Solidaritas SPI atas Kekerasan terhadap Petani Indramayu

JAKARTA. Pada 25 Agustus 2013, para petani kecil yang tergabung dalam Serikat Tani Indramayu (STI) melakukan aksi damai dalam rangka penolakan pembangunan waduk Bubur Gadung di wilayah mereka, di Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Aksi ini dilakukan karena pembangunan Waduk Bubur Gadung akan merampas lahan pertanian mereka.

Sekelompok petani yang ingin menuju ke lokasi pembangunan waduk dihadang oleh sekelompok preman yang diduga ingin mengacaukan aksi tersebut. Preman-preman ini lalu melemparkan batu dan kayu  serta memukuli petani secara membabi buta yang mengakibatkan puluhan petani mengalami luka parah. Hal itu menimbulkan amarah bagi petani-petani yang berada di lahan pembangunan waduk. Mereka kemudian membakar satu unit eskavator sebagai bentuk protes terhadap kekerasan yang dialami oleh sesama petani.

Namun kemudian polisi menyerang petani dengan gas air mata dan peluru karet. Untuk menghindari kebrutalan aparat, petani-petani pun berlari untuk menyelamatkan diri. Aparat polisi semakin brutal, mereka mengejar petani-petani yang berhamburan dan menyeret serta memukuli petani. Tindakan tersebut dilakukan tidak hanya kepada petani yang melakukan aksi damai, namun warga yang kebetulan melintas di wilayah itupun ikut menjadi korban kekerasan aparat polisi.

Dalam kejadian itu, 22 petani mengalami luka parah, dan yang lainnya mengalami luka ringan. Polisi kemudian menangkap 5 orang petani, termasuk Sekjen STI, Abdul Rojak.

Menyikapi kejadian ini, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mendesak pihak berwajib untuk segera membebaskan lima orang petani Indramayu yang ditangkap karena memperjuangan hak-haknya. Henry juga meminta agar preman-preman yang melakukan kekerasan terhadap petani diproses secara hukum, sekaligus mengadili aparat kepolisian yang terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

“Kami dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) SPI juga mendesak agar pemerintah setempat menghentikan pembangunan Waduk Bubur Gadung yang akan merampas tanah-tanah petani. Dan pastinya juga mendesak pemerintah segera menyelesaikan konflik-konflik agraria yang terjadi dan  melaksanakan pembaruan agraria sejati demi keadilan sosial,” ungkap Henry di Jakarta, siang tadi (30/08)

ARTIKEL TERKAIT
“Indonesia Darurat Agraria: Luruskan Reforma Agraria dan S...
SPI bangun demplot pertanian berkelanjutan di Kudus SPI bangun demplot pertanian berkelanjutan di Kudus
Akankah Pemerintah SBY Mewariskan Konflik Agraria, Kemiskina...
Melawan Kelaparan
5 KOMENTAR
  1. akhsan berkata:

    Masyarakat hnya menginginkan keadilan …saya sbgai seorang petani sgt mndukung dgn gerakan STI biar pemerintah tidak tidur …lnjutkan semangat bebaskan para petani yg di tahan

  2. dessy berkata:

    setuju, berita harus berimbang. karena dalam perekrutan anggota STI sendiri dengan melakukan intimidasi kepada petani seandainya tidak ikut gabung dg STI atau aksi2 STI akan dibakar gubuknya juga rumahnya. dan itu dilakukan oleh salah satunya oleh sdr watno/epeng. mereka meminta sejumlah uang iuran dari petani (jadi apa bedanya STI dg perhutani?). jangan hanya menyalahkan perhutani tapi STi juga salah. tapi sayangnya sdri tini rahayu tidak mengenal siapa itu watno/epeng yg katanya ayahnya sendiri. apa yg sudah dilakukan oleh watno kepada masyarakat (banyak masyarakat yg mengeluh dan siap bersaksi dg sepak terjang watno yg mengintimidasi masyarakat dan mengancam kalau tidak menuruti watno akan dilaporkan ke komandan STI dan gubuknya akan dibakar dan lahan garapnnya akan dicabut. memangnya siapa elo watno?)

  3. Tini rahayu berkata:

    Y y! Saya setuju SPI dan LSM2 lainnya turun langsung ke lapangan. Agar tau fakta apa yg terjadi.

    Wiiii…hhh..
    Ini ni orang2 yg sekolahnya tidur z,
    berati anda tingkatannya sama dgn kami kaum petani yg minim pendidikan.
    Haduh2 mas broo…

    “Se se se, tapi bpae kita lan wong tani sejene, kita dewek sing nandur tapi Perum sing manen? Aneh y? Brati bribahasae rada ora ampuh y? Soale ws jaman moderen sh. Tenang bae, gusti Allah mah ora turu”
    Y y y mksh kmbli,
    🙂

  4. antiSTI berkata:

    BERITANYA TIDAK BERIMBANG!!!, tolong cari fakta dulu di lapangan jangan sekedar copas dr sumber lain. Kejadian yg tgl 25 agustus lalu merupakan akumulasi kekesalan warga. Sekedar informasi, keberadaan mereka (STI) sangat meresahkan warga dan menciptakan konflik horizontal, mereka sok jadi jagoan penguasa lahan hutan (mengklaim hutan itu milik mereka/seenaknya menebang pohon, kuasai lahan garapan orang lain) mereka terkesan tertutup (ekslusif) tidak mau membaur dengan warga lain, anti pemerintahan, arogan dll. Untuk detailnya silahkan SPI atau LSM-LSM lainnya bentuk tim pencari fakta yang benar-benar independen ke lapanagan cari fakta sebenarnya kemudian ekspos agar benar-benar berimbang dan tidak menyesatkan, jangan sekedar jadi pembela yang membabi-buta. Saya sangat setuju Perum Perhutani direformasi karena memang sudah bobrok, tp saya juga muak dengan orang-orang yang SOK JAGOAN (STI). untuk Tini Rahayu Purtinya bpk. WATNO/EPENG itulah konsekuensi perbuatan “sapa sing nandur kuen sing ngunduh”/siapa yang berbuat dialah yang bertanggung jawab, jadi sabar semua ketentuan Allah jangan salahkan polisi, polisi tidak sekedar menangkap orang kalau tak ada sebab. terima kasih

  5. Tini Rahayu berkata:

    Saya sbgai anak korban penahanan petani indramayu, memohon kpada bpa henry sbgai sekjen SPI, secepatnya agar dpt membantu membebaskan ayah saya pa Watno beserta yg lainnya, yg hingga saat ini belum di bebaskan. Karena ayah saya adalah satu2nya tulang punggung keluarga kami. Dan secepatnya agar dapat menyelesaikan masalah ini. Karena Perum Perhutani di wilayah saya sudah semakin merajalela terhadap kaum petani.

BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU