Teknologi Pertanian Tidak Menjamin Petani Sejahtera

MEDAN. Perkembangan penggunaan teknologi pertanian seharusnya bertujuan untuk meningkatkan hasil dan memenuhi kebutuhan pangan sehingga tidak terjadi kekurangan pangan dan petani pun sejahtera. Setidaknya hal tersebutlah yang menjadi salah satu poin utama yang diungkapkan oleh Henry Saragih, Ketua Badan Pelaksana Pusat (BPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) pada “Seminar Nasional Pertanian Presisi Menuju Kedaulatan Pangan” di Medan, Sumatera Utara (25/11).

Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Dinas Pertanian Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara ini, Henry Saragih juga menekankan bahwa masih banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait dengan penerapan inovasi teknologi.

“Harus dicatat, terkait dengan penerapan inovasi teknologi melalui paket revolusi hijau, pertanyaan yang sampai saat ini belum dapat dijawab diantaranya mengapa petani tetap miskin dan di sisi lain perusahaan agribisnis sukses” paparnya.

Sebagai informasi, pertanian presisi adalah suatu strategi manajemen yang menggunakan teknologi informasi untuk membawa data dari setiap jengkal tanah dalam rangka meningkatkan produksi tanaman, yang memiliki lima tujuan utama seperti  meningkatkan efisiensi produksi, perbaikan kualitas produksi,  penggunaan bahan kimiawi yang efisien, konservasi energi dan perlindungan tanah dan air tanah. Pelaksanaan pertanian presisi ini dengan penerapan teknologi pertanian, seperti penggunaan sensor, GPS (Global Positioning System), GIS (Geographic Information System), dan lain-lain.

Henry Saragih juga memandang bahwa konsep pertanian presisi ini akan sulit untuk diaplikasikan ke petani. Hal ini dikarenakan konsep pertanian presisi menggunakan teknologi yang mahal dan diterapkan pada lahan yang luas. Dengan penggunaan teknologi pertanian, dapat dipastikan bahwa konsep pertanian presisi ini hanya dapat diterapkan oleh perusahaan-perusahaan agribisnis, dan bukan oleh petani yang masih mengalami dengan keterbatasan modal dan akses, serta tingkat kepemilikan tanah yang masih sangat terbatas.

Henry Saragih yang juga Koordinator Umum La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) ini memberikan tawaran konsep penerapan kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan merupakan konsep pemenuhan hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai dengan budaya, diproduksi dengan sistem pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Artinya kedaulatan pangan sangat menjunjung tinggi prinsip diversifikasi pangan sesuai dengan budaya lokal yang ada, yang juga merupakan pemenuhan hak manusia untuk menentukan sistem pertanian dan pangannya sendiri yang lebih menekankan pada pertanian berbasis keluarga, yang berdasarkan prinsip solidaritas, bukan pertanian berbasiskan agribisnis yang berdasarkan profit semata” tandasnya.

ARTIKEL TERKAIT
Hari Aksi Global Melawan WTO & Perjanjian Perdagangan Bebas:...
SPI Kutuk Pembakaran Rumah dan Lahan Petani Merangin
SPI Yogyakarta Minta Pemda Cegah Alih Fungsi Lahan Pertanian
Pendidikan Pengurus DPC SPI Bogor di Cibereum Pendidikan Pengurus DPC SPI Bogor di Cibereum
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU