Piala Dunia, Puasa dan Pilpres di Musim Gadu

Marhaban Ramadhan, selamat datang Piala Dunia dan pilpres di Bulan Ramadhan. Demikian kiranya sukacita petani penggila bola menyambut ketiganya. Wis jan berkah tenan atau jadi berkah semuanya. Mereka sedang akan menjalankan puasa sambil menikmati babak enam belas besar hingga babak final Piala Dunia, dan juga akan memilih presiden pada Pilpres 9 Juli nanti.

Sampai puasa hari ke-7 – versi pemerintah ya –  tim-tim yang berhasil masuk babak semifinal adalah Jerman, Brazil, Argentina dan Belanda – yang mengalahkan Kostarika dengan adu pinalti di babak perdelapan final. Namun yang menyesakkan dari Piala Dunia kali ini adalah tidak adanya wakil negara-negara Asia dan Afrika yang lolos di babak delapan besar. Kalau begini perlu konferensi Asia Afrika yang khusus bahas bola untuk mengangkat derajat Asia-Afrika di mata Dunia. Weleh..

Naa daripada larut dalam kesedihan Bola, lebih baik ikut nimbring dan menikmati nasihat Gus Mus ( Mustofa Bisri)  tentang  Pilpres nanti tepat setelah musim kampanye Pilpres selesai hari ini. Begini nasihat Kyai Ketua Dewan Syuro’ PBNU ini :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya Ahmad Mustofa Bisri

Saudara-saudaraku di manapun Anda berada Marilah kita memilih, mendukung calon presiden dan wakil presiden; yang kita pilih, yang kita yakini Namun tidak usahlah kita bersikap berlebih-lebihan

Kita harus ingat bahwa calon-calon itu semuanya adalah putra-putra Indonesia…

Yang mempunyai kepentingan untuk kebaikan Indonesia

Yang mendukung masing-masing adalah saudara kita; 

juga orang Indonesia yang ingin kebaikan Indonesia lima tahun ke depan, 

LIMA TAHUN ke depan, bukan sampai hari kiamat

Mari kita dukung pilihan-pilihan kita dengan tetap pikiran yang jernih sebagai warga negara Indonesia yang menghendaki kebaikan IndonesiaDengan memohon kepada Allah SWT

Mudah-mudahan Allah meridlai apa yang kita lakukan

Mudah-mudahan dibantu dengan suasana khusu’ Ramadhan,kita dihindarkan oleh Allah Ta’ala dari perilaku berlebihan yang tidak disukai oleh Allah dan Rasulnya

Semoga kita dapat melaksanakan acara rutin pemilihan presiden dan wakil presiden nanti dengan tertib damai amandan kita tetap sebagai saudara apapun nanti yang terjadi

Terima Kasih

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga nasihat ini bisa mendinginkan panasnya musim kampanye yang telah mendera rakyat dan kaum petani sebulan lamanya dengan disertai hembusan janji-janji sorga kedua capres dan sekaligus ‘debu-debu’ kampanye jahat (bukan hitam – rasis deh) – yang mengusung isu Bibit-Bebet-Bobot sang Capres. Teganya dirimu.. teganya-teganya-teganya…mengutip lagu dangdutnya Om Meggy Z.

Bagaimana kaum tani tidak tertarik dengan janji-janji kedua capres  – mulai dari janji kedaulatan pangan, dana untuk desa, irigasi, infrastruktur jalan, benih, cetak sawah baru, bank tani,  pasar lokal hingga janji redistribusi lahan, sementara pada saat ini kaum tani didera – diantaranya oleh kemiskinan, kelaparan, konflik agraria, tekanan pangan impor, ketidakpastian harga, dan saat ini  ancaman di musim Gadu dari April – Juli dan musim kemarau dari Agustus-Oktober adalah hawa panas El-Nino yang berpeluang akan membuat padi puso dan menurunkan produktivitas padi pada tahun ini. Hawa panas ini yang bakal membuat ‘gatal-gatal’ tiga bersaudara Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Bulog untuk segera memutuskan impor beras.

