
Bagi banyak petani perempuan, politik kerap terasa jauh dari jangkauan. Namun, deklarasi sayap perempuan Partai Buruh pada Senin (22/12/2025) membuka ruang harapan baru. Momentum ini bukan semata tentang pembentukan struktur organisasi, melainkan tentang upaya menghadirkan suara perempuan pekerja, termasuk petani perempuan, yang selama ini kerap terpinggirkan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.
Pembentukan sayap perempuan Partai Buruh merupakan salah satu langkah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dalam demokrasi, kesejahteraan, dan keadilan gender. Dalam deklarasi tersebut, semangat perjuangan Marsinah, buruh perempuan yang menjadi simbol keberanian melawan ketidakadilan, dihadirkan sebagai pengingat bahwa perjuangan perempuan pekerja tidak bisa dipisahkan dari sejarah perlawanan kelas pekerja.
Wakil Ketua Umum SPI sekaligus Wakil Presiden Partai Buruh Bidang Pertanian, Pangan, dan Agraria, Agus Rulli Ardiansyah, menegaskan bahwa Partai Buruh perlu melakukan afirmasi atau penguatan terhadap perempuan karena suara dan peran perempuan sangat penting. Menurutnya, penguatan tersebut tidak boleh berhenti pada aspek simbolik, tetapi harus menyentuh hal yang lebih substansial, yakni membangun kesadaran politik perempuan. Penguatan kesadaran politik dan perolehan suara perempuan, baik di tingkat desa maupun perkotaan, perlu menjadi tujuan strategis Partai Buruh.
Agus Rulli juga menekankan peran sentral perempuan dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan reforma agraria. Dalam keluarga petani, perempuan terlibat langsung dalam seluruh proses produksi pangan, mulai dari persiapan, penanaman, hingga panen. Peran tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pangan keluarga.
Seiring dengan dideklarasikannya sayap perempuan Partai Buruh, Agus Rulli mendorong agar organisasi ini disertai dengan langkah-langkah konkret sehingga tidak berhenti pada tataran seremonial. Pertama, Partai Buruh perlu segera menjalankan kerja-kerja pendidikan, sosialisasi, dan kampanye mengenai pentingnya peran perempuan dalam menentukan nasib kelas pekerja, termasuk buruh dan petani, baik petani perempuan maupun petani muda perempuan.
Kedua, Partai Buruh harus mampu melahirkan kader dan calon pemimpin perempuan, baik untuk posisi legislatif maupun eksekutif, agar dapat berperan aktif dalam politik nasional. Meskipun terdapat kebijakan keterwakilan perempuan sebesar 30 persen, Partai Buruh diharapkan mampu melampaui kuota tersebut sehingga lebih banyak perempuan terlibat dalam pengambilan keputusan strategis di tingkat nasional.
Ketiga, keterlibatan perempuan juga perlu diperkuat melalui pengisian struktur kepengurusan Partai Buruh di semua tingkatan, mulai dari RT/RW hingga pusat. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya penguatan peran dan partisipasi politik perempuan secara berkelanjutan.
Petani perempuan sekaligus Majelis Nasional Petani SPI, Yarni Herianti, memandang Suara Marsinah sebagai ruang pencerahan. Dengan adanya wadah tersebut bisa memberikan kesadaran politik dan juga pentingnya bagi perempuan dalam menentukan nasibnya sendiri. “Sebagai petani perempuan, saya melihat sekaligus berharap Suara Marsinah sebagai suatu hal yang mencerahkan bagi kaum perempuan secara umum. Saya juga berharap di Suara Marsinah ini, semua petani perempuan itu hak-haknya dibela,” tegasnya.
Yarni juga menyoroti bahwa kerja dan peran petani perempuan selama ini kerap tidak dianggap. Isu kesehatan petani perempuan, misalnya, sering luput dari perhatian, padahal banyak petani perempuan di Indonesia bersentuhan langsung dengan pupuk dan bahan kimia berbahaya yang berdampak pada kesehatan reproduksi maupun fisik mereka.
Pandangan serupa disampaikan oleh petani perempuan SPI dari Yogyakarta, Nesia Aggelita. Ia memaknai deklarasi sayap perempuan Partai Buruh sebagai pengingat bahwa perjuangan petani dan buruh, khususnya perempuan, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Nesia juga menegaskan masih banyak tantangan yang dihadapi petani perempuan, mulai dari ketimpangan akses terhadap tanah dan sumber produksi hingga minimnya ruang aman dalam pengambilan keputusan. Peran perempuan kerap tidak diakui, padahal kontribusi mereka sangat besar dalam menjaga dan mewujudkan kedaulatan pangan keluarga.
Dengan dideklarasikannya sayap perempuan Partai Buruh, diharapkan dapat memperkuat gerakan dan solidaritas di kalangan kelas pekerja, terutama kaum perempuan yang berprofesi sebagai petani, buruh, dan nelayan. Kerja sama dan solidaritas ini penting untuk membangun kesadaran politik. Selain itu, adanya kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong advokasi kebijakan yang lebih adil bagi kaum perempuan.