Petani kecam agroindustri daging babi di Kopenhagen

KOPENHAGEN. Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama ratusan petani yang tergabung dalam La Via Campesina melakukan aksi protes di depan kantor Axelborg, sebuah agroindustri daging babi terbesar di Denmark (13/12). Perusahaan itu dituduh sebagai salah satu perusahaan agroindustri penyumbang emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Axelborg merupakan pemain besar industri daging di Denmark. Lebih dari 85% daging babi yang diproduksi di Denmark ditujukan untuk pasar ekspor dan dikirim ke berbagai belahan bumi. Denmark sendiri membutuhkan kedelai dalam jumlah besar untuk pakan babi yang diimpor dari Argentina dan negara-negara penghasil kedelai lainnya. Pengadaan kedelai dalam jumlah besar-besaran menghasilkan sejumlah besar emisi untuk sistem transportasinya dan juga menghabiskan hutan-hutan untuk dikonversi menjadi ladang. Belum lagi jutaan ton pupuk kimia dan pestisida yang dibutuhkan untuk menyiram sistem monokultur dalam jumlah yang raksasa. Sistem produksi seperti itu dinilai telah memboroskan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Saat ini produksi pangan dan pertanian menyumbangkan setengah dari total emisi gas rumah kaca yang dilepas ke atmosfer. Emisi tersebut dilepaskan melalui sistem produksi dan distribusi termasuk perdagangan pangan antar negara.

Henry Saragih, Ketua Umum SPI yang juga merupakan Koordinator Umum La Via Campesina, menyatakan sistem pertanian seperti itu harus disudahi. “Saat ini kita membutuhkan sistem yang lebih baik, tidak merusak lingkungan dan bisa menyejahteraan petani. Bukan sistem yang mengakomodasi kerakusan kapitalisme global yang berorientasi profit belaka,” kata Dia.

Lebih jauh, Henry menawarkan konsep kedaulatan pangan dan pertanian berkelanjutan sebagai alternatif dari sistem agribisnis. Dalam kedaulatan pangan, produksi pertanian harus ditujukan untuk pemenuhan pasar domestik bukan untuk kepentingan pasar global yang dikuasai sejumlah perusahaan transnasional. Hak-hak petani sebagai produsen produk pertanian harus diakui, mereka berhak untuk menentukan apa yang akan mereka produksi tanpa determinasi dari kepentingan pasar global.

Akses terhadap tanah, finansial dan teknologi harus dibuka selebar-lebarnya. Begitu pun dengan paten atas benih yang selama ini dikuasai perusahaan-perusahaan besar dan petani tergantung terhadapnya. “Benih adalah mahluk hidup, tidak boleh dipatenkan!” tegas Henry.

Henry juga percaya sistem pertanian berkelanjutan yang berwawasan agroekologi bisa membantu upaya penyelamatan atas perubahan iklim. Pertanian berkelanjutan yang saat ini banyak dipraktekkan pertanian keluarga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih kecil dibanding pertanian monokultur yang dipraktekkan perusahaan agribisnis raksasa. “Pertanian berkelanjutan bisa membantu mendinginkan planet,” tandas Dia.

“Saat ini dunia tidak kekurangan produksi pangan, namun banyak kasus kelaparan di negara-negara terbelakang. Ini disebabkan sistem produksi distribusi yang berbasiskan pasar sehingga rakyat miskin di negara-negara terbelakang tidak bisa mengakses bahan pangan,” kata Henry.

Keterangan:
La Via Campesina merupakan oganisasi gerakan petani internasional. Anggotanya terdiri dari organisasi-organisasi petani kecil dan buruh tani dari 70 negara. Serikat Petani Indonesia (SPI) merupakan anggota La Via Campesina.

Narasumber:
Henry Saragih
(Koordinator Umum La Via Campesina dan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia)