SPI Pasaman Selenggarakan Pendidikan Pertanian Agroekologi

pendidikan_pertanian_agroekologis_SPI_pasaman

PASAMAN. Dalam rangka memperkuat perjuangan organisasi Serikat Petani Indonesia (SPI) dalam mewujudkan kedaulatan dan melawan liberalisasi produksi pertanian, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Sumatera Barat melakukan pendidikan pertanian agroekologi di basis SPI Simpang, Kecamatan Simpati, Kabupaten Pasaman.

Dalam pendidikan yang bertemakan “Mewujudkan Kedaulatan Pangan dengan Mengembalikan Budaya Pertanian yang Tidak Merusak Alam” ini diikuti oleh dua puluh orang peserta yang terdiri dari utusan masing-masing basis yang ada di kecamatan Simpati. Acara ini diadakan dari tanggal 23 – 30 april 2014, dan kemudian dilanjutkan dengan praktek di lahan kolektif basis selama satu bulan ke depan.

Ketua Badan Pelaksana Cabang (BPC) SPI Pasaman Martias menyampaikan pendidikan pertanian agroekologis ini cukup bermanfaat. ia juga berharap ke depannya akan lebih banyak lagi pendidikan-pendidikan, bukan hanya di bidang pertanian agroekologis, namun juga pendidikan soal ekonomi, politik dan budaya.

Sementara itu menurut Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Sumatera Barat Irwan Hamid, pendidikan pertanian agroekologis yang diadakan ini semangatnya adalah melawan ketidakadilan dan liberalisasi sektor pertanian. Akibatnya beban biaya pruduksi petani semakin besar.

“Yang perlu disadari adalah ketergantungan kita pada bahan kimia berupa pupuk dan pestisida sesungguhnya hanya menguntungkan sekelompok orang dan perusahaan pembuat pupuk dan pestisida. Belum lagi semakin tergantungnya petani kepada benih hasil rekayasa genitika yang membuat benih-banih lokal kita semakin hilang di tengah sawah atau ladang kita. Hasil panen kita yang sesungguhnya tidaklah signifikan degan biaya produksi kita harus berhadapan lagi dengan hasil pertanian impor di pasar-pasar tradisional,” papar Irwan Hamid.

Irwan Hamid juga mengharapkan agar pendidikan pertanian agroekologis kali ini mampu melahirkan kader-kader pejuang kedaulatan pangan yang memilih pertanian agroekologis sebagai jawaban dari persoalan yang dihadapi oleh petani akan mahal dan juga langkanya pupuk dan ketergantungan petani akan benih hasil rekayasa genitika

“Pertanian agroekologis ini juga menjadi simbol perjuangan kita melawan liberalisasi sektor pertanian,” tambahnya.

ARTIKEL TERKAIT
Tiga petani Korea ditahan imigrasi Swiss Tiga petani Korea ditahan imigrasi Swiss
Nilai Tukar Petani (NTP) Mei 2016 Naik Tipis, Pendapatan Pet...
Laksanakan Kedaulatan Pangan: Pemuda Pedesaan Menentukan Nasib Mereka Laksanakan Kedaulatan Pangan: Pemuda Pedesaan Menentukan Nas...
Impor Kentang, Petani Dieng Rugi 800 M
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU