Piala Dunia dan Perjuangan Petani

petani_SPI_bengkulu

Hajatan besar Piala Dunia akan dimulai 13 Juni – 14 Juli 2014 di Brazil. Hajatan tersebut tentunya akan menjadi daya tarik terbesar seluruh penduduk dunia dari semua kalangan, baik yang kaya maupun yang miskin, baik di desa maupun di kota, baik laki-laki maupun perempuan. Hajatan ini sekaligus menjadi peluang bisnis bagi korporasi, tidak terkecuali bagi korporasi yang mempunyai konflik agraria dengan jutaan petani kecil dan masyarakat adat di mana pun berada. Julius Caesar – Kaisar Romawi – pernah berucap “ Beri Rakyat Roti dan Permainan” untuk meredam perjuangan rakyat yang akan memberontaknya.  Boleh jadi permainan Piala Dunia 2014 ini bisa menjadi pelipur lara sesaat, peredam semangat perlawanan petani kecil untuk perjuangan pembaruan agraria dan kedaulatan pangan di seluruh dunia.

Dalam kesempatan ini, saya akan memuat tulisan Gusdur – (dikutip dari Buku “ Tuhan Tidak Perlu Dibela” – penerbit LKIS – Tahun 1999 ) agar tidak ‘terlena’ dengan hingar bingar Piala Dunia di sela-sela acara nonton bareng di gardu keamanan, gubug-gubug pinggir sawah,warung-warung kopi, hingga cafe-cafe dan hotel-hotel, khusus untuk penduduk kelas menengah dan atas – namun masih tersimpan niat untuk peduli dan membela petani dan rakyat miskin.

 

Piala Dunia 82 dan Land Reform

Sungguh mati, kawan satu ini membuat bingung orang. Ia mengajukan teka-teki aneh: apakah persamaan antara perebutan Piala Dunia 1982 ini dan land reform?

Siapa tidak garuk-garuk kepala mencari hubungan antar dua hal yang begitu berbeda itu. Menurut jenius kampungan ini (dan semua jenius memang kampungan), ada satu watak pertandingan-pertandingan ‘Mundial 1982’ di Spanyol sekarang, yakni menangnya pola bermain bola negatif.

Contohnya : bagaimana mungkin kesebelasan Jerman Barat, yang harus main sabun untuk bisa lolos ke putaran kedua, setelah kalah dari kesebelasan tingkat sedang Aljazair, dan hanya mampu mencapai semifinal karena perbedaan selisih gol ? Kenapa kesebelasan macam itu bisa memiliki peluang sangat besar untuk jadi juara?

Italia juga bermain negatif, dan itu dilakukannya dengan Cattenaccio. Ia cenderung mencari kelemahan lawan, lantas mempertaruhkan serangan balik sebagai kelebihan.

Demikianlah, siapa pun yang jadi juara ‘Mundial 1982′ tidak akan mampu mengangkat keharuman sepakbola sebagai seni. Piala Dunia menurun kualitasnya, menjadi industri pertukangan. Yang berlaku adalah sikap negatif: menahan gedoran lawan sambil mengintai kelemahan lawan.

Nah, siapa bilang itu tidak sama dengan keadaaan land reform? Pihak tuan-tanah yang memiliki lahan pertanian luas (apakah itu perorangan, ‘keluarga besar’ maupun perusahaan raksasa multi-nasional), tidak pernah ‘menyerang’ dengan sikap positif, mengajukan gagasan-gagasan berharga untuk menjamin keadilan penguasaan tanah sebagai unit produksi. Yang diambil adalah sikap negatif: tunggu saja gedoran kekuatan politik yang menghendaki penataan kembali pola pemilikan dan penguasaan tanah. Nanti toh akan ada kelemahannya.

Kalau land reform dilakukan secara sentralistis, banyak ‘kemenangan’ dicapai tuan-tanah melalui lubang-lubang peraturan dan cara kerja yang dianut birokrasi pemerintahan yang melaksanakan land reform itu sendiri. Kalau didesentralisasikan, dengan jalan diserahkan kepada lembaga tingkat desa seperti LMD, wakil-wakil rakyat di tingkat desa itu akan dibeli dan diteror.

Bukankah lalu mudah sekali dikandaskan cita-cita mulia membagi kembali tanah pertanian, dan dicapai kemenangan di pihak tuan-tanah? Begitulah yang dikatakan kawan sang jenius kampungan: baik perebutan Piala Dunia 1982, maupun perebutan tanah lahan pertanian sepanjang masa, selalu dimenangkan oleh ‘tim negatif’.

Lalu, apa gunanya dibuat kotak pos baru ‘khusus untuk urusan agraria’? Entahlah, yang jelas tidak banyak yang dapat diperbuat para pejabat dibidang agraria, kalaupun masih ingin berebut sesuatu bagi kepentingan masyarakat. Perangkat peraturan tentang tanah belum memungkinkan, karena UU Pokok Agraria dan UU Pokok Bagi Hasil belum ‘diberi gigi’ institusional dan hukum.

 

*Penulis saat ini aktif di Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia

ARTIKEL TERKAIT
Hak Asasi Petani Indonesia Tak Terpenuhi di 2014
Another Indonesia is Possible: Indonesia Tanpa Neoliberalisme Another Indonesia is Possible: Indonesia Tanpa Neoliberalism...
Petani Kakao SPI Nagari Simpang, Pasaman, Sumbar Siap Produk...
Asian People’s Movement Against ADB Asian People’s Movement Against ADB
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU