Petani perempuan ujung tombak penegakkan kedaulatan pangan

Kondisi sosial ekonomi petani sebagai produsen utama pertanian di Indonesia, tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan hingga hari ini. Bahkan, disaat pemerintah menyatakan keberhasilan swasembada beras untuk kedua kalinya, ternyata belum berhasil mengangkat kesejahteraan para petani Indonesia, dan petani perempuan menjadi kelompok yang semakin terpinggirkan dengan adanya krisis pangan, ekonomi, iklim, dan energi yang terjadi.

Saat ini, 70 persen dari masyarakat miskin di Indonesia adalah perempuan yang hidup di pedesaan. Perubahan mode produksi pertanian menjadi agribisnis, dan industri monokultur sejak revolusi hijau, menjadikan perempuan pedesaan meninggalkan rumahnya, pergi ke kota-kota bahkan ke luar negeri, untuk bekerja disektor non formal dengan upah murah, dan rentan terhadap kekerasan.

Revolusi hijau telah merubah pola makan masyarakat yang tidak dapat mengakses makanan lokal. Pengetahuan bertani secara tradisional, tidak lagi menjanjikan hasil yang maksimal, karena hama semakin rentan, harga–harga produksi pertanian membuat petani terlilit hutang, dan bergantung pada bibit dan pupuk buatan pabrik.

Kebijakan pembangunan yang berorientasi pasar melahirkan ketimpangan dalam penguasaan sumber–sumber agraria. Jutaan hektar hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit, kakao, karet. Lahan pertanian rakyat diambil paksa, dan dikuasai oleh berbagai perusahaan perkebunan. Kenyataanya, hasil bumi tersebut tidak maksimal dinikmati oleh rakyat, dan hal tersebut semakin memperparah keadaan.

Melihat itu semua, dalam pertemuan petani perempuan nasional Serikat Petani Indonesia (SPI) di Jakarta, mereka memperkuat komitmennya untuk tidak meninggalkan desa dan rumah mereka, untuk mencari pekerjaan dikota atau diluar negeri, serta akan melaksanakan pertanian berkelanjutan, membangun kedaulatan pangan, dengan mengumpulkan kembali, benih-benih lokal yang pernah hilang, membagi teknik bertani yang ramah lingkungan, dan melepaskan ketergantungan dengan perusahaan-perusahaan penghasil benih,  pupuk kimia, dan berjuang menegakkan pembaruan agraria di Indonesia.