Forum Nasional Petani dan Nelayan Indonesia

Ada hal yang menarik dari penyelenggaraan Forum Nasional Petani dan Nelayan yang digagas oleh Serikat Petani Indonesia (SPI), API (Aliansi Petani Indonesia) dan WAMTI (Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia) pada tanggal 3 Juli kemarin. Seorang petani peserta menanyakan kepada Pembicara dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) – kok berani-beraninya BMKG menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) bila ‘hanya’ sekedar pada level pemahaman informasi data cuaca – mengingat selama ini informasi data cuaca sangat bagus dan hanya dimengerti oleh BMKG dan Tuhan- begitu sindiran utk BMKG. SLI seharusnya memberikan terobosan dengan memberikan transfer teknologi pertanian apa untuk mengambil manfaat dari perubahan cuaca dan untuk itu Kementan yang sebenarnya mengerjakan hal itu atau justru dari kaum petani yang saat ini jumlahnya 26 juta rumah tangga sendiri pengetahuan itu bisa didapat.  Kaum Tani tidak akan kekurangan stok guru alam.Jadi jangan anggap remeh Petani – pesen dari Pak De Jokowi dalam debat Capres-Cawapres terakhir tadi malam ( 5/7/2014).

Namun haqqul yaqin kaum tani sudah pinter untuk memilih Presiden-Wakil Presiden yang akan bertaruh lima tahun ke depan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Tolak uang serangan fajar – kalau ada,  nanti KPK akan bilang sama salahnya pemberi dan penerima. Terkecuali ada ijab-kabul  uang itu berstatus uang infaq dan shodaqoh dari Hamba Allah di bulan puasa. Hayo wani piro untuk ijab-kabul tersebut?

Ingat lho..rakyat perdesaan tidak sebahagia rakyat perkotaan, jadi jangan sampai presiden terpilih nantinya ingkar janji. Siap-siap ya bila ada kaum Tani menggugat..atau mungkin Presiden terpilih nanti perlu digelarkan wayang kulit Semar Gugat –atau wahyu  Cakraningrat agar wahyu yang menclok atau jatuh ke Sang Presiden Terpilih terlepas dan lari sambil menyanyikan lagu ‘Lari Pagi” – karangan Sang Satria Bergitar.

Namun demam Piala Dunia 2014 di Bulan Puasa juga mengingatkan penggalan sejarah ‘masa lalu’ tentang ‘konflik’ khilafiyah atau perbedaan tentang berapa rokaat sholawat tarawih di perdesaan – apalagi yang  kedatangan gerakan pembaruan anti Bid’ah ( tidak sesuai dengan AL-Qur’an dan Hadist titik). Apakah 23 atau 11 rakaat? – Naa munculah guyonan Sang Kyai di suatu Langgar atau Surau untuk mencegah debat kusir dan penyelesaian sesuai adat soal jumlah rokaat sholat.

“ Begini nggih… untuk malam ini jumlah sholawat tarawih di-discount atau dipotong dari 23 rakaat ke  11 rakaat ya”. Begitu jalan tengah yang diambil Sang Kyai – ditengah-tengah jamaah petani.  Tapi rupanya masih saja ada yang tidak puas.

“ Pak Kyai, kalau 11 rokaat bagaimana komposisinya? 4:4: 3 alias dua kali sholat tarawih empat rakaat dan satu kali sholat witir tiga rakaat? Atau 4:4: 2:1 ? atau  dua kali sholat tarawih empat rakaat, satu kali witir dua rakaat dan satu kali sholat witir satu rakaat? “ – tanya seorang jamaah.

 “ Ya karena saya suka sepakbola bertahan, pakai formasi 4-4-2  saja. Formasi yang pernah dipakai Tim Italia ” – jawabSang Kyai untuk ambil jalan tengah kembali – dan diikuti dengan riuh tawa para jamaahnya.

 

*Penulis saat ini aktif di Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia

ARTIKEL TERKAIT
kedaulatan pangan Hari Pangan 2016: Rakyat Berdaulat Pangan, Tolak Perusahaaan...
Dua Periode Pemerintahan SBY, Pembaruan Agraria Belum Dilaksanakan Dua Periode Pemerintahan SBY, Pembaruan Agraria Belum Dilaks...
Masyarakat Banten Tolak Kehadiran Aqua Danone
Pemuda (Harus) Peduli Kedaulatan Pangan
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU