Solusi Kekeringan dari Petani

Berita_Solusi Kekeringan dari Petani

JAKARTA. Kekeringan yang mengancam Indonesia sudah terpantau di 8 propinsi. Tercatat Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Gorontalo dan Sulawesi Tenggara mengalami kekeringan terparah.

El Nino Southern Oscilation (ENSO) diyakini sebagai penyebab kekeringan. Periode kekeringan diprediksi para pengamat mulai dari Juli hingga Oktober 2015.

Dampak untuk petani jelas terasa. Di beberapa daerah seperti Jawa Timur, tanaman padi berakhir puso. Beberapa daerah lainnya gagal panen. Selain kurang air untuk pertanian, petani juga menderita kekurangan air untuk konsumsi (air bersih).

Untuk itulah perlu respon cepat dari petani dan pemerintah. Respon ini harus segera karena beberapa provinsi yang disebutkan di atas adalah lumbung padi. Gagal panen dan kesulitan tanam padi akan berarti target penyerapan Bulog tidak tercapai—dan kisruh beras dan harga seperti di awal 2015 akan terulang.

Dihubungi di Jakarta, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menyatakan bahwa perlu data akurat dari pemerintah seberapa luas area yang terpapar kekeringan.

“Di satu sisi untuk penanggulangan dan respon cepat, di sisi lain agar tidak jadi alasan untuk impor pangan,” tukas dia.

“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus segera menindaklanjuti dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.”

“Dana talangan panen, tanaman yang puso, harus segera diganti oleh pemerintah. Kekeringan adalah bencana alam, harus respon cepat agar petani aman berproduksi,” kata Henry lagi.

Dalam jangka pendek, solusi yang bisa dijalankan adalah pompa—terutama dari sungai maupun waduk.

“Yang harus dipastikan adalah penerima manfaat pompa tersebut, harus merata,” terang Henry Saragih.

“Ini karena biaya pompa cukup mahal, bisa mencapai Rp 200.000 di pedesaan. Petani butuh 3 hari menyewa pompa untuk airi sawahnya antara luas 0.5 sampai satu hektar. Harusnya ini ditanggung pemerintah,” kata Henry lagi.

Petani juga dihimbau jangan memaksakan tanam di musim kemarau. Dan ini membutuhkan penyuluhan dari pemerintah dan kearifan lokal untuk waktu tanam yang tepat.

“Silakan berkonsultasi dengan pengetahuan tradisional, juga berbagi pengalaman antarpetani di dalam organisasi tani,” ujar Henry.

Untuk jalur informasi, pemerintah diminta membuat respon cepat dalam memberikan informasi perubahan iklim. Informasi ini bisa disajikan via televisi, SMS, bahkan jejaring sosial macam Facebook.

“Di beberapa daerah, petani sudah pintar dan bisa akses informasi via Internet. Tinggal pemerintah mau kasih informasi itu atau tidak, jangan biarkan informasi penting macam ini malah didapat dari sumber yang tidak jelas serta seringkali tidak komprehensif,” tambah dia lagi.

Sementara dalam jangka menengah, pemerintah diminta untuk merehabilitasi jaringan irigasi dan membangun wilayah resapan air. Komoditas pertanian yang boros air juga harus dihindari, seperti pertanian monokultur sawit, jati.

“Sederhananya, di musim kering harus ada peralihan tanam juga seperti menanam kedelai,” pungkas Henry.

Dalam jangka panjang, tentunya tepat untuk menindaklanjuti keputusan Mahkamah Konsitusional tentang pembatalan UU No. 7 2004 tentang Sumber Daya Air, sehingga UU nomor 11 tahun 1974 tentang pengairan berlaku kembali. Pemerintah dalam waktu dekat harus menginisisasi Rancangan Undang-Undang (RUU) Sumberdaya Air yang pro rakyat dan tidak serupa dengan isi UU No.7 tahun 2004 yang telah dibatalkan MK.

“Pemerintah harus mengelola sumber daya air, agar bisa dikelola bersama petani dan masyarakat adat, agar bisa lebih cepat mengantisipasi perubahan iklim dan kekeringan seperti beberapa tahun belakangan,” tutupnya.

 

ARTIKEL TERKAIT
Koperasi Sebagai Gerakan Ekonomi Kaum Tani
Petani Desa Kenconorejo, Wonorejo, Wonokerso dan Ponowareng ...
Usir WTO Dari Pertanian
Obor Perjuangan La Via Campesina Pindah Ke Afrika Obor Perjuangan La Via Campesina Pindah Ke Afrika
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU