Pejuang, Pemimpin, Pengabdi, dan Penggerak Petani Perempuan SPI

JAKARTA. Petani perempuan merupakan salah satu elemen penting dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi petani yang dicitakan. Berbagai aktivitas dan berbagai gerakan perjuangan yang dilakukan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI), tidak pernah terlepas dari daya dukung dari petani perempuan, baik saat berada di garis depan, maupun sebagai penyokong di barisan belakang. Artinya petani perempuan sangat berperan dalam berbagai aktivitas pertanian maupun dalam menunjang suksesnya kegiatan organisasi.

Sebagai satu kesatuan gerakan massa tani, SPI telah menegaskan bahwa persoalan pertanian bukan hanya persoalan laki-laki dan perempuan, tetap lebih pada persoalan untuk menaikkan posisi tawar petani (perempuan dan laki-laki) untuk mewujudkan pembaruan agraria dan kedaulatan rakyat menuju keadilan sosial di negeri ini.

Semakin besarnya tantangan SPI dalam menghadapi berbagai persoalan ketidakadilan yang dihadapi oleh petani, semakin mendorong SPI untuk membuat gerakan ini semakin massif , termasuk memassifkan peran dan perjuangan petani perempuan. Keterlibatkan semua unsur dari keluarga tani, baik itu petani perempuan  dan laki-laki, pemuda- pemudi tani dan anak-anak petani akan semakin menguatkan perjuangan kaum tani ini.

Musuh bersama kaum tani adalah kemiskinan, dimana rakyat semakin menurun tingkat kesejahteraan akibat dari paham pasar bebas dan arus liberalisasi pertanian yang dianut oleh pengambil kebijakan negeri ini, yang semakin mengancam keberadaan petani, khususnya petani kecil. Dengan perjalanan panjang perjuangan petani perempuan untuk melawan berbagai ketidakadilan serta pemiskinan tersebut selama ini, sepatutnya untuk dihargai dan diabadikan sebagai “api perjuangan”, sehingga mampu menginspirasi dan memotivasi para petani perempuan lainnya, terutama mendorong keterlibatan para kaum muda tani.

Oleh karena itu, dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) SPI ke-14 yang jatuh  pada tanggal 8 Juli setiap tahunnya, maka Dewan Pengurus  Pusat (DPP) SPI, dalam hal ini Departemen Petani Perempuan  menginisiasi untuk memberikan Penganugerakan Penghargaan Untuk Petani Perempuan anggota Serikat Petani Indonesia.

Wilda Tarigan, Ketua Departemen Petani Perempuan DPP SPI memaparkan bahwa penghargaan ini diperuntukkan bagi mereka yang selama ini telah aktif memperjuangkan hak-haknya sebagai petani dan aktif mengembangkan nilai-nilai perjuangan SPI melalui praktek-praktek perjuangan petani dan aktivitas pertaniannya yang bertujuan mensejahterakan kehidupan petani.

“Penghargaan ini juga bertujuan untuk semakin memotivasi keterlibatan dan peran aktif petani perempuan dalam perjuangan petani. Dan harapannya peran petani perempuan akan semakin massif, tampil dalam barisan terdepan gerakan kaum tani ini,” papar Wilda di sekretariat pusat DPP SPI di Jakarta (24/07).

Oleh sebab itu, pada puncak peringatan perayaan harlah SPI ke-14 yang dipusatkan di  di Jorong Sibaladuang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Minggu 15 Juli 2012, penghargaan telah ini diberikan kepada empat orang kader petani perempuan SPI. Penghargaan ini terbagi atas empat kategori yakni Pejuang, Pemimpin, Pengabdi, dan Penggerak Petani Perempuan SPI.

Berikut ini profil singkat keempat penerima Penghargaan Petani Perempuan SPI ini:

Pejuang Petani Perempuan

Penghargaan Pejuang Petani Perempuan SPI diberikan kepada Juniar Br. Tampunolon. Seorang ibu yang berusia 47 tahun dan memiliki 12 anak yang salah satunya  diberi nama Campesina yang berarti petani perempuan.  Juniar bergabung dengan SPI sejak ormas ini masih berbentuk federasi dalam Serikat Petani Sumatera Utara (SPSU). Sejak terbentuknya Kelompok Tani Maju Bersatu (pada masa FSPI), Juniar Br. Tampubolon selalu aktif dalam perjuangan di kelompok dalam merebut kembali hak mereka atas tanah yang dikuasai oleh PT Bakrie Sumatera Plantation (PT BSP). Tidak jarang, ibu dari dua belaas anak ini mendapat tindak kekerasan dari aparat kepolisian ketika terjadi bentrok di lapangan. Namun hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang merebut hak nya atas tanah. Bersama dengan petani perempuan lainnya dalam kelompok tersebut, beliau juga selalu berada di garis terdepan dalam setiap aksi-aksi baik aksi di lahan perjuangan maupun aksi demostrasi menyuarakan hak-hak mereka sebagai petani.

Saat ini, Mak Incet, begitu sapaan akrab perempuan ini, juga sedang dikriminalisasi sebagai tahanan luar selama satu bulan dan masa percobaan selama tiga bulan atas tuduhan menguasai lahan tanpa ijin oleh Pengadilan Negeri Asahan. Tuduhan ini ditujukan kepadanya karena mengelola lahan yang selama ini dikuasai oleh PT BSP.

Pemimpin Petani Perempuan

Penghargaan Pemimpin Petani Perempuan SPI diberikan kepada Ernatati, dari Sumatera Barat. Ernatati adalah Ketua Dewan Pengurus Basis (DPB) SPI Solok Bio-Bio, yang semua anggotanya adalah perempuan. Beliau juga adalah inisiator terbentuknya koperasi Bundo Saiyo. Koperasi Bundo Saiyo yang digagas oleh Ernatati bergerak di bidang simpan pinjam karena notabene masyarakat di kampungnya bekerja sebagai petani gambir yang membutuhkan modal yang sangat besar mulai dari proses pembukaan lahan sampai pada masa panen. Hal ini cenderung membuat para petani sangat bergantung kepada tengkulak.

Melihat kondisi yang demikian maka pada tahun 2001, Ernatati mengagas terbentuknya koperasi bersama beberapa orang petani perempuan lainya. Mereka juga mengadakan kegiatan yasinan setiap minggunya dengan cara bergiliran setiap rumah anggotanya, setelah selesai yasinan biasanya akan berlanjut pada kegiatan koperasi dan membicarakan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Ernatati juga berhasil menaikan upah buruh petani perempuan di kampungnya.

Pengabdi Petani Perempuan

Penghargaan Pengabdi Petani Perempuan SPI diberikan kepada Tukiyem, seorang petani dari Ponorogo, Jawa Timur. Tukiyem adalah anggota Panitia Kerja Petani Perempuan (PKPP) Jawa Timur yang dibentuk SPI untuk membantu kerja-kerja pengorganisasian petani perempuan. Saat ini beliau mempraktekkan pertanian organik di lahan yang disewa dari pemilik tanah. Tukiyem adalah pengurus kopersi simpan pinjam dan alumni sekolah lapang SPI tahun 2010. Tukiyem berhasil mengajak masyarakat sekitar desanya dan luar desanya untuk melaksanakan pertanian agroekologi dan membuat demplot di beberapa desa. Tukiyem juga sukses mempraktekkan SRI (System Rice Intensification) dalam tanaman padi, dan melaksanakan pemulian benih terutama benih padi. Pada bulan Juni 2012, ibu Tukiyem mewakili petani perempuan SPI ikut dalam pelatihan agroekologi yang dilaksanakan di Filipina.

Penggerak Petani Perempuan

Penghargaan Penggerak Petani Perempuan SPI diberikan kepada Oom Pramestuty. Petani perempuan yang tergabung bersama Dewan Pengurus Cabang (DPC) SPI Sukabumi ini sukses memperjuangkan lahan pertanian mereka yang dirampas PT Sugih Mukti seluas 700 Ha, yang saat ini telah mereka tanami dengan tanaman pangan.

Bersama-sama dengan anggota petani perempuan lain, Oom juga berinisiatif dalam membuka  warung sembako sebagai usaha bersama, dengan sistem koperasi. Selain itu, Oom juga ikut dalam pelatihan kepemimpinan SPI dan saat ini membuat demplot pertanian organik dengan dampingan dari alumni sekolah lapang.