
BOGOR. Pendidikan dan Pelatihan Agroekologi Nasional IV Serikat Petani Indonesia (SPI) resmi ditutup pada Kamis, 13 November 2025. Sebanyak dua puluh empat peserta dari delapan belas provinsi hadir mengikuti pendidikan ini di Pusdiklat Nasional SPI di Bogor, Jawa Barat. Penddidikan yang sudah belangsung selama dua puluh lima hari sejak 20 Oktober lalu ini mengusung tema “Mencetak Kader Muda Agroekologi dalam Membangun Kampung Reforma Agraria dan Kawasan Daulat Pangan untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan.”
Selama dua puluh lima hari menjalani pendidikan para peserta diberikan materi tidak hanya tentang agroekologi, tetapi juga tentang reforma agraria, kedaulatan pangan, hingga UNDROP (Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dan Orang yang Bekerja di Pedesaan). Setelah menjalani pendidikan para peserta akan kembali ke wilayah masing – masing dan mulai menyebarkan apa yang telah dipejalari selama pendidikan.

Kusnan, selaku Kepala Badan Perbenihan Nasional dan Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI sekaligus Ketua Pelaksana Pendidikan, menegaskan bahwa ilmu yang didapat para peserta tidak boleh berhenti di ruang kelas. “Selanjutnya adalah dari teman-teman sekalian mengimplementasikan dan menjalankan apa yang sudah dipelajari di sini di wilayah masing-masing. Kalianlah perpanjangan tangan untuk perjuangan kita, perjuangan reforma agraria, agroekologi, hingga kedaulatan pangan,” ujarnya. Menurutnya, pengetahuan yang telah diterima harus menjadi bekal nyata untuk memperkuat gerakan petani di tingkat basis, sekaligus memperluas pengaruh perjuangan SPI di daerah.
Lebih lanjut, Kusnan mengingatkan bahwa proses tersebut tentu tidak akan mudah. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan kebersamaan di antara peserta. “Pasti ada tantangan di sana, bagaimana kita menghadapi masyarakat yang majemuk. Ketika kita bisa menunjukkan kemampuan kita, dan itu berhasil, pasti kita akan dianggap,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa perjuangan ke depan akan selalu menghadirkan tantangan baru, namun semangat kolektif dan kerja sama adalah kunci agar perjuangan tidak tercerai-berai.

Ketua Umum SPI, Henry Saragih, dalam arahannya menegaskan bahwa para peserta kini telah memiliki pemahaman yang lebih utuh tentang organisasi dan perjuangan SPI. “Sebagai kader SPI, sekarang kalian sudah punya pengetahuan tentang SPI yang demikian jelas. Bukan hanya tentang agroekologi, tapi juga soal-soal umum tentang SPI. Artinya ketika kalian pulang ke kampung nanti tidak bisa hanya sekadar mengatakan, ‘kami tidak tahu selain agroekologi’ tapi sudah tahu tentang yang lainnya, misalnya reforma agraria, kedaulatan pangan, hingga UNDROP,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemahaman ini penting agar setiap kader mampu menjadi penggerak di wilayahnya masing-masing, dengan kesadaran penuh terhadap arah perjuangan organisasi. Lebih lanjut, Henry menekankan bahwa agroekologi bukan hanya pengetahuan teoritis, melainkan keterampilan praktis yang harus terus diasah. “Guru terbaik adalah melalui praktik,” ujarnya.
Ia mendorong peserta untuk segera mempraktikkan ilmu agroekologi di lahan masing-masing, serta tidak ragu untuk berkomunikasi dan melaporkan perkembangan kepada Pusdiklat SPI maupun departemen terkait lainnya.

Edy, peserta asal Yogyakarta, menyampaikan kesan dan pesannya dengan penuh refleksi dan semangat. Ia mengaku banyak hal baru yang dipelajari selama 25 hari pendidikan dan siap untuk menerapkannya di wilayahnya. “Banyak hal yang kami pelajari, nantinya akan kami praktikkan di wilayah kami masing-masing. Di Jogja ada istilah ‘ngèlmu iku kelakone kanthi laku’ artinya ilmu sejati harus dijalani dengan kesungguhan. Di 25 hari ini kita mengusahakan ilmu itu dengan kesungguhan,” ungkapnya.
Ia pun berpesan kepada seluruh peserta agar tidak melupakan ideologi perjuangan SPI yang telah dipelajari selama pendidikan. “Harapannya, kita semua bisa membangun Kampung Reforma Agraria dan Kawasan Daulat Pangan untuk mewujudkan kedaulatan pangan di masing-masing daerah. Semoga teman-teman sekalian selalu dimudahkan dan diberikan kekuatan dalam mempraktikkan apa yang sudah kita pelajari di sini,” pungkasnya.

Mala, peserta asal Sukabumi, Jawa Barat, juga membagikan kesan mendalamnya setelah mengikuti pendidikan agroekologi ini. Ia mengaku bahwa kegiatan ini merupakan pengalaman pertamanya bersama SPI dan memberikan kesan yang sangat berarti. “Pendidikan agroekologi ini adalah kegiatan pertama saya di SPI, sehingga sangat berkesan karena di sini saya belajar banyak hal, terutama tentang agroekologi dan perjuangan SPI,” ungkapnya.
Mala berharap ke depan akan semakin banyak kader SPI yang bisa mengikuti kegiatan serupa agar semangat perjuangan semakin meluas. “Semoga ke depannya akan lebih banyak kader yang hadir dan berpartisipasi di sini. Semoga kita semua dapat mempraktikkan dan turut dalam memperjuangkan cita-cita SPI. Perjuangan di manapun, mari terus menjaga silaturahmi kita, meskipun lokasi kita berjauhan. Semoga kita dapat berjumpa kembali dan tetap dalam satu perjuangan, yaitu Serikat Petani Indonesia,” tutupnya.

Melianus Tebai, peserta asal Papua Tengah yang juga dipercaya sebagai ketua kelas selama pendidikan berlangsung, menceritakan bahwa pengalaman mengikuti pendidikan ini menjadi hal yang sangat berharga baginya. “Pengalaman saya selama mengikuti pendidikan ini baik sekali karena ini adalah hal yang baru untuk saya pribadi. Saya belajar banyak hal tentang bagaimana prinsip-prinsip agroekologi itu diterapkan di kalangan masyarakat, ini menjadi bekal ketika nanti kami kembali ke daerah masing-masing,” ungkapnya. Ia menilai bahwa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama 25 hari ini merupakan sesuatu yang luar biasa, terutama karena membuka wawasan baru tentang bagaimana perjuangan petani dapat dijalankan dengan pendekatan agroekologi yang berkelanjutan.
Melianus berharap semangat dan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti setelah pendidikan berakhir. “Saya berharap ketika kita pulang dari pendidikan ini, tidak hanya selesai begitu saja, tetapi bagaimana ketika kita kembali ke daerah masing-masing untuk menerapkan agroekologi itu di tempat kita. Karena kalau tidak diterapkan, rasanya sayang, rugi sekali,” ujarnya.
Terakhir ia juga menyampaikan rencana tindak lanjut sepulangnya ke Papua Pegunungan, yaitu melakukan konsolidasi di internal organisasi. “Mungkin hal pertama yang akan saya lakukan di sana adalah mengkonsolidasikan terlebih dahulu kawan-kawan di SPI, baik DPW, DPC, bahkan sampai ke basis, supaya mereka semakin tahu tentang ap aitu SPI. Setelah itu, barulah kita bisa mulai melanjutkan kerja-kerja agroekologi itu sendiri,” pungkasnya.
Penutupan pendidikan agroekologi ini menjadi momentum refleksi sekaligus awal dari langkah baru bagi para peserta. Selama dua puluh lima hari, mereka tidak hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga nilai-nilai perjuangan dan semangat kolektif sebagai kader SPI. Dari ruang belajar hingga lapangan praktik, dari diskusi hingga kunjungan lapangan, seluruh proses menjadi pengalaman berharga untuk memperkuat kesadaran bahwa perjuangan kedaulatan pangan dan reforma agraria harus dijalankan secara nyata di wilayah masing-masing. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang telah terbangun, para peserta kini pulang membawa tanggung jawab dan harapan, menjadi penerus perjuangan SPI.