petani. Caranya tidak perlu banyak tetapi nyata dan fokus yaitu: pemerintah harus menjamin harga produk petani dengan harga yang layak (petani dapat hidup bersama dengan keluarganya dari hasil usahataninya), jangan seperti sekarang produksi petani diserahkan kemekanisme pasar secara murni yang saat ini posisi tawar petani dengan pedagang sangat lemah dan cenderung diekploitir dan dipermainkan harga produknya. Hampir setiap hasil pertanian masih berlaku hukum suplay and demand. Banyak produk harga turun, dan kurang produk harga naik tanpa intervensti pemerintah untuk menstabilkan harga (Bulog tutup mata), bahkan harga bulog lebih rendah lagi dari harga pedagang lokal. Jika harga produk pertanian tinggi maka dampaknya sangat luas antara lain: 1. petani cenderung serius dan sungguh-sungguh mengurus usahataninya dan usaha pertanian tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan dengan demikian berdampak kepada penurunan laju migrasi orang desa masuk kota, 2. seluruh pihak yang terkait dengan produk pertanian menjadi sibuk dan maju melayani kebutuhan petani. Pedagang sibuk mengurus sarana produksi dan menyerap hasil pertanian, transportasi sibuk, pengolahan hasil-hasil pertanian sibuk, pasar-pasar tradisional ramai. 3. dampak yang lebih luas lagi adalah secara bertahap mengurangi konplik di tingkat poedesaan.