Pendidikan Agroekologi Pasca Bencana di Sumatera Barat: Menguatkan Kemandirian Petani dari Basis Perjuangan

Upaya pemulihan kehidupan petani pasca bencana ekologis di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, tidak berhenti pada bantuan darurat semata. Selain menyalurkan dukungan logistik, Serikat Petani Indonesia (SPI) juga mendorong penguatan kapasitas petani melalui Pendidikan Agroekologi dan pengembangan Kawasan Daulat Pangan (KDP) sebagai bagian dari proses membangun kembali kemandirian di wilayah terdampak. Kegiatan ini dilaksanakan di Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung pada 23–26 April 2026, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Perjuangan Petani Internasional dan Hari Hak Asasi Petani Indonesia.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Sumatera Barat, Rustam Efendi, menjelaskan bahwa pendidikan ini lahir dari kebutuhan nyata petani di masa pemulihan. “Pasca tanggap darurat bencana banjir di Kabupaten Padang Pariaman, SPI aktif menyalurkan dukungan logistik pangan ‘Petani Bantu Petani’. Saat memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi, SPI mengambil posisi dalam peningkatan kapasitas petani melalui Pendidikan Agroekologi dan KDP ini, guna menjawab keluhan petani terkait sulitnya mendapatkan pupuk dan tingginya harga akibat kondisi ekonomi yang terdampak bencana,” ujarnya.

Ia menambahkan, tidak hanya persoalan pupuk, petani juga menghadapi tantangan hama dan penyakit tanaman yang sulit diatasi dengan keterbatasan sumber daya. “Sebagai organisasi tani perjuangan, hal ini menjadi tantangan tersendiri agar pendidikan tetap bisa dilaksanakan dalam situasi dan kondisi apapun. Yang utama adalah upaya meringankan beban kehidupan kaum tani,” lanjut Rustam. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bentuk nyata komitmen SPI untuk senantiasa menguatkan petani, terutama di wilayah yang terdampak bencana.

Dalam pelaksanaannya, pendidikan agroekologi ini tidak hanya diikuti oleh petani dari Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, tetapi juga melibatkan petani dari kecamatan lain seperti Patamuan, Lubuk Alung, dan Batang Anai. Materi yang diberikan mencakup pemahaman dasar hingga praktik langsung, mulai dari sejarah gerakan agroekologi, ekosistem pertanian, hingga pembuatan pupuk organik seperti bokasi, decomposer, dan POC NPK Plus, serta pengendalian hama secara alami. Pembukaan kegiatan juga diisi dengan diskusi publik bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian dengan tema “Petani Bangkit, Wujudkan Kedaulatan Pangan.”

Dampak dari pendidikan ini diharapkan langsung dirasakan oleh petani, terutama dalam menekan biaya produksi. “Dengan tidak lagi bergantung pada pembelian bibit, pupuk, herbisida, dan insektisida, petani dapat memanfaatkan potensi alam di sekitar mereka. Ini tentu akan mengurangi pengeluaran dan meringankan beban ekonomi keluarga,” jelas Rustam.

Di tingkat basis, perubahan mulai terasa. Ketua Basis SPI Sakayan Jauah, Agusnaini, mengungkapkan kebanggaannya atas pengetahuan baru yang diperoleh. “Yang paling berkesan bagi kami, dari yang tidak tahu cara membuat pupuk agroekologi, sekarang kami sudah bisa membuatnya. Kami sangat bangga mendapatkan ilmu ini,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen untuk melanjutkan praktik agroekologi di basisnya. “Kami akan melanjutkan penanaman dengan menggunakan pupuk agroekologi, dan insyaallah kami akan mewujudkan kedaulatan pangan,” pungkas Agusnaini.

Hal serupa disampaikan oleh Atmadelis, salah satu peserta pendidikan. Ia menilai pengalaman praktik langsung menjadi bagian paling berharga selama kegiatan berlangsung. “Pengalaman paling berkesan adalah saat praktik membuat bokasi dan melihat bagaimana bahan-bahan sederhana di sekitar kita bisa diolah menjadi pupuk yang bermanfaat. Selain itu, diskusi dengan sesama petani juga membuka wawasan tentang berbagai permasalahan dan solusi di lapangan,” tuturnya.

Ke depan, ia berkomitmen untuk menerapkan ilmu tersebut di lahannya sendiri dan membagikannya kepada petani lain. “Saya akan mulai menggunakan pupuk organik dan mengurangi bahan kimia, serta berbagi pengetahuan dengan petani lain di basis agar ilmu ini tidak berhenti pada diri sendiri,” ujar Atmadelis.

Sebagai tindak lanjut, para peserta telah menyusun rencana tindak lanjut, di antaranya deklarasi Kawasan Daulat Pangan secara bertahap, yang akan dimulai dengan penanaman bersama pada 30 April di lahan yang terletak di Nagari Anduriang. Lahan ini juga akan dijadikan demplot percontohan bagi petani lainnya. Selain itu, pengembangan agroekologi akan diperluas ke lahan kering, pembentukan basis-basis baru SPI, pendirian koperasi di tingkat basis, hingga pembangunan ruang musyawarah sebagai pusat pendidikan dan konsolidasi petani.

ARTIKEL TERKAIT
Pusdiklat Nasional SPI Terima Kunjungan Peserta Asian Learni...
SPI Serahkan Data Konflik Agraria ke Komisi IV DPR, Dorong P...
Gejolak Harga Pangan Ramadan 2026 dan Produksi Nasional di T...
SPI dan Kemenkop Sepakati Penguatan Koperasi Petani Indonesi...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU