Petani SPI konsisten kembangkan pertanian berkelanjutan

LAMPUNG BARAT. Budi Santoso (28 tahun) mampu tersenyum lebih lebar pada musim tanam kali ini. Pria ini mampu menghemat biaya input produksi pertanian mencapai  lima puluh persen dengan menerapkan pola pertanian berkelanjutan. Budi menjelaskan bahwa meski belum sepenuhnya organik, dia mampu menekan biaya input produksi tanaman tomat yang ditanamnya di atas lahan 60 X 40 m sebesar lebih dari lima puluh persen. “Biasanya untuk lahan seluas itu butuh dana hingga 6 juta, saat ini saya hanya keluar dana kurang lebih 3 jutaan” ungkapnya bangga.

Di samping menanam  tomat, Budi juga menanam kopi. Pria ini juga meracik sendiri pestisida dan pupuk untuk tanamanannya. Untuk membuat pupuk  kandang dan cair, Budi menggunakan sabut kelapa, batang pisang, daun jati , air kencing sapi dan dlingo. Untuk membuat pestisida alami, dia menggunakan gadung dan sirsak.

Budi Santoso merupakan contoh petani-petani anggota Serikat Petani Indonesia (SPI) yang berhasil menerapkan pertanian berkelanjutan dalam kegiatan bertaninya. Budi mulai beralih ke pertanian organik karena tingginya harga input pertanian konvensional dan sudah melaksanakan sistem pertanian ini selama lebih dari setahun.  Pria yang juga anggota SPI Basis Giham Suka Maju, Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat ini menambahkan bahwa dia banyak belajar dari Pinardi, salah seorang alumni Pendidikan Pertanian Berkelanjutan angkatan pertama di Pusdiklat SPI di Bogor.

Serikat Petani Indonesia (SPI) sebagai salah satu ormas tani terbesar di Indonesia berkomitmen untuk terus mendidik kader-kadernya untuk melaksanakan pertanian berkelanjutan berbasis keluarga. Melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pertanian Berkelanjutan, SPI telah berhasil melaksanakan programnya yang bertajuk “sekolah lapang teknis pertanian berkelanjutan”. Sekolah lapang ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Pusdiklat SPI sebagai salah satu ujung tombak dalam pelatihan dan pengkaderan petani anggota SPI. Sekolah lapang ini diikuti oleh kader-kader petani SPI yang berasal dari setiap wilayah SPI dari seluruh Indonesia.

Syahroni, Ketua Departemen Pendidikan, Pemuda, Budaya, dan Kesenian Nasional SPI menjelaskan bahwa sekolah lapang bertujuan menghasilkan kader SPI, yang tidak hanya mengerti pengetahuan organisasi perjuangan, tetapi mengetahui teknis keterampilan pertanian berkelanjutan secara menyeluruh. Hal tersebut dilakukan dalam rangka melayani, memenuhi, dan mewujudkan cita-cita perjuangan organisasi yang mengedepankan sistem pertanian berkelanjutan.

“Kamis, 15 April 2010 ini akan dimulai kembali sekolah lapang SPI Angkatan III, semoga nanti siswa-siswanya mampu menerapkan dan menyebarkan ilmu pertanian berkelanjutan ini ke setiap petani di daerahnya” ungkap Syahroni.