La Via Campesina pada Sesi ke-37 FAO, Petani Kecil Mampu Memberi Makan Penduduk Dunia

ROMA. Delegasi petani La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) menghadiri sesi ke-37 Komite Ketahanan Pangan Dunia (CFS) Organisasi Pangan Dunia (FAO) yang diselenggarakan di Roma Italia untuk menyampaikan proposal yang dikembangkan oleh para petani skala kecil sedunia (19/10). Dalam sesi ke kali ini, La Via Campesina melihat itikad baik dari CFS karena banyaknya partisipasi organisasi masyarakat sipil.

“Ini langkah positif demokrasi, setidaknya forum ini tidak hanya diikuti oleh kelompok-kelompok yang telah gagal dengan sistem pangannya dan tidak berhasil memberi makan masyarakat dunia,” tutur Henry Saragih, Koordinator Umum La Via Campesina.

Henry menyampaikan bahwa deklarasi pemerintah belum mengarah ke keputusan kebijakan yang konkrit. Pemerintah tampaknya siap untuk menganalisa kerusakan yang diciptakan oleh kebijakan neoliberal tapi masih sangat sedikit kemauan politik untuk mengatasi akar-penyebab krisis saat ini dan mengusulkan solusi nyata.

Ibrahim Coulibaly, petani La Via Campesina asal Mali menyampaikan bahwa pedoman penguasaan lahan yang telah dibuat oleh CFS menghasilkan cukup banyak perkembangan yang semakin pro terhadap petani, namun pengadopsian dari isi pedoman ini harus dilakukan sesegera mungkin.

“Negara-negara harus mengakui bahwa hal ini bersifat darurat dan harus segera dilaksanakan sehingga dapat meminimalisir perampasan lahan. Di sisi lain, inisiatif untuk melegitimasi perampasan lahan seperti prinsip investasi pertanian yang bertanggung jawab (RAI) yang dipromosikan oleh Bank Dunia haruslah dikesampingkan selamanya. Harus jelas bahwa akuisisi lahan skala besar bukanlah investasi di bidang pertanian. Ini hanyalah bentuk keserakahan perusahaan-perusahaan besar,” ungkap Ibrahim.

Sementara itu, Javier Sanchez, petani asal Spanyol menyampaikan bahwa ketidakstabilan (volatilitas) harga pangan saat ini adalah akibat dari sistem pertanian dan keuangan yang berbasiskan pasar.

“Untuk mengatasi hal itu, pasar umum dan mekanisme regulasi produksi harus diletakkan di semua tingkatan sekaligus melarang spekulasi atas pangan,” kata Javier Sanchez.

La Via Campesina menilai bahwa sangatlah penting agar analisis dan posisi yang diadopsi pada CFS koheren dengan kebijakan regional dan nasional.

“Kebijakan Pertanian perlu untuk menjamin pengaturan pasar dan produksi serta harga yang menguntungkan bagi produsen. Kebijakan Pertanian Bersama (Common Agricultural Policy) yang saat ini diusulkan di Eropa dan Dewan Pertanian Amerika Serikat sangat berorientasi ekspor dan karenanya mempertahankan model pertanian berbasiskan industri. Efek negatif pertanian model ini cukup tinggi dan mempengaruhi cukup banyak orang,” sebut Xavier Delwarte, perwakilan petani Belgia.

“Petani, nelayan dan produsen skala kecil lainnya adalah solusi pasti untuk memberi makan warga dunia. Kebijakan publik yang didasarkan pada kedaulatan pangan adalah satu-satunya cara keluar dari krisis sistemik. Kebijakan neoliberal mendukung perusahaan-perusahaan transnasional. Oleh karena itu sekaranglah saatnya untuk mendukung petani kecil yang mampu memberi makan dunia,” tambah Henry Saragih yang juga Ketua Umum Serikat Petani Indonesia.

ARTIKEL TERKAIT
Asas Kerakyatan bagi Petani
Mamock: "SPI Adalah Masa Depan Cerah Petani Indonesia"
HUT SPI: Rapat umum petani di Desa Sembalun HUT SPI: Rapat umum petani di Desa Sembalun
SPI Jawa Barat: Tertibkan Tanah Terlantar dan Berikan Tanah...
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU