Peringatan hari tani nasional di NTB

MATARAM. DPW SPI NTB Smengadakan seminar bertema Akses Tanah Untuk Petani sebagai perngatan atas Hari Tani Nasional ke-48 (24/9). Dalam seminar kali hadir sebagai pembicara antara la Wahidjan (Ketua DPW SPI NTB), Khotibul Islam (dosen pengajar UNRAM) dan Apriaman (Wartawan AJI).

Wahidjan menegaskan persoalan dasar petani yang terjadi di seluruh Indonesia saat ini merupakan praktek penelantaran yang sistematis oleh pemerintah yang berlangsung turun temurun dari rezim ke rezim. “Undang-undang Pokok Agraria No.5 Tahun 1960 hanya menjadi hiasan dan pajangan dalam negara ini, penguasaan atas tanah dan corak kepemilikan lahan di negara ini yang secara nyata mempraktekkan sistem penguasaan tanah secara besar-besaran ala tuan tanah besar yang dalam wujudnya saat ini dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar, lembaga dan institusi negara dan juga perorangan,” ujar dia.

Wahidjan juga mengutarakn bahwa hal tersebut merupakan bukti kongkret dari kepemilikan lahan di negara ini tidak berpihak terhadap petani. Kebijakan Pemerintah dengan memberlakukan program re-distribusi tanah yang dimulai pada tahun 2007 lalu, yang juga secara simbolik dilakukan langsung oleh SBY di Kabupaten Blitar Jatim terbukti gagal dan tidak berdampak apa-apa.  Petani tetap tidak berdaulat atas tanah sebagai sumber kehidupan mereka.

Pada kesempatan yang sama, Khotibul Islam selaku prakktisi hukum juga menyoroti persoalan hukum yang tumpang tindih dan justru membuat masyarakat terbodohi. Ketidaktahuan masyarakat  tentang hukum adalah ruang awal pembodohan masyarakat yang dilakukan secara struktural oleh pemerintah. Belum lagi mengenai pemberlakuan kebijakan-kebijakan politik oleh penguasa yang secara jelas tidak berpihak pada rakyat.

Sedangkan A Latif Apriaman menyoroti potret petani Desa Grupuk Lombok Tengah yang dengan sangat gigih mempertahankan tanahnya sampai. Menurutnya wajah petani Indonesia sungguh merupakan potret suram yang sebenarnya menggambarkan betapa bobrok dan rusaknya sistem pemerintahan ini. Hidup seluruh manusia di seluruh belahan dunia manapun bergantung pada petani, namun kenyataannya dinegeri ini penindasan, penggusuran dan intimidasi seringkali dialami petani.

ARTIKEL TERKAIT
Usaha Penyelesaian Konflik Agraria di Pasaman Barat
Dualisme Indonesia dalam perundingan WTO Dualisme Indonesia dalam perundingan WTO
Hak Asasi Petani (Kembali) Diperjuangkan di Sesi ke-7 Dewan ...
Minum Kopi dan Niat Mulia Mensejahterakan Petani (Kopi) Indo...

INFO TERBARU