SPI hadiri workshop pertanian berkelanjutan regional Asia di Laos

SPI hadiri workshop pertanian berkelanjutan regional Asia di LaosLAOS. Serikat Petani Indonesia (SPI) mengikuti Workshop “Pertanian berkelanjutan” Regional Asia yang diselenggarakan Oxfam Solidarity Belgium (OSB) di kota Vientiene, Laos, 18-22 November 2009. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi perspektif tentang gerakan dan analisis regional tentang situasi politik, ekonomi, sosial budaya, lebih khususnya mengenai penetrasi transnasional dan institusi WTO, FTA terhadap petani dan produsen skala kecil.

Syahroni, Ketua Departemen Pendidikan SPI, hadir sebagai narasumber mengenai perspektif penguatan organisasi menyikapi situasi regional yang ada. Ia menyampaikan pengetahuannya tentang ke La Via Campesinaan, ke SPI-an, dan analisis regional keadaan sosial, ekonomi-politik dan budaya petani kecil di Asia, serta langkah apa yang harus dan sudah dilakukan sebagai gerakan petani kecil.

Kegiatan yang dilakukan adalah diskusi untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi petani di Laos, Thailand, dan Vietnam. Syahroni sebagai dinamisator dan pengarah sistematika proses diskusi kelompok, mengatakan “Hasil diskusi menemukan akar masalah yang dihadapi petani dan produsen skala kecil antara lain, alat produksi yang minim, penguasaan lahan yang terbatas, benih-benih lokal dan Sumber Daya Alam yang semakin berkurang. Selain itu, infrastruktur tidak memadai serta distribusi hasil panen kurang menguntungkan petani kecil karena negara mereka tergabung dalam FTA,” ungkap Roni.

Lebih lanjut Syahroni menyatakan, untuk membangun kesadaran dalam menegakkan kedaulatan pangan, harus tidak tergantung pada input eksternal hasil produksi perusahaan multinasional. Petani di berbagai belahan dunia harus melakukan tindakan yang nyata, dengan menerapkan pertanian berkelanjutan atau yang lebih dikenal dengan pertanian organik berbasis keluarga yang sudah dilakukan SPI dengan membangun beberapa Demonstrasi Plot (Demplot) pertanian berkelanjutan yang tersebar di beberapa wilayah anggota SPI untuk mewujudkan kedaulatan pangan.

Dengan demikian, untuk mewujudkan kedaulatan pangan antara lain dengan cara mengolah lahan-lahan tidur untuk dijadikan lahan pertanian berkelanjutan, serta mengidentifikasi dan mengumpulkan benih-benih lokal yang dikelola dan digunakan oleh dan untuk petani. Proses produksi harus menggunakan teknologi pertanian berkelanjutan dengan asupan-asupan yang dibuat, digunakan, dan dikontrol oleh kelompok tani, pupuk organik dibuat sendiri serta distribusi dan akses pasar dilakukan secara kolektif, dengan prioritas pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, pasar domestik dan perdagangan yang adil. Yang tidak kalah penting adalah mendorong kebijakan-kebijakan yang melindungi hak-hak petani kecil (regulasi).

Setelah diskusi grup berakhir, Lao Farmer Product menyampaikan bagaimana membangun usaha ekonomi perdagangan yang berkeadilan dan dilanjutkan dengan diskusi masalah gender. Setelah berdiskusi cukup panjang, mereka melakukan kunjungan ke Lao Farmer Product, lembaga yang bergerak di bidang pengolahan pasca panen hasil-hasil pertanian, antara lain, selai nanas, teh, dodol asem, pisang, padi yang diolah secara organik, kemudian dipasarkan melalui jaringan perdagangan yang adil (fair trade).

Keesokan harinya, peserta melakukan kunjungan ke BUCAP sebuah lembaga yang bergerak di bidang riset, kajian, pemuliaan benih-benih padi, dan distribusi benih padi ke kelompok-kelompok tani. Lembaga ini memiliki kelompok-kelompok tani penangkar yang telah mengikuti latihan-latihan pemuliaan benih padi, bekerja sama dengan SEARICE, IRRI Filipina. Kemudian mereka menuju Phone Song Center sebuah pusat diklat pertanian berkelanjutan yang menerapkan sistem pertanian terpadu hasil produksinya antara lain, ayam, babi, buah, bibit, padi, ikan, dan produk pertanian lainnya.