Benih lokal organik untuk kedaulatan petani

BOGOR. Akses terhadap benih menjadi salah satu permasalahan laten petani di Indonesia. Petani terus dijauhkan dari sistem pertanian yang mandiri dan berdaulat, termasuk dalam hal kemandirian untuk penggunaan dan produksi benih. Sejak revolusi hijau bergulir, penguasaan benih beralih dari tangan petani ke tangan perusahaan industri benih yang mengklaim atas nama teknologi penghasil keunggulan dalam hal produktivitas dan ketahanan terhadap penyakit.

Faktanya, kemajuan teknologi tersebut bukannya semakin mensejahterakan petani. Teknologi yang seharusnya bermanfaat bagi petani sebagai subjek dari kegiatan pertanian tersebut malah justru menjadi pundi penghasil kekayaan bagi para pemilik modal. Petani semakin tergantung terhadap benih hibrida yang semakin hari harganya semakin melangit.

Sebagai contoh, data terakhir menyebutkan bahwa  Industri benih jagung hibrida di Indonesia masih dikuasai oleh PT DuPont. Sebagai pemimpin pasar, dengan produk benih jagung hibrida merek Pioneer, DuPont menguasai market share hingga 35%. Perusahaan yang memilki pasar utama  di Jawa yang mencapai 80-82% ini dalam 10 tahun telah memiliki 27 jenis varietas jagung hibrida yang sudah dikembangkan sebagai hasil kerjasama dengan balai penelitian benih pemerintah.

Atas dasar kondisi tersebut, maka sudah menjadi suatu kewajiban bagi SPI sebagai salah satu ormas tani di Indonesia untuk mengembalikan kedaulatan petani dalam mengakses benih. Untuk itu SPI kemudian mendirikan Pusat Perbenihan Nasional di Bogor Jawa Barat.

Titis Priyowidodo, koordinator Pusat Perbenihan SPI menyebutkan bahwa pusat perbenihan nasional ini merupakan tempat memproduksi benih-benih lokal untuk kepentingan petani terutama petani anggota SPI.

Sampai saat ini terdapat 52 jenis calon benih di bank benih SPI. Benih-benih tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia yang di dapatkan melalui pertukaran dengan anggota SPI di wilayah lain maupun dari petani di negara lain anggota La Via Campesina (Organisasi Petani Internasional).

Benih-benih tersebut disimpan di ruang penyimpanan, untuk selanjutnya calon benih ini akan ditanam di lahan konservasi dan diproduksi sesuai dengan kebutuhan anggota. Penanaman ini bertujuan untuk mengindentifikasikan karateristik benih yang nantinya akan digunakan sebagai bahan kodifikasi dan pelabelan.  Sampai saat ini, baru empat jenih benih yang telah di tanam dilahan konsevasasi, yaitu bayam, pepaya, bengkoang dan kacang tanah.

Titis menambahkan bahwa Bank Benih SPI telah memproduksi dan  menyalurkan delapan benih tanaman ke petani anggota SPI di Bogor, diantaranya adalah bayam, pepaya, kacang tanah, bengkoang, padi ciherang, situ bagending, pandan wangi dan metik susu. Proses penyalurannya dilakukan melalui koperasi. Selain itu juga, anggota SPI di wilayah lain juga telah mengakses benih dari Bank Benih.

“Kebutuhan akan benih anggota kita sangat besar, sampai saat ini kita belum bisa memenuhi semua permintaaan anggota dibasis, untuk itu bank benih melakukan pembelian benih dari petani penangkar eksternal yang juga merupakan anggota SPI  untuk memenuhi permintaan tersebut”, Ujar Titis.

Untuk meningkatkan mutu benih yang dihasilkan, bank benih terus melakukan pendidikan kepada petani-petani penangkar benih dibasis dan menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga riset perbenihan.

ARTIKEL TERKAIT
SPI Jawa Timur Galang Solidaritas Erupsi Kelud
Saatnya Untuk Pengakuan & Perlindungan Hak Asasi Petani & Ma...
Posko Nasional Pemantauan Dampak Kekeringan Siap Bekerja Mak...
Tradisi Slametan (Wilujengan) dalam Masyarakat Agraris
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU