16 Tahun SPI, Tetap Berjuang Menegakkan Pembaruan Agraria Demi Tercapainya Kedaulatan Pangan

Refleksi_16_Tahun_Serikat_Petani_Indonesia

JAKARTA. Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) merayakan peringatan 16 tahun SPI dengan menggelar sebuah diskusi di sekretariat DPP SPI di bilangan Mampang Prapatan XIV, Jakarta. Diskusi ini bertemakan “Refleksi 16 Tahun Serikat Petani Indonesia: Agenda Perjuangan Petani dalam Agenda Politik Nasional”.

Dalam diskusi ini, Ketua Umum SPI Henry Saragih menceritakan sedikit sejarah terbentuknya SPI yang pada awalnya bernama Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI). Organisasi ini dideklarasikan tanggal 8 juli 1998 di Kampung Dolok Maraja, Desa Lobu Ropa, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara oleh sejumlah pejuang petani Indonesia.

Menurut Henry, kelahiran organisasi petani ini merupakan bagian dari perjalanan panjang perjuangan petani Indonesia untuk memperoleh kebebasan dalam menyuarakan pendapat, berkumpul dan berorganisasi guna memperjuangkan hak-haknya yang telah ditindas dan dihisap oleh rezim orde baru selama 33 tahun. Pada saat deklarasi, dibentuk Badan Pelaksana Sementara yang bertugas mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan perjuangan petani di Indonesia, untuk menjadi anggota FSPI dan melaksanakan kongres pertama. Pada tanggal 22-25 Februari 1999 kongres pertama FSPI berhasil digelar di Medan, Sumatera Utara.

“Kongres pertama menghasilkan kepengurusan FSPI yang berkantor pusat di Medan, Sumatera Utara. Selain itu, FSPI juga membuka kantor perwakilan di ibukota negara, Jakarta. Kemudian, pada tanggal 28 Februari tahun 2003 FSPI melaksanakan kongres kedua di Malang, Jawa Timur. Dalam kongres tersebut ditetapkan bahwa kedudukan sekretariat FSPI dipindahkan dari Medan ke Jakarta,” papar Henry.

Henry melanjutkan, seiring dengan perkembangan jaman, tantangan yang dihadapi organisasi perjuangan kaum tani semakin besar. Kekuatan kapitalis neoliberal semakin meminggirkan rakyat dan kaum tani, sehingga timbul kesadaran untuk mengkonsolidasikan kembali gerakan petani. Dalam kondisi seperti itu, muncul keinginan untuk mengubah bentuk dan struktur organisasi dari yang semula berwatak federatif menjadi organisasi kesatuan.

“Perubahan bentuk organisasi dari federatif menjadi kesatuan secara resmi terwujud pada Kongres III FSPI yang diadakan pada tanggal 2-5 Desember di Pondok Pesantren Al Mubarrak Manggisan, Wonosobo, Jawa Tengah. Pada saat itu, 10 serikat petani anggota FSPI mendeklarasikan diri untuk melebur kedalam organisasi kesatuan yang bernama Serikat Petani Indonesia (SPI),” jelas Henry.

Henry menambahkan, mengenai agenda perjuangan petani dalam agenda politik nasional, ia menuturkan SPI bersama ormas dan lembaga lainnya telah memperkenalkan konsep kedaulatan pangan sebagai alternatif dari ketahanan pangan, dan telah diterima mulai dari kampung hingga dunia internasional. SPI bersama gerakan masyarakat sipil lainnya juga telah beberapa kali melakukan judicial review tentang Undang-Undang yang tidak pro akan petani kecil, seperti UU Penanaman Modal Asing, UU Sistem Budaya Tanaman, revisi Undang-Undang Pangan,

“Akhirnya dalam Pemilu tahun ini SPI memilih sebagai partisan dan mendukung pasangan capres Jokowi-JK yang dipercaya akan mampu mengakomodir isu-isu perjuangan SPI sehingga petani dapat lebih sejahtera, dan kedaulatan pangan tercapai,” katanya.

Refleksi_16_Tahun_SPI

Hadir juga dalam kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Harian Media Indonesia Usman Kansong. Ia mengaparesiasi SPI sebagai ormas tani yang dengan gigih berusaha memperjuangkan kepentingan petani kecil.

“Petani kecillah yang harus diutamakan, karena kalau petani sejahtera Indonesia akan naik kelas, kemiskinan berkurang.¬†Tanah adalah hal utama bagi petani. Reforma agraria memang harus dijalankan di Indonesia, dan jadi agenda sangat penting. Selamat ulang tahun ke-16 untuk SPI,” ungkap Usman Kansong

Gunawan Wiradi, guru besar agraria Indonesia yang turut hadir dalam diskusi ini menyampaikan agar momen ulang tahun ke-16 SPI ini dijadikan ajang introspeksi agar ke depannya SPI menjadi ormas yang lebih besar dan lebih baik. Hadir juga dalam diskusi ini beberapa perwakilan ormas, LSM, dan perwakilan mahasiswa. 

Sementara itu, acara ini sendiri diakhiri dengan buka puasa bersama dan pemotongan tumpeng untuk memperingati 16 tahun SPI.