SPI bangun demplot pertanian berkelanjutan di Kudus

Serikat Petani Indonesia (SPI) kembali membangun Demplot pertanian berkelanjutan atau yang lebih dikenal dengan pertanian organik, dengan luas lahan 2500 meter, di Dewan Pimpinan Wilayah SPI Kudus, Jawa Tengah.

Demplot ini ditanami semangka dan melon, dengan harapan demplot ini dapat mengintensifkan kegiatan petani menuju petani yang profesional dalam pembudidayaan aneka ragam tanaman pangan. Selain itu, dengan mengembangkan pertanian organik dapat mewujudkan kemandirian organisasi, karena petani sudah tidak tergantung lagi dengan pupuk kimia yang sering langka dipasaran ketika musim tanam tiba.

Sukowati, Ketua Cabang SPI Kudus mengatakan pertanian organik yang dikembangkan para petani salah satu manfaatnya dapat melatih kesabaran, karena kunci keberhasilan dalam pertanian organik untuk organik adalah kesabaran dan keyakinan diri. “Pada dasarnya cara bertani organik merupakan suatu proses bukan suatu yang instan. Akan tetapi apa yang dihasilkan dari produk pertanian tersebut sangat memberikan manfaat yang cukup besar bagi anggota SPI”, ungkap Dia.

Pada kesempatan yang sama, Ali Fahmi Ketua Departemen Organisasi SPI, mengatakan ”Dengan melakukan pertanian organik dapat memulihkan kondisi dan menyuburkan tanah yang semula tidak subur. Karena pertanian organik berarti menggunakan pupuk alami, seperti kompos dan pupuk kandang, serta dapat menjaga kelestarian dan keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitar melalui penggunaan bibit lokal, pemupukan alami, dan menganekaragamkan tanaman pada lahan”.

Selain itu, hasil dari produk pertanian organik lebih sehat, segar, dan aman untuk dikonsumsi secara langsung dan terasa lebih manis karena tidak menggunakan unsur kimia dalam pengembangannya. Karena tidak ada racun yang menempel sehingga vitamin dan mineral dapat optimal diserap tubuh, produknya juga lebih segar dan tahan lama.

”Melalui penerapan pertanian organik petani dapat berusaha tidak merusak dan mengganggu keberlanjutan komponen lingkungan yang terdiri atas tanah, air, udara, tanaman, binatang, dan manusia karena falsafah pertanian organik lebih menekankan harmonisasi dan keselarasan antarkomponen yang mendukung lingkungan alam”, ungkap Ali Fahmi dalam kesempatan memberikan sambutan.